Oleh: Yongki Sutoyo

Rene Descartes (1596-1650) merupakan filsof Perancis yang dianggap sebagai pendiri filsafat modern. Descartes adalah orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fisika dan astronomi. Jostein Gaarder dalam bukunya Dunia Sophie menyatakan bahwa Descartes “menyingkirkan puing-puing bangunan lama, kemudia ia membangun sebuah bangunan baru”. Bangunan yang dimaksud oleh Jostein Gaarder adalah pemikiran filsafat. Sebagaimana diakui oleh Bertrand Russell (1872-1970), bahwa sejak Aristoteles tidak ada bangunan filsafat baru, dan apa yang dilakukan Descartes merupakan tanda kepercayaan diri baru akibat kemajuan sains (Russell, 2007: 732). Ada sebuah kesegaran baru dalam pemikirannya yang tidak ditemukan dalam pemikiran filsof ternama sebelumnya semenjak Plato. Meskipun ada corak Platonik dalam pemikirannya.

Dalam dunia filsafat, Rene Descartes adalah salah satu tokoh besar pengusung teori rasional yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan pemikiran filsafat Barat. Teori yang diusungnya tersebut akhirnya menjadi sebuah aliran dalam dunia filsafat yang kini dikenal dengan aliran rasionalisme. Sebagai seorang rasionalis Descartes berkeyakinan bahwa terdapat dua sumber konsepsi dalam bagunan teorinya. Pertama adalah presepsi indera, yaitu bahwa kita memahami “panas”, “cahaya”, “rasa” dan “suara” disebabkan oleh presepsi indera. Kedua adalah pembawaan lahir, dalam arti bahwa pikiran manusia memiliki gagasan-gagasan dan konsepsi-konsepsi yang tidak berasal dari indera, tetapi terpatri jauh dalam diri manusia yang dibawa sejak lahir (Sadr, 2013: 3).

Bagi Descartes, manusia sejak lahir telah memiliki ide bawaan atau innate idea. Ide bawaan ini antara lain ide tentang Tuhan, Jiwa, perluasan dan pergerakan serta pemikiran serupa dengan semuanya itu, dan dicirikan dengan kejelasan lengkap dalam pikiran manuisa itu. Singkatnya, bagi Descartes ide bawaan itu adalah ide yang sudah jadi (Descartes, 2015: 70). Untuk menemukan ide bawaan ini manusia tinggal mengingat kembali ide-ide itu dengan presepsi inderawi. Dalam hal ini Descartes menggunakan konsep platonik tentang “pengingatan kembali” kepada dunia ide.

Stuktur Epistimologi Descartes
Dengan diktum “aku berfikir maka aku ada”, Descartes beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil kerja rasio—subjek berfikir—dengan medium alam—objek yang diragukan. Namun dengan diktum itu Descartes telah memisahkan antara tubuh dan jiwa, alam dan innate idea. Dalam bahasa lain tubuh ialah materi dan jiwa adalah juga pikiran—yakni non-materi. Artinya Descartes membagi dua bentuk realitas, yaitu res cogitan, pikiran atau gagasan dan res extansa, perluasan atau materi. Jostein Gaarder menggambarkan dengan cukup baik mengenai pembagian Descartes tentang res cogitan dan res extansa. Bagi Descartes, pikiran itu sesungguhnya adalah kesadaran (res cogitan), dan ia tidak mengambil tempat dalam ruang dan karenanya tidak dapat dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Tapi materi adalah perluasan (res extansa) dan ia mengambil tempat dalam ruang dan karenanya dapat selalu dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih kecil lagi, tapi ia tidak memiliki kesadaran (Gaarder, 2010: 376).

Descartes menyatakan bahwa kedua realitas itu berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang Ada tanpa bergantung pada apa pun. Meskipun dua realitas tersebut—pikiran dan perluasan—berasal dari Tuhan, namun keduanya tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran itu sama sekali tidak bergantung pada materi, dan begitu pula sebaliknya, proses materi tidak bergantung pada pikiran. Penjelasan ini menegaskan bahwa Descartes ialah seorang dualis. Ia dengan tegas memisahkan antara realitas pikiran dan realitas perluasan (Gaarder, 2010: 377).

Dualisme Cartesian
Keterpisahan antara tubuh dan jiwa ini dijelaskan lebih lanjut oleh Arnold Geulincx (1624-1669), murid Descartes dari Belanda. Geulincx menyatakan bahwa semua aksi fisik merupakan akibat, hukum-hukum dinamika cukup untuk menentukan gerakan materi, dan tidak ada tempat bagi pengaruh dari pikiran—dalam hal ini jiwa (Russell, 2007: 737). Tetapi asumsi ini menimbulkan masalah. Misalnya tangan saya bergerak ketika saya ingin menggerakkannya, tetapi keinginann saya merupakan fenomena mental, sedangkan gerakkan tangan saya adalah fenomena fisik. Lantas mengapa, jika jiwa dan materi tidak dapat berinteraksi, tubuh saya berbuat seolah-olah karena dikendalikan oleh jiwa? Terhadap pertanyaan ini, Geulincx mengemukakan jawaban yang dikenal sebagai “teori dua jam”. Geulincx menjelaskan, misalnya anda mempunyai dua jam yang menunjukkan waktu sama persis: ketika satu jam menunjukkan pukul empat, jam satunya akan menunjukkan pukul yang sama, sehingga jika anda melihat dan mendengar jam lainnya, anda akan mengira satu jam menyebabkan jam lainnya berdenting. Demikian juga dengan pikiran (jiwa) dan tubuh. Masing-masingnya diputar oleh Tuhan untuk menjaga waktu jam lainnya, sehingga ketika saya berkeinginan,hukum-hukum fisik semata menyebabkan tangan saya bergerak, meskipun keinginan saya tidak benar-benar bekerja dalam tubuh saya (Russell, 2007: 737).

Mengenai “teori dua jam” Geulincx, Bertrand Russell memberikan komentar cukup menarik. Pertama, teori Geulincx menjadikan jiwa, dalam pengertian tertentu, seluruhnya independen dari tubuh, karena jiwa tidak pernah digerakkan oleh tubuh. Kedua, teori tersebut menurunkan sebuah prinsip umum: “sebuah zat tidak dapat bergerak pada zat lain.” Ada dua zat dalam teori Geulincx, zat materi dan zat jiwa, dan keduanya tidak serupa sehingga interaksi di antaranya tidak bisa dipahami (Russell, 2007: 738). Jadi antara jiwa dan tubuh, alam dan innate idea tidak memiliki hubungan. Meskipun dalam innate idea terdapat ide tentang Tuhan, namun Descartes tak mampu membawa ide Tuhan ke alam sebab innate idea tidak berasal dari alam. Dikarenakan juga innate idea adalah kumpulan ide yang sudah jelas dan sudah jadi, maka tak perlu ada usaha kreatif untuk membuktikannya di alam. Cukup dengan presepsi inderawi yang berfungsi sebagai pengingatan kembali terhadap innate idea. Inilah dualisme Cartesian.

Kesimpulan: Kerancuan Dualisme Cartesian
Jika Descartes menyatakan bahwa manusia sejak lahir telah memiliki ide bawaan yang di sebut innat idea, dimana dalam innat idea itu terdapat ide tentang Tuhan, jiwa dan sebagainya, dan ide bawaan ini terpisah dengan alam, maka pertanyaanya adalah dari mana ide Tuhan (yang katanya bawaan) itu dapat muncul di innat idea? Siapa yang memproduksi ide Tuhan itu? Tentu bukan alam, sebab innate idea tidak berasal dari alam. Maka dari mana ide itu muncul? Juga teori dua jam Geulincx, yang menurunkan sebuah prinsip umum tentang zat materi dan zat jiwa, dan keduanya tidak serupa sehingga interaksi di antaranya tidak bisa dipahami. Bagaimana mungkin hal itu tidak bisa dipahami, padahal hal itu terjadi di relaitas? Tidak ada jawaban memuaskan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ini menandakan dalam diri Descartes dan Cartesianisme terdapat sebuah dualisme yang tak terpecahkan.

Sumber Rujukan

Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007)
Jostein Gaarder, Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat, (Bandung: Mizan, 2010)
Muhammad Baqir Sadr, Falsafatuna, (Yogyakarta: RausyanFikr, 2013)
Rene Desacartes, Diskursus dan Metode, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2015)

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU X) Unida Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.