Oleh: Lisa Aulia/ Peserta PKU angkatan 15

          Teori Oedipus complex yang dicanangkan oleh Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa merupakan naluriah bagi anak laki-laki dan perempuan untuk memiliki keinginan untuk berhubungan seksual dengan orang tua mereka. Teori ini terinspirasi dari lakon yang diciptakan oleh Sophocles dengan nama yang sama walaupun penis envy yang melekat kepada anak perempuan dikembangkan oleh Freud di kemudian hari. Konsep ini kemudian menyatakan bahwa perempuan berusaha mengatasi trauma tersebut dengan menjadikan ayahnya sebagai indikator kesempurnaan dan subjek yang harus dimiliki sehingga timbullah fantasi untuk melahirkan anak dari ayahnya sendiri. Selain itu, Sigmund Freud berpandangan bahwa aktivitas-aktivitas yang dilakukan anak perempuan kental akan fantasi yang berhubungan dengan ayahnya seperti kesukaan menyiram Bunga yang diidentikkan dengan keran air sebagai penis ayahnya. Begitu konsep yang berawal dari lakon fiksi ini dikalungkan kepada realitas maka akan menimbulkan berbagai ketimpangan terutama dalam mendefinisikan fitrah manusia diciptakan dengan dua jenis kelamin yang berbeda.

Baca juga: Ekonomi, Kesejahteraan, dan Ketimpangan Sosial.

Konsep Oedipus Complex

Oedipus complex pada dasarnya terinspirasi dari lakon Oedipus Rex oleh Sophocles. Lakon ini menampilkan betapa kentalnya nuansa tragedi dari seorang Oedipus yang pada akhirnya mengetahui bahwa wanita yang ia cintai adalah ibunya sendiri dan laki-laki yang dia bunuh adalah ayahnya. Titik kesadaran itulah yang menciptakan tragedi dalam kisah hidup seorang pahlawan yang tidak lain mendapat kekuasaan atas kematian ayahnya sendiri. Ibunya yang mengetahui hal tersebut lebih memilih bunuh diri dan membiarkan anaknya menyaksikan akhir tragis atas kisah cinta yang tidak biasa dan “takdir” yang kejam. Lakon ini kemudian yang menginspirasi Sigmund Freud dengan teorinya yang menggunakan nama yang sama dengan lakon Sophochels tersebut yaitu Oedipus complex.

Definisi Oedipus complex kemudian tidak hanya mencakup fenomena keinginan anak laki-laki terhadap ibunya namun juga anak perempuan terhadap ayahnya. Freud berpendapat bahwa Oedipus complex merujuk kepada keinginan anak untuk memiliki hubungan seksual dengan orang tua kandung yang berbeda jenis kelamin dengannya. Perasaan atau keinginan seksual ini kemudian dipandang universal atau terjadi pada seluruh manusia.  Pada umur 4 dan 6 tahun, anak-anak akan memiliki fantasi yang dikarenakan hasil dari masturbasi yang dianggap normal oleh Freud dan fantasi tersebutlah yang membuat anak-anak membayangkan berhubungan seksual dengan ibunya sendiri walaupun ia memahami bahwa keinginan seksualnya tersebut akan membuatnya dikebiri oleh ayahnya. Ketakutan akan dikebiri juga akan muncul saat mereka diancam atau ketika anak melihat vagina. Atas ketakutan terhadap kebiri itulah yang menghentikan Oedipus complex terhadap anak laki-laki. Namun berbeda dengan anak perempuan yang meyakini bahwa mereka telah dikebiri namun mereka amat menginginkan untuk memiliki penis yang berasal dari trauma sejak mereka lahir. Keinginan ini kemudian digantikan oleh keinginan untuk melahirkan anak dari ayah mereka. Berbeda dengan anak laki-laki, anak perempuan terjebak atas trauma yang mereka bawa sejak lahir yaitu ketiadaan penis pada tubuh mereka dan kedua fenomena tersebut dianggap merupakan warisan gen yang dibawa sejak lahir.

Baca juga: Kebebasan dalam Islam.

Kritik terhadap Konsep Oedipus Complex

Cara Sigmund Freud dalam mengambil inspirasi dari sebuah lakon dengannya dikalungkan terhadap realitas telah memunculkan ketimpangan sendiri. Lakon Oedipus Rex adalah sebuah karya sastra yang bebas diinterpretasikan sehingga tidak memiliki indikator kebenaran. Kisah Oedipus Rexpun tidak merepresentasikan pembawaan alamiah seorang anak laki-laki untuk mencintai Ibunya sendiri dan kesadaran akan fakta tersebutlah yang menciptakan tragedi dimana sebuah keluarga hancur dikarenakan ramalan yang menjadi ciri khas karya sastra Barat. Terlihat bahwa tidak ada relevansi antara ramalan dan fakta bahwa karya fiksi dapat menjadi titik pijak yang obyektif dalam menyatakan bahwa anak-anak cenderung memiliki fantasi untuk berhubungan seksual dengan orang tua mereka. Sehingga terlihatlah ketimpangan berdasarkan asal mula inspirasi tersebut.

Selain itu, Islam sudah sangat indah menjadikan perempuan dan laki-laki sebagai dua jenis kelamin yang berperan sesuai dengan fitrahnya. Dalam Islam, Allah SWT jelas berfirman di surah An-Nisa ayat 34 bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan sesuai dengan peran mereka masing-masing sehingga apa-apa yang melekat kepada mereka sesuai dengan fungsi dan peran yang Allah SWT berikan. Laki-laki adalah pemimpin sehingga bertugas menafkahi dan melindungi sedangkan perempuan adalah sumber peradaban bagi anak-anaknya dan sumber kasih sayang dan kehangatan bagi keluarganya. Sehingga fungsi dan peran laki-laki dan perempuan memang berbeda namun Allah SWT di surah al-Hujurat ayat 13 memandang setara antara keduanya berdasarkan ketaqwaan mereka bukan atas posisi, dominasi, ataupun materi. Itulah mengapa bahwa Islam menolak melihat manusia berdasarkan jenis kelaminnya karena perempuan diciptakan bukan sebagai jenis kelamin yang terbelakang ataupun terbawah. Konsep Oedipus complex yang kemudian menganggap perempuan telah membawa trauma sejak lahir dikarenakan tidak memiliki penis merupakan pemahaman yang dangkal dan sangat memihak kaum laki-laki seakan lahir menjadi perempuan adalah tragedi awal kehidupan manusia tanpa penis.

Penutup

       Konsep Oedipus complex pada dasarnya sudah bermasalah dari awal terinspirasi oleh lakon fiksi yang multi-interpretasi dan sarat budaya yang kemudian menciptakan ketimpangan. Begitu konsep tersebut dikalungkan kepada realitas, klaim akan kebenaran tidak terhindarkan padahal karya sastra sendiri adalah dunia tanpa indikator dan klaim kebenaran. Sehingga klaim bahwa fantasi anak laki-laki dan perempuan yang ingin berhubungan seksual dengan orang tua mereka yang berlawanan jenis kelaminnya sebagai gen bawaan tidaklah dapat diterima. Pembolehan yang Sigmund Freud berikan kepada anak-anak untuk masturbasi adalah permulaan dalam mengawali fantasi-fantasi liar dan kecenderungan anak-anak untuk condong kepada hubungan seksual yang terlarang. Begitupula dengan konsep penis envy yang menyudutkan jenis kelamin perempuan seakan merupakan tragedi pertama sejak lahirnya di muka bumi yang hanya dikarenakan tidak memiliki penis. Sehingga Sigmund Freud mengaggap bahwa hanya dengan menjadi laki-lakilah manusia dapat dianggap dan layak dilihat sebagai manusia. Klaim-klaim seperti itulah yang menciptakan jurang antara dua jenis kelamin yang pada fitrahnya diciptakan dengan peran yang berbeda dan tidak pernah dibeda-bedakan dalam pandangan Allah SWT.

Baca juga: Al-Ghazzali dan Kritik Atas Inkonsistensi Para Filsuf: Pembacaan Awal Atas Tahafut al-Falasifah.

DAFTAR PUSTAKA

Brenner, C. (1957). An elementary textbook of psychoanalysis. New York: Doubleday Anchor.

English, H. & English, A. (1958). A comprehensive dictionary of psychological and psychoanalytic terms. New York: Longmans, Green and Co.

Freud, S. (1963a). An autobiographical study. J. Strachey (Ed. and Trans.), New York: Norton. (Original work published 1925)

Freud, S. (1966a). Introductory lectures on psychoanalysis. J. Strachey (Ed. and Trans.), New York: Norton. (Original work published 1917)

Kline, P. (1981). Fact and fantasy in Freudian theory. New York: Methmuen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.