Penulis Berita: Taufik Hidayat/ Peserta PKU Angkatan 15

PKU UNIDA Gontor – Kewajiban kaum Muslimin terhadap isu-isu Baitul Maqdis menjadi topik pembahasan pada 15 Agustus 2021 atau hari kedua Dauroh Nuruddin Zanki, suatu acara yang diselenggarakan oleh Universitas Darussalam Gontor bekerjasama dengan Minber-i Aksâ Derneği. Pada kesempatan tersebut, Syaikh Dr. Samir Saeed (Peneliti Yerussalem) selaku pembicara menyampaikan pelbagai hal yang berkelindan dengan Baitul Maqdis, mulai dari esensi keberadaannya hingga bentuk respon umat Islam terhadapnya. Sedangkan, Al-Ustadz M. Kali Akbar bertindak sebagai moderator. Dengan kerjasama antara pemateri dan moderator, sehingga acara tersebut dapat berlangsung dengan baik.

Salah satu yang ditekankan oleh Dr. Samid Saeed adalah niat. Beliau berkata,”al-niyyah lā budda an yatarakhkhas Fisudhūrinā li da’wah Filisthin, artinya penting untuk menguatkan niat dalam berdakwah tentang Palestina, khususnya al-Quds. Walaupun berlokasi sangat jauh dari tempat tersebut dan masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, tetap ada hal-hal yang mampu dilakukan asal dengan niat yang benar. Dengan kata lain, Baitul Maqdis juga dapat diartikan sebagai suatu hal yang sangat penting bagi umat Islam seluruhnya. Meskipun berlokasi di Palestina, Baitul Maqdis bukan hanya milik rakyat Palestina, sebab esensi keberadaannya merupakan salah satu pusat Hadhoroh Islamiyyah.

Dalam pemaparan berikutnya, Dr. Samir Saeed menyampaikan, bahwa dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang erat kaitannya dengan al-Quds, seperti ayat yang menceritakan Nabi Musa A.S., Nabi Harun A.S., Fir’aun, Bani Israil, Yahudi, dan seterusnya. Ayat tersebut juga dapat berperan untuk memahamkan kaum Muslimin pada umumnya perihal kedudukan al-Quds. Selain itu, pelbagai upaya melalui produk pemikiran maupun metode berpikir telah dan sedang dilakukan oleh pihak lain, Sikon tersebut pada akhirnya akan beresiko memunculkan sikap pengabaian terhadap al-Quds dan Baitul Maqdis akan menjadi “padam”.

Lantas, langkah-langkah seperti apa yang harus ditempuh oleh umat Islam, sehingga al-Quds dapat benar-benar merdeka dan menang. Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Samir Saeed, minimal terdapat tiga cara untuk mewujudkan hal tersebut. Pertama, hidupkanlah jiwa seorang muslim dengan cinta beramal sholeh dan jihad untuk Baitul Maqdis termasuk amal sholih. Kedua, perlu adanya pengajaran tentang al-Quds baik melalui literatur maupun berita. Ketiga, jihad untuk Baitul Maqdis dapat berubah dari fardhu kifayah menjadi fardhu ‘ain dalam sikon tertentu. Ketiga cara diatas dapat dipandang sebagai bentuk jihad untuk menuntaskan pelbagai isu Palestina khususnya al-Quds.

Dauroh kemudian berlanjut dari sesi presentasi menuju tanya-jawab. Hasilnya terdapat dua pertanyaan dari peserta, salah satunya bertanya tentang pendidikan anak Palestina. Dr. Samir Saeed menjawab, bahwa anak-anak Palestina dididik untuk beriman, berjihad sesuai kemampuan, menjadi hafidz al-Qur’an, bermajelis taklim, dan menargetkan syahid. Konsep-konsep tersebut sangat penting untuk ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil, karena mereka sedang dalam masa keemasaannya untuk dididik. Tetapi, bukan berarti yang berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa gugur keharusannya untuk memahami hal berkenaan Baitul Maqdis ini, karena pendidikan melingkupi seluruh garis umur manusia. Terakhir, jika isu-isu al-Quds tak kunjung reda, maka kaum Muslimin tak boleh abai dan diam saja, berjihadlah sesuai kemampuannya dengan niat lillahi ta’ala. (Editor: Rizky, Rofiqi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.