pku.unida.gontor.ac.id- Kajian Central Islamic Occidentalis Studies (CIOS) kembali digelar kemarin malam, hari Senin 9/9 2019M yang bertempat di Hall Hotel Universitas Darusalam Gontor. Kali ini, yang menjadi presenter adalah Ustadz Martin Perdana Putra dengan judul Relevansi Islamisasi Ilmu Dalam Menjawab Tantangan Dunia Barat.

Dalam pemaparannya, Martin menjelaskan bahwa tantangan Islam terbesar pada hari ini adalah rusaknya ilmu-ilmu kontemporer karena telah tercampuri unsur-unsur lain yang bertentangan dengan Islam. Sehingga ilmu yang rusak itu perlu di murnikan dan diislamkan agar sesuai dengan pandangan hidup agama Islam.
Al-Attas adalah yang pertama kali mencetuskan gagasan Islamisasi Ilmu Kontemporer sebagai jawaban atas problem umat Islam dewasa ini.

Menurutnya, Karena ilmu adalah landasan dari seluruh aktivitas manusia, tidak aneh kalau semua masalah yang terjadi karena adanya ilmu yang rusak. Pada akhirnya, kerusakan ilmu tersebut menghasilkan Loss of Adab atau ketiadaan adab.

Kerusakan itu berkisar pada adanya pandangan hidup Barat yang tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam. Lalu masuk dan –meminjam bahasa ustadz Hamid- terintrusi terhadap ilmu-ilmu kontemporer. Cara pandang yang tidak sesuai inilah yang harus di islamkan. Oleh karena itu, Islamisasi tidak akan pernah lepas dari tiga hal; subjek, objek dan proses. Ketiga aspek itu harus dijelaskan dan ditentukan terlebih dahulu agar Islamisasi tidak salah kaprah atau sekedar “labelisasi” semata.

Pertama subjek. Harus diketahui, apa subjek dari Islamisasi? Berdasarkan pemaparan beliau, subjeknya worldview Islam itu sendiri. Artinya, Islamisasi ilmu berarti penyesuaian tehadap apapun yang tidak sesuai dengan worldview Islam.

Setelah jelas subjekya, berlanjut pada objek. Apa objek dari Islamisasi? Objeknya adalah ilmu pengetahuan kontemporer. Berarti, ilmu-ilmu yang sudah “Islam” tidak perlu di islamisasi. Ilmu-ilmu seperti tafsir, fiqh dan yang lainnya tidak perlu diislamkan. Hanya ilmu-ilmu kontemporer yang worldviewnya tidak islamilah yang menjadi objek dari islamisasi.

Terakhir, yang harus jelas adalah proses. Setidaknya ada tiga proses dalam islamisasi pertama de-westrenisasi, artinya nilai-nilai peradaban Barat yang tidak sesuai dengan Islam mesti di hilangkan. Kedua, integrasi. Setelah dihilangkan, ilmu-ilmu tersebut dihubungkan dengan pandangan hidup islam. Dalam konteks ini ilmu harus terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman. Ketiga, tahap yang terakhir dan yang paling penting adalah islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer.

Hal inilah yang dipaparkan lebih lanjut oleh ustadz Martin dalam kajiannya. Relevansi Islamisasi ilmu sebagai jawaban atas tantangan dunia Barat merupakan sebuah keharusan, untuk menjawab permasalahan yang ada di dunia Islam saat ini. mulai dari pengetahuanlah semuanya berawal, dan dengan pengetahuanlah seluruh aktivitas manusia berasal.[]

Rep. Fachri Khoerudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.