pku.unida.gontor.ac.id- Rabu (21/3) seperti biasa Peserta Program Kaderisasi Ulama’ melakukan perkuliahan di Hall Hotel UNIDA Inn, pada hari itu perkuliahan bersama Ustadz Tiar Anwar Bachtiar, Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilzations (INSISTS), sebagai dosen tamu.

Perkuliahan ini dilaksanakan dalam beberapa sesi. Pada sesi pertama Ustadz Tiar, sapaan beliau, menyampaikan tentang Historiografi Islam Indonesia dan Tantangan bagi Sejarawan Muslim. Beliau mengawali perkuliahan dengan pertanyaan kepada audiens, “Apa makna dari Historiografi?”

BACA JUGA: Ibnu Taimiyah dan Konsep Kewalian

Kemudian beliau menjelaskan bahwa historiografi memiliki dua makna, pertama tentang bagaimana cara menulis sejarah dan kedua kajian tentang tulisan-tulisan sejarah. Pada sesi ini banyak dijelaskan cara penulisan sejarah Islam yang berkembang di Indonesia dari model tradisional hingga modern.

Lulusan doktoral Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) ini juga memaparkan problem dalam historigrafi sejarah Islam Indonesia, problem yang paling mendasar yakni bercampurnya paradigma sekuler dengan Islam. Hal tersebut terjadi karena teori-teori sejarah Islam dituliskan oleh para orientalis seperti Thomas Stamford Rafless, Cristiaan Snouck Hourgonje dan lain sebangainya.

Sebenarnya terdapat para penulis yang coba mengoreksi problem tersebut seperti Buya Hamka tentang proses masuknya Islam di Indonesia atau karya Al Attas yang mengkritik tentang Islamisasi bahasa melayu, namun karya-karya tersebut belum menjadi pegangan maisntream bagi banyak peneliti sejarah Islam.

Pada sesi berikutnya, Dr. Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan Nativisasi, Hinduisasi dan Sekulerisasi di Indonesia. Pada sesi ini beliau menjelaskan pangkal kesalahan dalam teori evolusi adalah tidak pernah ada makhluk yang melahirkan makhluk lain yang sangat berbeda dari induknya. Ini adalah gejala sekulerisasi dalam pemahaman manusia, yang mana tidak menerima wahyu sebagai sumber dalam penulisan sejarah, dalam hal ini asal usul manusia. Padahal dalam kitab suci sudah dijelaskan sejarah baik.

BACA JUGA: Wacana Feminisme di Ruang Publik: Mewaspadai Modus Operandi

Kemudian dibahas tentang nativisasi, orang-orang akan mengatakan bahwa produk asli dari budaya Indonesia ini adalah hindu, Budha, dan Animisme. Dan produk-produk seperti Islam dan Kristen adalah produk luar yang diimpor ke Indonesia.

Jadi yang beliau katakan sebagai produk asli pun sebenarnya tidak ada yang asli dari Indonesia itu sendiri. Hindu, Budha dan Animisme pun merupakan barang impor dari luar. Namun, karena yang pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara ini adalah paham tersebut, maka itu semua dikatakan asli dari Indonesia.

Nativisasi, tidak lain dan tidak bukan adalah misi dari para orientalisme Barat yang ingin mensekularkan rakyat muslim di Indonesia, sehingga ia tidak kenal lagi, bahwa dulu Indonesia pernah dibela oleh pesantren dengan para ulama’ dan santrinya.

Akhir dari perkuliahan ini ditutup Ustadz Tiar melalui pesan tentang agenda Islamisasi pengajaran sejarah dengan menggalakkan pembinaan guru-guru sejarah bervisi Islam.[]

Foto Ilustrasi

Rep. Mahfida Ustadzatul Ummah (peserta PKU XIII Unida Gontor)
Ed. Admin PKU

2 Thoughts on “Sejarah Islamisasi Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.