pku.unida.gontor.ac.id – Senin sore (16/09) rasanya ada nuansa berbeda di kompleks PKU UNIDA, Gontor. Kader-kader PKU memang baru saja “boyongan” dari asrama Ali ke PKU awal bulan kemarin. Sejak di rumah baru, kebiasaan baru juga mulai coba dibentuk. Kebiasaan untuk amalkan salah satu sunah Rasul. Kebiasaan dengan harapan bisa eratkan ukhuwah diantara peserta PKU, yaitu jalankan ibadah puasa Senin-Kamis.

Namun sore ini agenda buka bersama terasa lebih spesial. Hadir bersama untuk buka puasa bersama, Dr. Khoirul Umam, M. Ec. Beliau adalah Direktur PKU, yang layaknya Bapak bagi semuanya. Hadirnya beliau makin hangatkan suasana buka bersama.

Baca Juga: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Soal Disertasi Seks Di Luar Nikah

Terdapat beberapa pesan yang Ust. Khoirul Umam sampaikan sebelum adzan magrib berkumandang. Beliau bertolak dari pengalamannya yang baru saja diskusi bersama mahasiswa. Bicara tentang ekonomi dan prospek Islamisasi mengenainya.

Islamisasi akan dimulai dari asumsi-asumsi mendasar, begitu kurang lebih kata ustadz Umam. Istilah lainnya, islamisasi bermula dari mental framework yang kita miliki. Ilustrasi Ustadz Hamid di kelas sebelumnya ialah bukan mengenai apa atau berapa buku yang kita baca. Tapi yang pertama mesti diperhatikan adalah, bagaimana cara kita berpikir.

Berikutnya, Ustadz Umam tegaskan bahwa keberhasilan puasa, juga tidak terlepas dari mental framework. Ada misal, orang berpuasa karena memang miliki framework yang tepat. Ia niatkan untuk ibadah kepada Allah SWT. Tapi tak bisa dipungkiri, ada juga mungkin di antara kita berpuasa tersebab faktor lain. Karena manusia, atau karena lingkungan yang menuntut untuk itu.

Bukan berarti lingkungan tidak penting, bukan. Ustadz Umam juga ingatkan pentingnya ukhuwah. Bahwa kegiatan seperti ini adalah hal positif yang mesti terus dijaga. Dan bahwa ini juga hanyalah permulaan, yang akan capai puncaknya saat roadshow Bulan Desember nanti.

Tapi poin Ustadz Umam adalah, yang di dalam miliki peran lebih besar daripada yang ada di luar.

Baca Juga : Bedah Disertasi Abdul Aziz “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital”

Lebih baik cara berpikirnya benar, dan tidak jenggotan… Daripada berjenggot tapi pikirannya kacau… Tapi tentu lebih baik berjenggot dengan pikiran yang lurus pula,”, ujar beliau sambil bergurau.

Tidak terasa, petang akhirnya datang. Dari Masjid UNIDA terdengar mu’adzin berkumandang, memberikan tanda kemenangan kepada peserta PKU yang sudah jalani pertarungan. Semoga dengan buka bersama yang manis ini, dapat ingatkan tiap diri agar selalu berdoa dan bermuhasabah. Bahwa melawan diri sendiri memang sulit, tapi ia adalah prasyarat utama sebelum hadapi problematika umat. Tapi ia juga sepadan, dengan manisnya kemenangan di Hari Perhitungan.

Rep. Arif Setya Basuki
Ed. Admin PKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.