pku.unida.gontor.ac.id- Sudah menjadi sebuah kegiatan wajib di setiap angkatan Program Kaderisasi Ulama UNIDA Gontor untuk mengadakan kajian subuh yang diisi oleh pemateri dari peserta sebagai bentuk pembelajaran public speaking dan juga sharing ilmu dari masing masing peserta.

Selain untuk latihan menjawab tantangan dan problem, baik internal maupun eksternal, juga untuk mengembangkan potensi diri para peserta dalam berdakwah. Tidak terkecuali pada Selasa subuh (10/9), dimana kajian subuh kali ini diisi oleh al-Ustadz Cep Gilang Fikri As Shufi (peserta PKU Gontor) di Serambi Masjid UNIDA Gontor yang membahas tentang ‘Sejarah Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh’ , diawali dengan salam dan pembukaan yang begitu santun, ciri khas beliau yang berasal dari Priangan (Sunda).

BACA JUGA: Desakralisasi al-Qur’an

Beliau membuka tentang sejarah awal ilmu ushul fiqh yang dikodifikasi dan mengapa ilmu ini dikodifikasi setelah Ilmu Fiqh.

“Ilmu Ushul Fiqh telah muncul sejak adanya Fiqh. Namun, Ilmu Fiqh telah mendahului Ushul Fiqh dalam pentadwinan. Hal ini berarti bahwa Fiqh telah disusun, dirumuskan kaidah-kaidahnya, dan telah diatur sistematikanya sebelum disusun kaidah Ushul Fiqh. Terlambatnya dalam pentadwinan ini bukan berarti ushul fiqh tidak muncul kecuali setelah masa kodifikasi, atau juga tidak berarti bahwa para ahli hukum Islam (sebelum masa tadwin) tidak memiliki kaidah tertentu dalam memutuskan hukum. Karena kenyataannya, kaidah-kaidah ilmu ini mustaqarrah (tertanam) dalam jiwa-jiwa para mujtahid (sebelum masa tadwin).” Tutur Cep Gilang.

Ia mencontohkan bahwa ilmu ushul fiqh, walaupun belum dikodifikasi, sudah menyatu dalam diri para sahabat. Ketika Ibnu Mas’ud, seorang ahli hukum di kalangan sahabat, berpandangan bahwa perempuan hamil yang suaminya meninggal, masa iddahnya berakhir setelah ia melahirkan. Istinbath tersebut berdasarkan ayat: “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (at-Thalaq: 4). Ia berdalil bahwa surat at-Thalaq tersebut diturunkan setelah surat al-Baqarah ayat 234, “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber´iddah) empat bulan sepuluh hari.” Istidlal (caranya berdalil) tersebut mengisyaratkan sebuah qaidah ushul, “sesungguhnya nash yang datangnya kemudian menghapus nash yang datangnya terdahulu”. “إن النص اللاحق ينسخ النص السابق”.

Pria kelahiran Priangan ini menyimpulkan bahwa Ushul Fiqh senantiasa menyertai Fiqh sejak awal pertumbuhan Fiqh. Bahkan Ushul Fiqh muncul sebelum tumbuhnya Fiqh, karena Ushul Fiqh merupakan aturan-aturan beristinbath dan timbangan-timbangan pemikiran. Hanya saja pada waktu itu belum ada kebutuhan untuk mengkodifikasikan rumusan-rumusan tersebut.

BACA JUGA: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Soal Disertasi Seks Di Luar Nikah

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, beliau adalah sumber rujukan dan penjelas hukum. Setelah beliau wafat, muncullah permasalahan-permasalahan yang mesti diijtihadi berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Hanya saja para ahli hukum di kalangan sahabat tidak merasa perlu untuk membicarakan qaidah-qaidah ijtihad dan cara-cara beristidlal dan beristinbath. Karena mereka mengetahui bahasa arab beserta uslubnya dengan baik, juga mereka mengetahui aspek penunjukan lafazh terhadap maknanya. Selain itu, mereka menguasai rahasia-rahasia tasyri’ dan sebab turunnya ayat dan hadits.

Lalu Gilang memaparkan siapa yang memprakasai pertama kali pengkodifikasian ilmu ini. Adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I (pada abad ke 2 h), dengan kitabnya yang dinamakan ar-Risalah. Dalam kitab tersebut dijelaskan tentang al-Qur’an dan penjelasan hukum-hukumnya, kaitan sunnah dengan al-Qur’an, ijma’, qiyas, nasikh dan mansukh, amar dan nahyi, berhujjah dengan hadits ahad, dan lain sebagainya yang merupakan bahasan Ushul Fiqh.

Imam asy-Syafi’I menulis kitab ar-Risalah ini secara detail dan mendalam. ia senantiasa menyebutkan dalil atas pandangan-pandangannya, serta mendiskusikan perbedaan-perbedaan pendapat secara ilmiah. Setelah Imam as-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal menulis kitab Thā’atu ‘r-Rasūl. Kemudian setelah itu banyaklah penulisan tentang ilmu ushul fiqh.

Dari pemaparan pemateri di atas dapat kita ambil sebuah kesimpulan tentang pentingnya mempelajari ilmu Ushul Fiqh agar dapat mengetahui tanda-tanda dalam menentukan hukum syar’i sehingga tidak tergelincir dalam penyimpangan. Dan juga ia dapat selalu mengembangkan kesimpulan hukum terhadap masalah masalah yang baru muncul.[]

Rep. Fajrin Dzul Fadli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.