Oleh : Muhammad Nurhadi

pku.unida.gontor.ac.id- Dewasa ini dunia dibuat terpukau dengan kemajuan dan perkembangan peradaban Barat,  yang mana hal itu mengakibatkan tidak sedikit di antara penduduk dunia berbondong-berbondong mengadopsi worldview atau pandangan hidup Barat secara mentah-mentah agar timbul kemajuan dan perkembangan pada diri mereka. Cara pandang serta gaya hidup yang dilakukan oleh orang-orang Barat, berusaha untuk ditiru dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Seolah-olah jalan yang ditempuh oleh Barat merupakan cahaya yang dapat mencerahkan masa depan meraka dan menjadi awal pembaruan bagi kehidupan mereka.

Nampaknya, mereka yang memandang bahwa pandangan hidup barat dapat mencerahkan masa depan dan menjadi titik awal pembaruan, tidak mengetahui hakikat pandangan hidup Barat. Mereka hanya melihat dari sisi luarnya saja, tanpa menengok apa yang sesungguhnya terdapat di dalam “tubuh” Barat. Bagi umat muslim yang berpegang teguh dengan agamanya, ketika melihat Barat dari segala sisinya akan mendapatkan hal-hal negatif yang justru dapat menjadikan runtuhnya sebuah “bangunan” yang dibangun atas ajaran Islam.

BACA JUGA: Pendidikan Akhlaq Berbasis Ta’dib

Fakta Sejarah Turki
Mari kita lihat fakta sejarah bagaimana Turki Utsmani yang menjadi salah satu korban dari pengadopsian pandangan hidup Barat. Ketika Turki Utsmani mulai mengalami kemunduran setelah betahun-tahun berada dalam puncak kegemilangannya, Wazir Agung Turki yang merupakan figur kunci, mengadopsi pandangan hidup Barat yang ketika itu terlihat semakin maju dan berkembang. Dengan mengadopsi pandangan hidup Barat, wazir agung merasa yakin akan mampu menjadikan Turki maju dan jaya sebagaimana kejayaan yang pernah dicapai pada masa lalu.

Proses pembaruan ini diawali dengan pengiriman pemuda-pemuda berbakat untuk belajar ke Eropa guna menutupi kelemahan dan kekurangan yang ada di Turki ketika itu. Selain itu, para ahli Eropa juga diundang ke Turki untuk mempercepat proses pembaharuan. Sedikit demi sedikit, mereka kemudian memeperkenalkan ide-ide modern Barat dan filsafat ke dalam sekolahan-sekolahan di Turki. Dan ide-ide barat pun mulai diterapkan kedalam sistem pemerintahan Turki yang ketika itu masih berupa sistem kekhalifahan.

Singkat cerita, sistem kekhalifahan sudah dianggap tidak relevan lagi dan saatnya menggunakan sistem demokrasi sebagaimana yang diterapkan oleh Barat. Pada tahun tahun 1924 secara resmi kekhalifahan Turki ustmani dihapuskan dan digantikan dengan sistem replublik. Yang mana ketika itu yang diangkat sebagai presiden Negara Turki adalah Musthafa Kemal Ataturk, yaitu seorang yang berpaham sekuler. Sehingga, pembaruan yang dilakukan oleh Turki dengan mengadopsi Barat berujung kepada sekularisasi yang berakibat pada pemisahan antara negara dan agama.

Selain berujung pada sekularisasi, pada akhirnya fakta membuktikan bahwa tidak ada kemajuan dan perkembangan yang berarti bagi negara Turki. Baik kemajuan dibidang infrastruktur, ekonomi, politik maupun dalam bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan seperti masjid dan sekolahan yang ada sekarang hanyalah warisan dari Dinasti Turki Utsmani. Dalam bidang ekonomi, justru ketika dibawah sistem kekhalifahan lebih bisa menjaga stabilitas harga dibanding dengan dunia Barat. Hal ini menunjukkan bahwa sistem Barat pada hakikatnya bukan menjadi solusi dalam melakukan pembaharuan dan memajukan sebuah negara.

Pembaruan Dalam Islam
Menyoal tentang pembaruan dalam Islam, terdapat beberapa perbedaan arah pembaruan antara para pembaharu pra-modern dan dan pembaharu modern. Para pembaharu sebelum periode modern melancarkan pembaruan untuk memurnikan kehidupan keagamaan ummat Islam dari bentuk penyelewengan-penyelewengan agar sesuai dengan corak kehidupan sederhana seperti yang dipraktekkan zaman Rasulullah dan ulama salaf. Akan tetapi pembaharu modern bertujuan untuk memberikan tafsiran baru ajaran Islam agar sesuai dengan situasi kehidupan modern.

Ironisnya, sebagian dari pembaharu modern salah dalam memahami arti dari pembaruan itu sendiri. Pembaruan pemikiran keagamaan dalam Islam atau tajdid sering kali diterjemahkan menjadi modernisasi dan kini bahkan menjadi liberalisasi dan sekularisasi. Padahal tajdid berbeda dengan modernisasi, sekularisasi ataupun liberalisasi, baik secara epistemologis maupun metodologis. Ini semua terjadi sebab paradigma keilmuan Barat sudah mendominasi hampir di semua bidang.

Jika ditelusuri, akar pembaruan dalam Islam sebelum abad modern dapat ditarik dari apa yang dipelopori Ibnu Taimiyah (1263/1328) di Siria dan Mesir dalam memurnikan ajaran Islam. Upaya pembaruan tersbut ditindak lanjuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke dua belas/delapan belas di semenanjung Arabia, Syah waliyullah (1702/1762) di India pada masa yang sama. Pada bad modern, Muhammad Abduhm(1849/1905) beserta muridnya M. Rasyid Ridha (1865/1935) di Mesir, Nenik Kemal, Zia Gokalp di Turki, Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Muhammad Iqbla di India, dan di Indonesia ada Ahmad Dhalan , Haji Agus Salim, Imam Zarkasyi.

BACA JUGA: Syariah Perspektif Gender, Mungkinkah?

Pembaruan yang mereka lakukan merupakan aktifitas untuk merubah kondisi umat Islam seperti yang dicita-citakan. Pembaruan Islam dalam pandangan mereka adalah penemuan kembali ajaran dasar yangberlaku abadi dan dapat melampaui batasan ruang dan waktu (Deliar Noer). Mereka meyakini bahwa apa yang mereka upayakan adalah untuk kemaslahatan hidup umat Islam seperti yang dicita-cotakan ajaran Islam atau tidak bertentangan dengan kaidah agama Islam. Karena tentunya ajaran Islam akan terus relevan sepanjang zaman.

Kesimpulan
Pembaruan yang ditawarkan oleh Barat hakikatnya merupakan bentuk sekularisasi yang sudah sangat jelas hal itu bertentangan dengan Islam. Hal ini dibuktikan dengan sejarah Turki yang berupaya melakukan pembaruan dengan mengadopsi Barat, akan tetapi hasilnya Turki disekularkan, dan ternyata tidak memberikan perubahan yang berarti bagi negera Turki. Jadi, sebenarnya pembaruan ala Barat bukan merupakan solusi untuk membuat negara menjadi maju dan berkembang. Pembaruan yang seharusnya menjadi acuan adalah pembaruan yang telah dicontoh oleh para ulama salaf al-shalih dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman, bukan justru menjauhkan dari nilai-nilai itu.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XIII) Unida Gontor.
Ed. Yongki Sutoyo

2 Thoughts on “Problem Pembaruan Pemikiran Islam; Dari Modernisasi ke Sekularisasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.