Penulis Berita : Taufik Hidayat/ Peserta PKU Unida Gontor Angkatan XV

Saat ini umat islam sedang menghadapi berbagai macam tantangan baik internal maupun eksternal. Diantara tantangan internal itu adalah terjadinya kelesuan pemikiran atau kejumudan pemikiran yang salah satu implikasinya memicu perpecahan di kalangan umat. Sementara, tantangan dari sisi eksternal datang dari peradaban Barat yang bercorak materialisme, kapitalisme, nihilism, dan pragmatism hingga mampu merusak pemikiran umat serta merubah keimanan umat Islam. Untuk menghadapi tantangan ini, sebuah ikhtiar yang dikenal sebagai Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor diadakan.

Satu tahapan akhir dalam rangkaian aktivitas PKU adalah pelaksanaan Webinar Pemikiran dan Peradaban Islam, kali ini berkolaborasi dengan UIN Alauddin Makassar pada Senin (15 November 2021).  Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mendiskusikan beberapa bahasan, diantaranya “Konsep Keadilan ‘Feminisme Islam’: Tinjauan Kritis” oleh Ghina Saniawati A., S.Ag. selaku pembicara, “Konsep ‘Islam Nusantara’: Kajian Historis Kritis” dipresentasikan oleh Aida Hayani, M.Pd., serta Arifin Hanafi, S.Ag. sebagai pemateri “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan dalam Civil Religion di Indonesia”. Diawali sesi sambutan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Darussalam, M.Ag. hingga sesi epilog yang diisi oleh Nofriyanto, M.Ag., alhamdulillah seluruh rangkaian acara dapat berlangsung lancar.

Baca juga : Mengkaji Ulang Toleransi, Kebahagiaan dan Pembangunan Menurut Pandangan Islam

Pada sesi tanya-jawab, terdapat salah satu pertanyaan yang cukup mendalam dari peserta. Pertanyaan tersebut diajukan kepada Arifin, yakni “Jika diperhatikan, fenomena kemunculan Civil Religion di Indonesia tidak lepas dari peran pemerintah yang masih belum dapat mendudukkan makna ‘Kebebasan Beragama’ dan cenderung mengarahkan pemahaman pada ‘Moderasi Beragama’. Apa langkah yang bisa diambil untuk meluruskan kesalah-pahaman ini?”. Dalam jawabannya, Arifin menyebut, bahwa ada beberapa upaya untuk menjawab persoalan tersebut, yakni moderasi bukan berarti liberalisme dan humanisme sekular serta wasatiyyah sebagai makna dari moderasi.

Secara historis, moderasi beragama dalam konteks Civil Religion memang berkaitan dengan generalisasi trauma sejarah Barat (Husaini, 2005, p. 29) serta sebuah konsep yang lahir dari humanisme sekular dan liberalime (Zarkasyi, 2021, p. 167). Sedangkan, Islam berbeda akar sejarahnya dengan Barat, dan tidak sama dengan pemahaman yang dimunculkan oleh worldview Barat. Oleh karena itu, jika makna moderasi beragama diartikan dengan menerima liberalisme dan humanisme sekular, maka jelas tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan mencederai agama-agama khususnya Islam.

Baca juga : Perjuangan Menjernihkan Kebenaran di Era Digital

Dalam Islam, moderasi dimaknai sebagai wasatiyyah yang secara bahasa berasal dari kata wasat dalam Bahasa Arab. Menurut Wahbah al-Zuhayli, wasat adalah sifat pertengahan di antara melampaui batas. Artinya, seorang yang berpaham hal ini, sebab mampu memadukan antara ilmu dan tindakan (al-Zuhayli, 1997, p. 6). Untuk menerapkannya, paling tidak memerlukan pengetahuan mengenai Fiqh} Al-Maqāsid, Fiqh al-Awlawiyāt, Fiqh al-Muwāzanat, dan Fiqh al-Mālāt (Shihab, 2019, p. 182-183). Maka dapat dipahami, bahwa moderasi yang sebenarnya justru bukan menolak syariat Islam dijalankan secara menyeluruh (Noeraini, 2020, p. 3), bukan pula mengakui semua agama adalah benar, pun bukan melestarikan budaya masyarakat yang sangat jelas kesyirikannya dalam pandangan agama.

Kekeliruan dalam memahami moderasi beragama dapat menjadi celah bagi tercapainya implementasi konsep Civil Religion di Indonesia. Bila hal ini dibiarkan saja, maka konsekuensinya dapat berupa ketika umat Islam melakukan aktivitas seperti pacaran, meminum  khamar, zina, dan lainnya merupakan hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan. Namun ketika umat Islam yang lain menjalankan aktivitas sesuai dengan aturan agama ataupun mendakwahkannya malah dikatakan radikal dan melawan kebebasan manusia. Maka, wajar bila ada penilaian, bahwa upaya moderasi agama tidak lain adalah upaya yang dilakukan untuk menghadang dakwah Islam dan kebangkitan kaum muslimin. Dengan kata lain, sangat penting bagi kita untuk tidak berdiam diri atas permasalahan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.