Oleh: Agus Riyadi, S.Pd.I, M.Pd.

Makna Silaturahim

Dalam berinteraksi masyarakat Indonesia sering menggunakan istilah “silaturahmi”, untuk mengungkapkan makna menyambung kasih sayang, dan masih jarang yang menggunakan kata “Silaturahim”. Padahal kedua kata tersebut memiliki arti/makna yang berbeda, walaupun susunan huruf-hurufnya hampir sama, bedanya hanya pada akhiran huruf ‘ha dan mim. Silaturahmi berasal dari kata “silah” yang bermakna menyambung, dan “rahmi” yang bermakna “rasa nyeri yang dirasakan seorang wanita saat melahirkan”. Sementara silaturahim berasal dari kata “silah” yang bermakna menyambung, dan “rahim”. Jadi, jika yang kita maksud adalah kegiatan menyambung kasih sayang, maka jangan keliru, gunakanlah kata “Silaturahim”.

Aplikasi makna silaturahim yang banyak di praktekkan masyarakat, di antaranya dengan saling mengunjungi, bertandang, bersama-sama dalam berbagai momentum, bertegur sapa, ataupun dengan saling tolong menolong. Akan tetapi, pada makna yang lebih luas, sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah, silaturahim juga bermakna menyambungkan sesuatu yang terputus. “Bukanlah yang dikatakan silaturahim itu adalah membalas kunjungan atau pemberian, melainkan silaturahim itu ialah menyambungkan apa yang telah terputus (HR. Bukhari Muslim).

BACA JUGA: Pendidikan Akhlak Mewujudkan Generasi Teladan

Keutamaan Silaturahim

Diantara keutamaan menjaga silaturrahim adalah; pertama, sebagai tanda / ciri orang beriman. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah saw bersabda “barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghubungkan kasih sayang/tali persaudaraan/ silaturahim, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, digolongkan sebagai orang yang berakal dan dapat mengambil pelajaran/ Ulil Albab. Di dalam QS. al-Ra’du ayat 19- 21, Allah menjelaskan, bahwa di antara kriteria orang yang berakal dan dapat mengambil pelajaran, adalah “orang yang senantiasa bersilaturahim”, yakni yang menghubungkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menghubungkan. Jadi, kalau kita merasa sebagai orang yang punya akal, tidak ada pilihan lain, wajib silaturahim.

Ketiga, Salah satu risalah penting yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Sahabat Amr bin Abasah RA pernah menyampaikan, saya datang kepada Nabi saw di Mekkah, awal kenabian, kemudian saya bertanya kepada beliau, “Apakah kedudukan tuan? Beliau menjawab,” Nabi” Apakah Nabi itu? Jawab beliau “Allah mengutus aku” saya bertanya kembali, untuk apa Allah mengutus tuan? Beliau/Rasulullah saw menjawab: “Allah mengutus aku untuk menyambungkan tali persahabatan/kasih sayang, menghancurkan berhala dan mengesakan Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatupun.

Keempat, Salah satu amal yang menyebabkan pelakunya masuk surga.
Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Alansharyra, bahwasanya ada seseorang bertanya:” wahai rasulullah, beritahukan kepada saya sesuatu amal yang dapat memasukkan saya ke surga. “Rasul menjawab. Yaitu kamu menyembah Allah dan jangan mempersekutukannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menghubungkan silaturahim.

Urgensi Silaturahim Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin

Islam adalah agama dan pandangan hidup (worldview) yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik (al-A’mal al-Shalihah). Amalan dalam Islam tidak hanya berupa ibadah seperti shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. puasa, zakat dan sebagainya melainkan juga tersenyum dan menjalin tali silaturahim. Menjalin silaturahim adalah salah cara mewujudkan Ukhuwah Islamiyah dan dapat dilakukan dengan cara mengunjungi sanak keluarga dan saudara terdekat. Diantara hikmah silaturahim selain membuat orang lain yang kita kunjungi merasa senang, silaturahim memiliki banyak urgensi dan keutamaan.

Berikut adalah urgensi menyambung tali silaturahim perspektif Imam Abi Lays Nashr bin Muhammad dalam kitab tanbih al-Ghafilin; Pertama, mendapatkan Ridho Allah SWT. Kedua, Idkholu Surur; Membuat orang lain (mukmin) merasa senang. Ketiga, Farh al-Malaikat; Membahagiakan Malaikat, artinya menjadikan malaikat senang untuk mencatat kebaikan hamba Allah. Keempat, Husnul Jazaa; Sebaik baik pahala, yaitu dengan menyambung silaturrahim merupakan suatu amalan yang sangat berpahala besar.

Kelima, Idkholul ghommi ala iblis; yaitu membuat Iblis menjadi bingung. Keenam  Jiyadatun fil ‘Umri; artinya dengan silaturrahim dapat memperpanjang Usia. Ketujuh, Barakatun fi rizqi; yaitu menjadikan rizki seseirang menjadi berkah. Kedelapan, Suruur Amwaat atau membahagiakan orang yg sudah meninggal. Kesembilan, Jiyadatun fil mawaddah atau silaturrahim dapat menambah kasih sayang. Dan terakhir, Kesepuluh Jiyadatul Ajri ba’da mautihi atau menambah pahala seseorang setelah meninggal dunia. Itulah sepuluh urgensi dari silaturrahim yang dipaparkan. (Imam Abi Lays Nashr bin Muhammad, Tanbihul Ghafilin, Darul Fikri, 2008 hlm 67)

Dalam hal ini Anas bin Malik menyebutkan bahwasannya terdapat tiga orang dalam naungan Allah di hari kiamat; pertama, Orang yg memperbanyak silaturrahim ketika masih hidup. Kedua, Seorang perempuan bersama anak anaknya (yatim) karena ditinggal suaminya (meninggal dunia). Ketiga, Seseorang yg bersedekah berupa makanan atau minuman kepada fakir miskin dan anak yatim, kemudian orang yang ia beri sedekah itu mendoakannya.

Selain dengan menjaga tali silaturrahim kepada saudara ataupun kerabat, terdapat lima golongan orang yg akan di luaskan rizkinya adalah sebagai berikut; Pertama, Orang yang mendawamkan shadaqah (sedikit maupun banyak). Kedua, Orang yang selalu menjaga silaturrahim (dekat atau jauh). Ketiga, Orang yang mendawamkan wudhu (tidak isyrof terhadap penggunaan air). Keempat Orang yang taat kepada orang tuanya (birrul waalidain). Kelima, Orang yang mendawamkan taat kepada orang tuanya (birrul waalidain). Tanbihul Ghafilin, Darul Fikri, 2009 hlm 68.

Hikmah Silaturahim

Berbagai penjelasan dalil banyak berbicara tentang hikmah silaturahim. Barangsiapa menginginkannya, maka lakukanlah silaturahim dan tidak menundanya. Diantara hikmah silaturahim; pertama, dipanjangkan umurnya. Manusia hidup sebagai makhluk sosial, ia tidak bisa hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain. Orang yang sering bertemu dan bertatap muka dengan banyak orang, suka berinteraksi dan tidak menyendiri, insya Allah memiliki potensi lebih sehat dibandingkan yang tidak mau bergaul, menyendiri dan tak mau bergerak.

BACA JUGA: Derasnya Arus Liberalisme Lunturkan Nilai-nilai Islam

Paling tidak, dengan berinteraksi dengan berbagai kalangan, ia makin menyadari bahwa ternyata setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, setiap manusia memiliki permasalahan hidupnya masing-masing, sehingga dia tidak berpikir bahwa “dialah yang paling menderita hidupnya” Ternyata banyak orang lain yang juga punya masalah. Kesadaran ini membuat rasa syukur makin muncul dan sekaligus belajar sabar kepada orang lain. Mata batin dan jiwa pun tenteram, peluang sehat menjadi lebih dekat.

Kedua, dimurahkan rezekinya. Dari Anas bin Malik RA, katanya, saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang ingin supaya dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (HR Bukhari). Dengan silaturahim makin banyak teman dan relasi, itu maknanya makin banyak akses informasi, akses dan peluang pasar untuk bisnis, dan akses-akses kebaikan yang lainnya.

Ketiga, menumbuhkan jiwa persatuan dan semangat tolong menolong. “Tangan Allah berada dia atas jama’ah/bersatu. Persatuan adalah rahmat, dan perpecahan adalah adzab. Tidak dapat dipungkiri, salah satu yang menumbuhkan menyatu dan bersaudara adalah aktivitas menyambungkan kasih sayang/silaturahim. Dengan ini juga bisa dibangun kesamaan visi dan pemahaman tentang suatu hal. Jika visi dan pemahaman sudah searah, tentang berbagai solusi, menjadi sesuatu yang mudah. Wallahu A’lam bisshawab.

Penulis adalah alumni program kaderisasi ulama (PKU IX) Unida Gontor.
Artikel ini sudah pernah dimuat di Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.