pku.unida.gontor.ac.id-Pada hari ke-3 di Yogyakarta Rabu (11/12) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi tuan rumah seminar pemikiran dan peradaban Islam. Diadakannya seminar tersebut adalah hasil kerjasama antara UMY dengan UNIDA Gontor untuk meningkatkan keilmuwan mahasiswanya, khususnya dalam pemikiran dan peradaban Islam. Seminar tersebut digelar di Ruang Amphe Teater E7-B Gedung KH. Ibrahim UMY.

Didalam sambutan dari pihak UMY, terdapat 3 pembicara yaitu; Fajar Ramadhan (selaku ketua panitia),  AL-Kahfi (selaku gubernur badan eksekutif mahasiswa Fakultas  Agama Islam), dan Dr. Muhammad Zaky (sebagai wakil Dekan Fak. Agama Islam UMY) sedangkan dari pihak UNIDA adalah Dr. Imam Kamaluddi . L.C, M.Hum selaku pemberi Prolog Seminar pemikiran dan Peradaban Islam yang didalamnya Dr Imam Kamaluddin menekankan pentingnya peran Islamisasi dalam Kehidupan. Ia mengatakan, “Islam tidak hanya memiliki hubungan horizontal, akan tetapi juga hubungan vertikal”, pernyataan ini dikarenakan banyak problem di negara-negara yang memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi, diantaranya adalah negara Finlandia. Walaupun ia masuk dalam kategori negara yang memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi, tetapi juga termasuk negara yang memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi. Tutur Ustadz Imam Kamal.

Pada seminar kali ini diisi oleh 3 pemateri, yaitu Muhammad Kholid (Muhammad Syahrur: Konsep Milkul Yamin Sebagai Tinjauan Kritis), Martin Putra Perdana (Islamisasi Sebagai Paradigma Keilmuan), dan Irfan Wahyu Syifa (Mendudukan Kembali Pendidikan Islam di era Disrupsi). Dalam penyampaiannya, Muhammad Kholid menekankan bahwa konsep Milkul Yamin Muhammad Syahrur sama dengan konsep Zina dalam Islam. Padahal dalam konsep Milkul yamin yang sebenarnya dalam Islam adalah dengan tujuan memerdekakan budak. Ia mengatakan, “Milkul yamin merupakan sarana memerdekakan budak”.

Sedangkan dalam pernyataan Martin Putra Perdana, ia menyakatan bahwa diantara problem keilmuan sekarang adalah banyak yang mengatakan bahwa ilmu itu bebas nilai dan Islamisasi itu tidak diperlukan dalam ilmu tersebut. Menurutnya keilmuan sekarang banyak dikuasai oleh  Barat yang hanya menjadikan fenomena yang terlihat sebagai obyek utama. Maka dari itu perlu dilakukan Islamisasi pada keilmuan sekarang, agar tidak terjebak dalam pemikiran Barat. Ia mengatakan, “Islamisasi itu adalah menghilangkan sesuatu yang tidak berkaitan atau bertentangan dengan ajarang Islam, dan memasukkan nilai-nilai keislaman kedalamnya”. Dan dalam pernyataan Irfan Wahyu Syifa, ia menegaskan bahwa metode yang ditawarkan pada era 4.o ini, salah satunya adalah MOOCs bukanlah metode utama dalam pembelajaran. Karena didalamnya terdapat penghilangan beberapa nilai-nilai metode pembelajaran Islam yang terdahulu, salah satunya adalah transfermasi  adab atau akhlak kepada anak didik yang syarat utamanya adalah tatap muka dan bermuajahan dalam satu tempat dll.

Sebelum mengakhiri seminar pemikiran dan peradaban Islam, Ust. Hasib Amrullah M.Ud selaku pembimbing PKU 13, memberikan Epilog. Dalam penyampaianya, Ustadz Hasib memulai dengan pertanyaan, “mana yang lebih dipilih, Pengilmuan Islam atau Islamisasi Ilmu?”. Ustadz Hasib membedakan, dalam pengilmuan Islam, Islam dipandang sebagai budaya yang perlu diteorikan agar menjadi suatu pengetahuan. Sedangkan dalam Islamisasi Ilmu, Islam dipandang sebagai suatu peradaban, yang misi utamanya adalah mengebalikan ilmu tersebut kepada fitrahnya.

 

Rep.
Faizin Sholeh

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.