Oleh: Agung Fahmi Ulum

pku.unida.gontor.ac.id- Istilah konstruksi sosial atau realitas (Social Construction of Reality), menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang berjudul “The Social Construction of Reality; A Treatise in the Sociological of Knowledeg” (1996). Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksi, yang mana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyekif.

Dalam teori konstruk sosial ini, institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau dibuahkan melalui tindakan dan interaksi manusia. Jadi, meskipun masyarakat dan insitusi sosial terlihat nyata secara obyektif, namun pada kenyataannya semuanya dibangun dalam definisi subyektif melalui proses interaksi masing-masing individu. Jadi konstruksi adalah sesuatu yang membangun kepercayaan kita berdasarkan klaim-klaim tertentu. Dalam kaitannya dengan sifat-sifat laki-laki dan perempuan, konstruksi tersebut dipercaya dihasilkan oleh sistem masyarakat patriarkal, sehingga memberi keuntungan yang lebih banyak bagi laki-laki.

Inilah yang menjadi landasan para pegiat/aktivis kesetaraan gender dalam mengajukan ide-ide mereka. Yaitu pembagian gender yang ada sekarang adalah berlandaskan pada konstruk sosial. Jadi di sana tidak ada identitas gender yang asli, semuanya dibentuk melalui ekspresi dan pertunjukan yang berulang-ulang hingga terbentuk identitas gender. Jenis kelamin kita yang sudah ditentukan secara biologis menjadi tidak begitu penting dalam wacana kesetaraan gender ini. Dengan kata lain, Gender adalah jenis kelamin kita baik perempuan atau laki-laki berdasarkan konvensi budaya dan bahasa yaitu feminin dan maskulin. Jadi menurut mereka, yang menentukan apakah seseorang itu feminim atau maskulin adalah konstruksi sosial dan budaya berdasarkan jenis kelamin kita pada saat kita dilahirkan.

Seks, gender, maupun orientasi seksual adalah konstruksi social, yang itu semua sesuatu yang sifatnya cair (fluid), tidak alamiah, dan berubah-ubah, (serta dikonstruksi oleh kondisi sosial). Gender memperlihatkan bagaimana diskursus maupun tindakan yang terus dilakukan oleh masyarakat secara berulang-ulang menghasilkan pengertian tentang seks dan gender baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Proses materialisasi gender yang selama ini dilakukan berada dalam sistem hegemoni heteroseksual, sehingga jika gender seseorang keluar dari norma sosial yang berlaku, dikatakan menyimpang. Maka, transgender dan homoseksual bukanlah suatu penyimpangan sosial, melainkan suatu variasi dalam identitas manusia yang didasarkan pada tindakan performatif.

Para aktivis kesetaraan gender menganggap adanya kekerasan gender dari hasil konsepsi performativitas yang tunduk pada hegemoni tertentu. Untuk itu dibutuhkan proses negosiasi terhadap norma-norma sehingga menghasilkan performativitas gender yang lebih terbuka dan tanpa kekerasan. Termasuk dalam penafsiran ajaran-ajaran agama yang masih kaku ketika bersangkutan dengan masalah ini. Yang pada akhirnya mereka ingin menyamakan hak dalam segala hal antara laki-laki dan perempuan.

Sebagai contoh adalah peran dalam kegiatan sehari-hari, seperti lebih banyak perempuan jadi juru masak jika di rumah, tetapi jika di restoran lebih banyak laki-laki jadi juru masak. Di Jawa misalnya, pada zaman penjajahan Belanda kaum perempuan tidak memperoleh hak pendidikan. Setelah Indonesia merdeka, perempuan memiliki kebebasan untuk mengikuti pendidikan. Pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan terhadap perempuan dikarenakan budaya setempat, antara lain: perempuan hanya diutamakan untuk menjadi perawat, guru TK, pengasuh anak.Tatanan seperti inilah yang ingin dirubah dan diganti dengan kemitraan yang sejajar antara laki-laki dan perempuan.

Namun disadari atau tidak, ide yang ditawarkan tersebut melupakan elemen terpenting dalam pembentukan kontruksi sosial, yaitu faktor biologis yang mana sudah pasti bertentangan antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah kodrat yang telah diatur oleh yang Maha Kuasa yang manusia tidak memiliki pilihan selain menerimanya. Karena menerimanya berarti menerima hidup. Dan agama Islam telah mengatur masalah ini dengan sempurna sesuai dengan kemaslahatan yang ada.

Maka, dalam teori kontruksi sosial gender terjadi kerancuan dalam pemisahan mana yang sosial dan mana yang kodrati. Karena diakui atau tidak, aspek yang lebih dominan dalam pembentukan konstruksi sosial ini adalah aspek kodrati (biologis). Seperti menyusui, hamil, menstruasi, dll, yang itu semua berpengaruh pada kehidupan sosial, baik diri si perempuan sendiri atau siapa saja di sekitarnya. Jadi kodrat wanita dan laki-laki lah yang mengkontruk soasial, bukan karen masyarakat yang membentuknya. Dan Islam telah membagi tugas masing-masing sesuai dengan kodratnya.

Memang pada dasarnya manusia sebagai individu telah melakukan konstruksi sosial. Semua ini bisa kita lihat ketika seseorang melakukan interaksi dengan orang lain, pada proses interaksi tersebut masing-masing pihak berusaha untuk mempengaruhi orang lain agar mempercayai ucapannya. Melalui proses interaksi yang terus menerus akan menghasilkan suatu kesesepakatan bersama. Kesepakatan bersama pada akhirnya akan membentuk struktur dalam masyarakat seperti norma, etika, sistem dan lain-lain. Struktur sosial atau institusi merupakan bentuk atau pola yang sudah mapan yang diikuti oleh kalangan luas di dalam masyarakat. Akibatnya institusi atau struktur sosial itu mungkin kelihatan mengkonfrontasikan individu sebagai suatu kenyataan obyektif dimana individu harus menyesuaikan dirinya.

Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolik yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupannya. Pendek kata, terjadi dialektika antara individu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Namun yang harus menjadi catatan adalah aspek biologis menjadi aspek paling dominan dalam pembentukan konstruksi sosial tersebut. Aspek biologis inilah wujud dari manusia yang di dalamnya mengandung fitrah, jati diri, dan kepribadian.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU X) Unida Gontor.
Ed. admin pku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.