Penulis Berita : Muhammad Sofian Hidayat/ Peserta PKU Unida Gontor Angkatan XV

Minggu (14/11/21) telah terselenggara webinar pemikiran dan peradaban Islam berkat kerjasama antara PKU (Program Kaderisasi Ulama) XV Universitas Darussalam Gontor dengan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Rabbani Universitas Andalas Padang. Webinar ini dihadiri oleh Fachri Rahman selaku pengisi sambutan dari LDK Rabbani Universitas Andalas Padang dan  Yongki Sutoyo S.T yang bertindak sebagai keynote speaker. Webinar kali ini membahas terkait dengan “Konsep Tubuh dalam Feminisme: Tinjauan Kritis” oleh Iradah Dwi Putriani, S.Ag, kemudian terkait dengan “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan dalam Civil Religion di Indonesia” disampaikan oleh Arifin Hanafi S.Ag.  Lalu “Analisis Kritis Konsep Kampus Merdeka (Menyaring Pola Pikir Industri dalam Pendidikan)” yang dibawakan oleh Tedi Sumaelan, S.Pd. Hingga akhir webinar ini berjalan dengan khidmat dan lancar disertai antusiasme audience dalam diskusi, menambah suasana keilmuan yang begitu kental.

Pada suasana diskusi tersebut, ada pertanyaan yang sangat menarik sekali dibahas berkaitan dengan problem yang terjadi saat ini dimasyarakat, pertanyaan ini diajukan kepada Iradah selaku pemateri. “Izinkan saya bertanya kepada pemateri pertama jika memang sexual consent itu salah, dan aborsi pun juga salah, namun seperti yang kita ketahui dalam konsep Barat bahwa jika melakukan aborsi itu berarti ia belum siap memiliki anak, dan ditakutkan anak akan terlantar atau tidak terurus, sehingga mereka lebih memilih aborsi, kemudian jika dibandingkan dengan masyarakat saat ini, banyak juga orang yg memiliki anak namun ia tidak bertanggung jawab dan mentelantarkannya, lantas manakah yang lebih baik?” Dalam hal ini, pertanyaan tersebut langsung ditanggapi oleh Iradah dengan jawaban yang jelas dan lugas sebagai berikut.

Baca juga : Upaya Mendudukkan Kembali Makna Moderasi Beragama

Iradah mengatakan bahwa dua keadaan yang dipertanyakan di atas sebenarnya bukanlah hal yang dapat dibandingkan satu dengan yang lain, karena memiliki konteks yang berbeda, namun yang menjadi catatan disini ialah perlunya pemahaman terhadap konsep dasar dalam hidup. Konsep berkeluarga atau membangun institusi keluarga merupakan sebuah tanda keagungan Allah, dimana dengan pernikahan akan memunculkan mawaddah warahmah, juga merupakan sarana menciptakan kedamaian dan kebahagiaan. Dalam Islam, alasan menikah dan keharusan memiliki anak telah dijelaskan di dalam al-Quran dimana terdapat 146 ayat yang berbicara tentang keluarga. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan fondasi dalam mengamalkan ajaran dan nilai keislaman yang terkandung dalam Al-Qur’an. Pelbagai ayat ini masing-masing membahas seputaran konsep keluarga dan permasalahan yang mengitarinya. Kemudian, mengatur ihwal muamalah kepada orang tua dan lainnya.

Dalam skenario berkeluarga, menikah, dan memiliki anak merupakan hal-hal yang saling mengikat, serta Islam telah meletakkan cara yang adil dalam memahaminya. Jika seseorang memiliki worldview (pandangan hidup) yang benar, maka orang tersebut akan mampu memahami dan menempatkan masalah ini secara adil dan beradab. Dalam Kitab Qurratul ‘Uyun yang disampaikan oleh Syekh al-Judari, bahwa hukum menikah itu ada lima meliputi konteks yang mengitari pria dan wanita.(Fasi 1915) Menjadi wajib apabila seseorang telah mampu untuk membangun berumah tangga, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Kemudian, sunnah bagi seseorang yang sudah mampu menikah, namun tidak mampu menafkahi istri secara finansial. Makruh, apabila terjadi pada seseorang yang akan menikah, tetapi tidak berniat memiliki anak. Hal ini bisa terjadi karena faktor penyakit ataupun wataknya. Mubah, bagi yang mampu menikah dengan tujuan hanya sekedar untuk memenuhi hajatnya atau bersenang-senang. Dan haram jika pernikahan itu dilakukan dengan maksud untuk menganiaya, menyakiti, dan menelantarkan. Hal ini sejalan dengan perintah Nabi SAW., bahwa menikah diberikan kepada para pemuda yang sudah “mampu”. Jika tidak mampu, ya berpuasalah. Rasulullah SAW. menyebut nikah adalah sunnah beliau dan siapa yang membenci sunnah beliau, maka ia bukan termasuk golongan Nabi.(Al-Bukhârî 1427)

Baca juga : Problematika di Era Post Modernisme

Pada akhir penjelasan, Iradah menegaskan “Begitu juga soal anak. Sudah menjadi fitrah manusia, bahwa seseorang senang memiliki anak (QS 3:14). Maka, merupakan sikap yang bertanggung jawab, sesuai dengan fitrah manusia, jika pasangan dalam keluarga ingin punya anak. Khawatir soal rizki anak adalah bentuk ketidak-percayaan akan kekuasaan Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, sebab Allah sudah menjamin rezeki seluruh makhluknya. Dalam ranah sosial, jika orang tuanya tidak mampu, maka mereka wajib dibantu oleh saudaranya dan masyarakat sekitarnya bahkan menjadi tanggung jawab negara. Anak-anak manusia itu harta yang sangat berharga. manusia didorong untuk punya banyak anak. Tetapi, dengan syarat, orang tua harus bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena itulah, tugas orang tua adalah mencari ilmu agar bisa mendidik anak dengan baik. Sebab, anak-anak yang salah didik, bisa lebih rendah nilainya dan lebih merusak di masyarakat dari pada anak kambing, karenanya sisi tanggung jawab keluarga dan orangtua berposisi sangat penting.

Webinar ini kemudian ditutup dengan epilog dari pembimbing PKU XV yaitu Yongki Sutoyo. Beliau selaku keynote speaker menambahkan penekanan yang berkenaan dengan problema dan kegaduhan yang saat ini terjadi dengan munculnya Permendikbud No. 30. Beliau memaparkan konsep seksual dan non-konsensual yang secara konsep dan pemaknaan sangat keliru dan tidak cocok serta bertentangan dengan norma agama dan norma sosial di Indonesia. Problem utama dalam Permendikbud No. 30 adalah kehancuran standar nilai moral bangsa dan perguruan tinggi. Kemunculan peraturan ini seakan menandai bahwa ada yang tidak beres dalam pengaturan hukum yang ada, dimana unsur agama dan moral ingin disingkirkan dengan menghadirkan akal dan nafsu sebagai acuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.