pku.unida.gontor.ac.id- Sebagaimana telah ditetapkan oleh panitia, acara tabligh akbar bersama UAS digelar Ahad (24/11) pagi kemarin. Walaupun agenda direncanakan mulai usai shalat subuh, sejumlah jama’ah telah berada di tempat sejak pukul 02.30 WIB dini hari. Hal ini menunjukkan tingginya antusias masyarakat dalam meramaikan acara tersebut.

Selain itu, tingginya animo jama’ah semakin terlihat dengan membludaknya lokasi acara. Jalan utama masjid jami`, Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), halaman gedung Aligarh, jalanan depan gedung Saudi, hingga gedung Asia penuh oleh mereka yang haus akan ilmu. Mereka tidak hanya datang dari sekitaran Ponorogo, tetapi juga Madiun, bahkan ada pula yang dari Solo, “Kami datang ke sini dari Surakarta,” ujar Dimas Wisnu, seorang Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Baca Juga: Syi’ah Imamiyah; Konsep Ghaibah Imam (Studi Analisis Kritis)

Rentetan acara dimulai dengan shalat subuh berjamaah yang diimami oleh KH Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Setelah menjadi Imam, beliau memberikan pengantar singkat. Dengan humor khasnya yang mencairkan suasana, beliau tetap mampu menyampaikan pesan penting, “Selama tidak takut kecuali kepada Allah, juga tidak berharap kecuali kepada-Nya, kita akan terus dan tetap bersama.” Momen penting lainnya dalam sambutan pengantar ini, Kyai Hasan dengan penuh kerelaan memberikan keanggotaan IKPM kehormatan kepada UAS.

Pada kesempatan penuh berkah ini, UAS berkesempatan menyampaikan ceramahnya dengan tema ‘Peran Santri sebagai Generasi Khaira Ummah’ selama kurang lebih 90 menit. Usai mengucap salam ta’dzim kepada pimpinan, masyayikh, dan guru-guru, sang da’i yang kondang dengan sebutan ustadz sejuta viewer ini memulai ceramahnya.

Menerangkan makna santri, UAS mengajak para hadirin untuk kembali kepada sejarah. “Meskipun kala itu belum ada sebutan santri, namun para sahabat Nabi secara esensi adalah santri. Kyainya adalah Rasulullah SAW, pelajarannya adalah wahyu yang langsung diturunkan kepadanya, dan pesantrennya disebut dengan shuffah. Jadi, para sahabat tersebut telah memenuhi kualifikasi dan persyaratan untuk disebut santri.” ujar beliau.

Sebagai santri, para sahabat adalah perwujudan nyata ‘khaira ummah’ sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an. Berkaitan dengan ayat tersebut, Imam Ibnu Jarir al-Thabari menerangkan dalam kitab tafsirnya, mengutip penjelasan Abdullah Ibnu ‘Abbas, bahwa syarat menjadi sebaik-baik ummat ada tiga, yaitu: ta`murūna bi al-ma’rūf, tanhawna ‘an al-munkar, dan tu`minūna billāh.

Ta’murūna bi al-Ma`rūf
Syarat pertama adalah menyuruh kepada yang ma’ruf. Ma’ruf artinya adalah kebaikan. Dalam bahasa Arab, kebaikan pada dasarnya memiliki banyak istilah, di antaranya: al-jawdah, al-khoyr, dan al-thayyib. Tetapi, mengapa Allah memilih kata al-Ma’rūf? sebagaimana dijelaskan UAS, al-Ma’ruf adalah kebaikan yang disertai dengan keimanan.

Di hadapan para hadirin yang sebagiannya adalah santri, sang ustadz menceritakan bahwa upaya al-amru bi al-ma’rūf bukan hanya ditempuh melalui ceramah, tetapi juga dengan praktik langsung. “Betapa banyak kebaikan-kebaikan yang tidak tuntas hanya dengan ceramah. Ada seorang dokter alumni pesantren yang membuka praktik di pedalaman. seorang penceramah belum tentu mampu menjangkau penduduk pedalaman tersebut. Tetapi dokter yang santri ini, dengan program pengobatan gratisnya mampu mendatangkan mereka, menyembuhkan penyakitnya sekaligus menasihatinya.” Kata beliau dengan gaya bahasanya yang lugas.

Intinya, kata beliau, jangan batasi al-amru bi al-ma’ruf ini satu makna saja. Kalaulah tugas mulia ini diibaratkan sebagai pintu surga, maka ia tidak hanya terdiri atas satu pintu saja. “udkhulūhā min abwāb mutafarriqah (Masuklah kalian ke dalam surga itu dari pintu yang bermacam-macam.” tambah beliau.
Tanhawna ‘an al-munkar

Syarat kedua adalah mencegah perbuatan munkar. Perlu diingat bahwa yang membuat Abu Jahal marah dan memboikot nabi bukanlah karena beliau menyuruh masyarakat Qurays kala itu untuk berbuat jujur, menunaikan sedekah, atau mengerjakan amanah. Yang membuat ia marah adalah karena Nabi Muhammad mencegah kemusyrikan dan segala bentuk kejahiliahan.

Saat ini, yang membuat musuh Islam geram bukanlah karena ulama menyuruh shalat, membayar zakat, dan sebagainya, tetapi yang membuat mereka marah adalah karena para ulama mulai menyerukan ummat untuk meninggalkan segala bentuk sistem sosial yang merusak. “Orang Islam sholat biarkan, orang Islam berpolitik dan berekonomi, awasi!”

Selanjutnya, UAS menekankan bahwa meskipun ummat Islam wajib mencegah kemunkaran, bukan berarti dengan cara bar-bar ala preman nan penuh kekerasan. “Lakukanlah dengan cara yang benar, santun, dan konstitusional.” Ungkap beliau.

Menolak anggapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa UAS radikal dan anti demokrasi, beliau mengatakan, “Jika demokrasi dianggap kurang baik karena bersemboyankan ‘suara masyarakat suara Tuhan.’ Siapa yang terbanyak dialah yang menang. Sembilan orang setuju miras, satu orang tidak setuju, yang setuju lah yang menang. Mengapa kita tidak mengubah masyarakat secara perlahan agar bergeser posisi menjadi sembilan yang tidak setuju dan hanya menyisakan satu yang setuju?” Pernyataan ini menunjukkan bahwa semangat UAS dalam berdakwah adalah semangat institusional, tidak bertentangan dengan pancasila.

Baca Juga : Kebebasan dalam Islam

Tu`minūna billah
Syarat ketiga, yang terakhir tapi tidak kalah penting, bahkan yang paling penting: beriman kepada Allah. Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa beriman kepada Allah tidak diletakkan pada urutan pertama jika ia adalah yang paling penting? menjawab pertanyaan ini, UAS menjawab, “Di dalam ayat ini, Allah SWT ingin mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu harus khusnul khotimah, sebagaimana doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, ‘Allāhumma ij’al-khayra ‘umrī khawātimahu.’ (Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada saat penutupnya).”
Sebelum penutup, beliau menyampaikan bahwa orang yang beriman kepada Allah akan mampu menghadapi ujian kehidupan, “Pujian tidak membuatnya melambung, celaan tidak membuatnya murung. Saat dipuji ia tidak terbang, saat dicaci ia tidak tumbang.”

Tidak terasa, ceramah yang berdurasi kurang lebih satu setengah jam itu pun rampung. Retorika penyampaian yang lugas, jelas, dan renyah membuat para hadirin hanyut dalam aliran tausiyah. Sebelum MC menutup acara, pihak panitia menyerahkan cinderamata kenang-kenangan. Setelah itu, tabligh akbar di Pondok Modern Darussalam Gontor resmi berakhir.[]

Rep. Ahmad Rizqi Fadlilah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.