Penulis Berita : Aida Hayani/ Peserta PKU Unida Gontor Angkatan XV

Di era post-modernisme ini kebenaran dari suatu pengetahuan itu dianggap dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman. Tidak ada yang tetap untuk menjadi tolak ukur dalam mengetahui kebenaran. Manusia-manusia era post modernisme tentu saja bersentuhan langsung dengan teknologi dan komunikasi yang semakin maju, membuat batas-batas yang dahulu sulit bahkan tidak boleh dilewati, kini begitu mudah menembus batas tersebut. Beberapa manusia mulai menginginkan dan memperjuangkan hal-hal diluar nalar dengan dalih demi memperoleh haknya.

Hal ini menyebabkan norma agama khususnya Islam dianggap tidak relevan lagi dengan era post-modernisme ini. Untuk itu, sudah seharusnya umat Islam bangkit untuk meluruskan kembali aturan atau norma Islam untuk mencegah manusia-manusia era post-modernisme ini tersesat lebih jauh dari kebenaran.

Baca juga : Amr Ma’ruf Nahy Munkar ditengah Pengaruh Pluralisme dan Orientalisme

Melalui Webinar Pemikiran & Peradaban Islam Program Kaderasi Ulama (PKU) XV Universitas Darussalam yang bekerja sama dengan LDK FOSMA USK, diharapkan dapat menjadi salah satu wadah solusi terhadap persoalan-persoalan umat Islam di era post-medernisme ini. Webinar ini secara resmi dibuka oleh Talbani Farlian selaku keynote speaker dari LDK FOSMA USK dan Ustadz Muhammad Taqiyyudin, M. Pd.I  yang merupakan dosen pembimbing PKU XV. Webinar yang diselenggarakan pada Ahad, 14 November 2021 diisi oleh Lisa Aulia, S.S dengan judul Melacak Asal usul kekerasan terhadap Perempuan (Violence against Women Suatu kajian Historis Kritis” dan Andi Muhammad Hamas Akbar, S. Ag dengan judul “ New Age Sprituality Ancaman Baru Agama-Agama.”

Lisa selaku pemateri pertama mengungkapkan sebab utama kekerasan terhadap perempuan (violence against women) atau VAW. VAW merupakan kekerasan berbasis gender yang dirumuskan dari Deklarasi PBB pada 1993 berdasarkan ide feminisme terutama liberal, radikal, dan Marxis/sosialis. Deklarasi tersebut merumuskan ketidaksetaraan sebagai akar dari VAW. Untuk menemukan akar dari terciptanya ketidaksetaraan, peniliti mengambil rumusan 4 sebab-sebab VAW dari Michele Harway dan James M. O’Neil. Perumusan keduanya menghasilkan empat sebab-sebab VAW yaitu biological factors, gender-role socialization factors, relational factors, dan macrosocietal factors. Feminisme memahami patriarki (macrosocietal factors) sebagai sebab utama padahal sebab ini tidak dapat dipahami kemunculannya. Sehingga biological factors lebih tepat menjadi sebab utama dari tiga sebab lainnya karena terlihat secara real keunggulan yang dimiliki oleh laki-laki. Di sisi lain, biological factors tidak mampu menjawab persoalan laki-laki yang menjadi korban kekerasan oleh perempuan. Empat sebab-sebab tersebut dengan sendirinya bersifat partikular. Dengan demikian, dibutuhkan rumusan sebab utama yang komprehensif dalam menjawab persoalan kekerasan

Baca juga : Perjuangan Menjernihkan Kebenaran di Era Digital

Pamateri kedua, Hamas  mencoba mengkritisi New Age Sprituality Ancaman Baru Agama-Agama. Dimana beliau memaparkan bahwa makin maju suatu masyarakat maka makin menurun komitmen mereka pada agama. Maju dalam hal ini diartikan sebagai modernisasi, yang berdampak terhadap penihilan peran agama dari institusi dan ruang public. Selanjutnya hamas juga mengungkapkan bahwa paham sekularisme pada awalnya dinilai sebagai bentuk pembebasan masyarakat Barat terhadap kekangan gereja. namun, seiring berjalannya waktu sebagian masyarakat Barat menganggap bahwa pada ujungnya sekularisme dapat menyesatkan mereka, hal ini dikarnakan paham sekularisme berdampak pada penihilan nilai nilai agama oleh masyarakat Barat sehingga banyak ditinggalkan orang. tak terkecuali, para pendeta yang juga menyesali atas hal ini, diantaranya dikatakan bahwa “Spirituality has gone to the east”. Maka, munculah salah satu gagasan di Barat untuk merespon dampak dari menghilangnya agama, sehingga menjadikan masyarakat barat merasakan kekeringan spiritual. Maka wajar jika ada yang mengatakan bahwa fase sekularisme Barat juga dapat diartikan sebagai fase “kekeringan” (spiritualitas).Akhirnya Barat mengakui pentingnya aspek spiritual dalam kehidupan mereka. Tetapi, bentuk spiritualitas ini tidak sama dengan pelbagai agama agama yang mayoritas diyakini oleh masyarakat global. Misalnya, mereka yang ateis maupun agnostik, cenderung memilih kepercayaan Zaman Baru atau biasa dikenal dengan new age spirituality.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.