Oleh: Nur Septiyani Rahmah

pku.unida.gontor.ac.id- Di era modern ini, peningkatan  aktivitas dakwah dirasa perlu untuk  mengatasi problema kehidupan umat. Aktivitas dakwah dapat dilakukan dengan berbagai metode yang tujuan utama nya adalah untuk meningkatan pemahaman keislaman, guna memperoleh kebahagiaan dunia dan Akhirat atas Ridho-Nya. Dalam hal ini manusia lah yang menjadi pelaku aktivitas dakwahnya . Karena secara teologis, setiap umat Islam mengemban tugas sebagai pendakwah risalah Rasulullah SAW kepada generasi berikutnya, dan mereka yang mendakwah inilah yang biasa disebut dengan Mubaligh.

Sebagaimana disebutkan dalam Q.S Al-Maidah ayat 67 yag artinya “Artinya : “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al- Maidah : 67)”. Oleh karena itu, seorang Mubaligh diharuskan untuk mempunyai pemahaman yang mendalam,  sehingga tidak hanya menganggap bahwa dakwah hanya dalam frame “Menyampaikan” namun juga harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya mencari materi yang cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih metode yang representative serta menggunakan bahasa yang ringan namun tetap bijaksana,dsb.

Perkembangan masyarakat yang menuju ke arah globalisasi, menjadikan tantangan yang harus dihadapi oleh para Mubaligh menjadi semakin berat dan  kompleks. Dinamika kehidupan global secara tidak langsung menggiring umat manusia senantiasa memandang persoalan hidup secara instan bahkan matematis. Keadaan yang seperti itu disamping membawa manfaat berupa kemajuan ilmu dan tekhnologi yang memudahkan aktifitas manusia, namun sadar atau tidak sadar juga membuat memudarnya hubungan social. Yang mana hal tersebut mengakibatkan lahirnya realitas social yang cukup bertentangan dengan cita-cita ideal Islam, misalnya saja kerawanan moral dan etik yang muncul sebagai penyokong kemaksiatan. Nah, realitas social yang bertentangan dengan cita-cita ideal islam itulah yang perlu dirubah melalui dakwah islam.

Sejalan dengan persoalan tersebut, maka kehadiran para Mubaligh sangat mutlak diperlukan dan ditingkatkan kualitasnya. Mengingat tantangan yang semakin berat, maka diperlukannya upaya meningkatkan kualitas para kader Mubaligh yang sadar akan peran dan kontribusi mereka dalam memecahkan masalah yang ada. Sebelum mencanangkan strategi dalam peningkatan kualitas, perlu kiranya para mubaligh terlebih dahulu sadar akan beberapa hal yang penting untuk diperankan, yakni :

  1. Para mubaligh sebagai pengawal akhlak (moral) bangsa
  2. Para mubaligh sebagai penafsir  jalan kehidupan umat manusia
  3. Para mubaligh sebagai agen perubahan social
  4. Para mubaligh berperan mengarahkan pandangan keislaman masyarakat
  5. Para mubaligh berperan mewujudkan cita-cita Islam dalam berbagai bidang kehidupan
  6. Para Mubaligh berperan dalam menanmkan keimanan dan ketakwaan dalam arti yang sesungguhnya, dan
  7. Para Mubaligh berperan sebagai pemimpin masyarakat.

Kemudian setelah mengetahui peran penting sebagai seorang mubaligh. Perlulah dukungan strategi dakwah yang mantap untuk menghadapi sasaran dakwah yang semakin kritis dan tantangan global yang semakin kompleks. Salah satu focus utama yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi saat ini adalah memfokuskan aktifitas dakwah dalam mengentaskan kemiskinan dan Menyiapkan tokoh elit strategis Muslim untuk dikirim ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

Untuk merencanakan strategi dakwah yang matang, maka diperlukan solusi pembenahan terhadap beberapa unsur yang terlibat dalam proses dakwah. Unsur-unsur tersebut terdiri dari Mubaligh (aktivis dakwah) materi dakwah, metode dakwah, dan alat atau media dakwah.

Solusi Pembenaran strategis terhadap unsur tersebut dapat dilakukan melalui :
Pertama, Peningkatan sumber daya Muballigh.
Strategi pembinaan dan peningkatan sumber daya Mubaligh dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama, melalui jalur pendidikan formal. Yang mana Mereka diberi kesempatan untuk meningkatkan pendidikannya pada Perguruan Tinggi yang secara khusus mencetak para Mubaligh secara professional. Yang kedua, melalui jalur pelatihan yang teprogram sebgaimana yang dilakukan UNIDA Gontor yang dikenal dengan nama Program Kaderisasi Ulamanya. Yang mana jalur pelatihan ini didukung oleh tenaga pelatih (pendidik) yang handal, berpengalaman dan penuh dedikasi, juga didukung pula oleh sarana dan prasarana yang modern, dan lengkap. Dengan cara demikian mereka akan menjadi tenaga-tenaga Mubaligh yang Profesional.

Kedua, Pemanfaatan Teknologi Modern sebagai Media Dakwah.
Kemajuan tekhnologi saat ini dapat dimaksimalkan untuk jalan dakwah. Salah satunya dengan memanfaatkan social media yang ada . Karena berdakwah tidak harus bertatap muka, melainkan berdakwah bisa melalui tulisan ataupun audio visual. Sebab dengan cara seperti itu dapat diterima dalam waktu yang relative singkat oleh sasaran dakwah dalam skala yang lebih besar.

Ketiga, Monitoring dan Evaluasi Dakwah.
Dalam menyampaikan dakwah tidak mungkin seorang mubaligh tidak melakukan kesalahan, maka dari itu perlunya dilakukan evaluasi dan monitoring guna melakukan persiapan dan perencanaan yang matang. Dari monitoring dan evaluasi inilah dapat diperoleh saran dan masukan yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan masukan agar penyampaian dakwah lebih baik. Selain itu dengan monitoring dan evaluasi akan terlihat kelebihan dan kekurangan dakwah yang telah dilaksanakan, produk-produk yang ditawarkan dengan kebutuhan  sasaran dakwah dapat diterima ata tidak, dan dapat melihat sejauh mana aktivitas dakwah yang telah dilakukan bisa mentransformasikan cita-cita ideal Islam ke dalam realitas kehidupan umat.

Dengan demikian Strategi Islam dapat diyakini mampu menjawab tantangan zaman tersebut, kalopun tidak bisa menghilangkan problema umat secara keseluruhan, paling tidak dapat menekan lajunya pertumbuhan masalah yang terus dan akan semakin berkembang. Yang mana melihat dunia ini selalu membutuhkan kader-kader mubaligh yang masih segar dan berpengetahuan yang dijadikan sebagai estafet penerus dakwah maka perlu sekali kiranya institusi-institusi dakwah meningkatkan kemampuan dan kualitas yang dimiliki oleh para kader mubaligh agar dapat lebih berkembang sesuai dengan zamannya.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XI) Unida Gontor.
Ed. admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.