Oleh: Siti Djunnuraini

“Al-ma’hadu laa yanamu abadan”“Taharrak inna fi al harokah barokah”“Kulla yaumin nahnu fi as-Sya’n”.

Falasafah-falsafah ini kiranya selalu lekat dalam kehidupan Gontor maupun Universitas Darussalam Gontor. Gontor selamanya tidak akan pernah tidur, dan memang demikianlah kiranya yang kita, masyarakat sekitar Gontor maupun tamu-tamu yang berkunjung dapati dan saksikan dari setiap harinya.

Dengan adaya pergerakan, santri-santri dan mahasiswa/i nya selalu disugesti dengan barakah yang akan mengiringi setiapnya. Dengan menyibukkan diri, tentu akan timbul sebuah dinamika yang akan melahirkan inovasi-inovasi baru untuk terus mengembangkan diri sehingga termotivasi untuk terus berbuat, memberi, memberi dan memberi.

Maka, sungguh benar kiranya sebuah pernyataan, “Gontor adalah lahan jariyah bagi para pendahulunya dan lahan ibadah bagi orang-orang yang datang setelahnya
Tidak ada kata libur di Gontor, Setiap hari akan ada aktifitas-aktifitas bermanfa’at yang membekali diri sebagai persiapan berjuang di masyarakat – sebagai mundzirul qaum. Demikian juga dengan Program-program yang berada di dalamnya seperti Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor di kampus pusat Universitas Darussalam.

Pada hari Kamis, 08/08/19, hall hotel tidak seramai biasanya hanya terlihat beberapa orang duduk serius di depan laptop masing-masing. Ya, hari ini memang tidak ada materi perkuliahan seperti biasanya. Sehingga terhitung sejak pagi hingga siang sampai sore harinya, setiap peserta PKU khidmat mengerjakan tugas-tugas akademik maupun non-akademik.

Kegiatan hari ini adalah penugasan wajib yang diagendakan di hall hotel dan CIOS sekitarnya dan di depan kantor staf. Sebelum sibuk dengan penugasan, setiap peserta juga wajib untuk membubuhkan tanda tangan di absen kehadiran.
Begitulah sebagian kecil gambaran aktifitas dan kegiatan PKU Gontor jika ditilik setiap harinya. Tidak ada materi perkuliahan bukan berarti kosong kegiatan. Selalu ada miliu yang terciota. Karenanya setiap hari tidak lepas dari hal-hal yang bermanfa’at.

Hal ini mengingatkan kita pada salah satu hadits nabi yang merupakan anjuran untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. “Igtanim khomsan qobla khomsin syababaka qobla haramoka, wa ghinaaka qobla faqrika, wa sihhataka qobla saqomika, wa faroghoka qobla syuglka wa hayataka qobla mautika.” (H.R. Hakim).

Semoga kita semua menjadi manusia yang selalu menghargai waktu, agar tidak tergolong manusia-manusia yang rugi. “Kalau tidak amanu wa ‘amilu as-sholihati, famadza qulti lirabbika”, pesan Kiyai Haji Hasan Abdullah Sahal mengingatkan. “Kalau tidak beriman dan mengerjakan amal (perbuatan) baik, apa yang akan kamu katakan kepada Tuhanmu?”

Wallahu ‘alam bi al-shawab.

Penulis adalah peserta PKU Angkatan XIII

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.