Arif Setya Basuki

Selasa, 13/8/2019, ketika subuh itu rasanya dingin, membawa hembusan angin, menusuk tulang-tulang yang menggigil. Dingin yang mungkin, akan lenakan banyak manusia. Untuk lanjutkan rehatnya kembali, sebelum sang mentari tiba.

Namun di Asrama Ali UNIDA Gontor, justru terjadi fenomena langka zaman milenial, nampak merapat satu persatu pemuda ke suatu pojok sederhana.

Bagi pemuda lainnya, menghangatkan tubuhnya di balik selimut, tetapi berbeda dengan pemuda-pemuda ini, yang menghangatkan akal dan ruhnya dalam majelis tholabul ilmi. Para pemuda yang memiliki harapan untuk menjadi cahaya penerang umat suatu hari nanti.

Baca Juga: Budaya Ilmu dan Kebangkitan Peradaban

Pojok itu bernama “Teras Peradaban”, sebuah nama yang mengingatkan patik akan kenangan di Jogja dahulu.

Sebuah Teras yang mana menjadi pusat aktivitas manusia setiap waktu. Teras yang memberi kesan sederhana nan nyaman, bagi tiap insan penimba ilmu.

Di Teras itu, kami bersama Sang Guru, Ust. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengkaji buku “Prolegomena to the Metaphysics of Islam”.

Beliau menuturkan sebuah pertanyaan yang mungkin sering kita anggap sambil lalu, “What is religion?”.

Bahasan yang pagi itu, sudah masuki halaman ke 53, di mana ayat ini muncul :
“إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ ۗ”

Berislam, kata ust. Hamid ketika mengomentari ayat tersebut, bukan hanya berarti berserah diri.

Karena kata din sendiri di dalamnya sudah mengandung makna berserah diri. Maka tidak tepat jika Islam dimaknai hanya dengan “submission” atau berserah diri.

Tidak tepat juga jika ayat di atas diterjemahkan dengan “sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah berserah diri”, seperti yang dipahami oleh penganut paham pluralisme.

Karena pemaknaan berserah diri terhadap “Islam”, akan membuatnya overlap dengan konsep din, yang juga mengandung makna berserah diri.

Manakala berislam menurut Al-Attas adalah “sincere and total submission”, keberserahan total dan jujur diri, pada keinginan tuhan.

Hal itu hanya bisa dicapai dengan rela menjadi hamba, dan menturuti hukum yang Ia tunjukkan. Hanya dengan berislam, konsep din yang benar dan sempurna dapat terealisasi.

Pertanyaannya kemudian adalah, “bagaimana berislam (dengan benar dan total) itu?”.
Guna ilustrasikan bagaimana, Ust. Hamid dalam pertemuan singkat tersebut menjelaskan dua analogi berdasarkan dua pemaknaan penuh bobot yang ditulis oleh Al-Attas.

Baca Juga: Pentingnya Islamic Worldview dalam Tantangan Dakwah Kontemporer

Pertama adalah analogi kerajaan (kingdom), dan kedua adalah dengan analogi perdagangan (al-tijarah). Dua buah analogi yang sayang rasanya jika harus dijelaskan dalam artikel singkat ini.

Ibarat manisnya permen, seperti itu juga halnya ilmu. Manisnya ilmu akan lebih manis jika dirasakan langsung.

Lagipula gurunda, ust. Hamid, bukanlah sosok yang jauh. Rekaman kajian juga tersedia, jika kita mau sedikit mencari dan memburu.

Manisnya ilmu itulah, yang buat waktu tak terasa berlalu. Ternyata jam sudah menunjukkan setengah tujuh pagi.

Sudah kurang lebih satu jam pertemuan pagi itu berlangsung. Sebuah pertemuan yang singkat namun sarat akan ilmu. Akhirnya, kita berhenti di halaman 57.

Salah satu hikmah dari kajian tersebut, patik kembali mengingat apa sebenarnya Islam itu. Islam bukan hanya kepercayaan semata, namun ia juga tentang moralitas dan etika. Islam adalah agama yang syumul, komprehensif yang memberikan segala petunjuk dalam hidup.

Itulah kenapa, mungkin, Al-Attas memberi judul pembahasan ini dengan “Islam : The Concept of Religion and the Foundation of Ethics of Morality”. Yaitu guna menjawab bobroknya pahaman umat sekarang, terhadap hakikat agama ini.

Bahkan setelah pagi itu terlewat, muncul satu pertanyaan dalam diri: “Do I really know my Religion (Islam) well?”. Semoga Allah selalu menjaga Al-Attas, ust. Hamid, dan seluruh guru-guru kita. Dan semoga, Allah berikan kesempatan kepada kita untuk kembali bertemu.

Bersama kembali memahami apa itu Islam dan posisinya sebagai asas dalam hidup.[]

Penulis adalah Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan XIII
Ed. Achmad Reza Hutama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.