pku.unida.gontor.ac.id- “Ekstrimisasi keadaan adalah ciri khas dari argumentasi kaum feminis” Begitu kata ustadz Ahmad Arifin ketika menyampaikan pemaparannya dalam kajian Central of Islamic Occidentalis Studies (CIOS) Ahad (11/9) yang bertempat di Hall Hotel Unida Gontor.

Kajian tersebut sejatinya adalah acara dalam mempelajari pemikiran-pemikiran Barat yang bertentangan dengan worldview Islam. Selain itu, kajian tersebut juga merupakan sebuah usaha untuk menemukan dan mengembangkan beberapa konsep Islam dan mengaplikasikannya dalam landasan berfikir dan aktifitas umat Islam sehari-hari.

Dalam kesempatan kali ini, tema yang diangkat untuk didiskusikan adalah “Problem Kesetaraan Gender serta pengaruhnya dalam hukum Islam”. Tema ini cukup menarik karena kesetaraan gender adalah tema yang sedang tren di seluruh dunia, terkhusus di Indonesia, lewat kemunculan RUU P-KS beberapa waktu lalu.

Adapun yang mendapatkan tugas sebagai pemateri dalam acara kajian tersebut adalah ustadz Ahmad Arifin S.Ag. Beliau adalah salah satu peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Unida Gontor angkatan ke 13.

BACA JUGA: Feminis dan Kontroversinya

Sebelum memulai kajiannya mengenai problem kesetaraan gender serta pengaruhnya terhadap hukum Islam, ustadz Ahmad Arifin terlebih dahulu memaparkan secara ringkas mengenai landasan epistemologis kaum feminis ketika menerapkan perspektif gender terhadap berbagaimacam bidang, termasuk agama.

“Kaum feminis selalu melihat semuanya dari perspektif gender. Mereka selalu berdalih dengan feminim sebagai bentuk dari konstruksi sosial. Namun pada faktanya konstruksi sosial yang mereka maksud hanyalah sekedar spekulasi tanpa adanya bukti yang ilmiah.” Begitu pemaparan beliau.

Selain itu, lanjut beliau, sebagian besar argumentasi dari kaum feminis biasanya berasal dari pengalaman sejarah yang terlalu didramatisir dan overacting. “ekstiminasi –sikap melebih-lebihkan, red.- adalah ciri khas dari argumentasi kaum feminis. Dari sana munculah kesan bahwa perempuan adalah mahluk yang selalu tertindas oleh dominasi kaum lelaki.”

Kemudian setelah itu beliau menjelaskan bahwa pengaruh dari gerakan feminisme ini sudah terasa di berbagai macam instansi masyarakat, “Gerakan kaum feminis sebenarnya sudah berada dalam tataran akar rumput (gressroot) lewat kajian-kajian PKK nya.

Juga sudah masuk juga kedalam ranah pemerintahan sehingga muncul undang-undang berperspektif gender. Tentu, semua hal itu terlebih dahulu sudah muncul dalam tataran akademis di kampus-kampus, terutama kampus Islam.”

Akhirnya, beliau masuk pada tema inti tentang problem kesetaraan gender serta pengaruhnya terhadap Hukum Islam. Mengenai hal ini, beliau menyebutkan empat dari sekian banyak bidang yang menjadi contoh pengaruh kesetaraan gender terhadap hukum Islam. keempat bidang tersebut adalah permasalahan rumah tangga, hak waris, talak dan masa iddah.

Baca Juga: Problematika dalam Konstruksi Sosial

Mengenai point yang pertama beliau menyebutkan bahwa pengaruh kesetaraan gender terhadap institusi rumah tangga terletak pada pemahaman bahwa perempuan/istri adalah pihak yang selalu tertidas.

Oleh karena itu, pemahaman tersebut tidak pernah diterima dalam Islam “teori konflik yang selalu digaungkan oleh feminisme dalam penyikapan mereka terhadap institusi keluaraga jelas tidak berlaku dalam Islam. Agama Islam tidak pernah memandang suami-istri sebagai pihak yang menindas dan ditindas hanya karena status suami adalah pemimpin rumah tangga”. Ungkap Ahmad Arifin lulusan AFI UIN Yogyakarta.

Sedangkan point yang kedua, ketiga dan keempat, beliau mengungkapkan bahwa pasti akan selalu ada hikmah dibalik syariat-syariat yang berlaku dalam hukum Islam. Oleh karena itu, syariat tersebut tidak perlu dipandang dalam perspektif gender dengan takaran “untung” dan “rugi”. “penjelasan yang saya pakai untuk kasus-kasus ini adalah penjelasan mengenai hikmah dibalik syariat tersebut”. “dalam kasus waris, alasan kenapa laki-laki mendapatkan satu bagian dan perempuan setengah karena kebutuhan laki-laki sebagai kepala keluarga lebih banyak.

Selain itu, uang yang diperoleh suami suatu saat akan sampai kepada istri juga. Itulah hikmahnya. Maka, dalam kasus apapun, syariat Islam akan selalu memiliki hikmah didalamnya, termasuk masalah talak dan iddah.” Ujar beliau.

Sebagai penutup dari kajian tersebut, beliau mengutip penggalan ayat dalam QS. al-Nisa (34/03) yang berbunyi “ar-Rijalu Qawwamuna ‘Ala nisa bima faddalalahu ba’dukum ‘ala ba’din”.

Menurut beliau, ayat tersebut secara jelas menunjukan pada kita bahwa posisi perempuan dan laki-laki dalam Islam bukanlah saling menguasa dan dikuasai.

Tetapi posisi mereka adalah posisi yang saling melengkapi karena baik itu laki-laki ataupun perempuan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang telah Allah berikan.

Terakhir, setelah beliau memaparkan secara luas mengenai problem kesetaraan gender serta pengaruhnya dalam Hukum Islam, moderator kajian tersebut membuka sesi tanya jawab dan mempersilahkan kepada audiens untuk bertanya mengenai persoalan-persoalan yang memiliki kaitan dengan tema judul telah dibahas sebelumnya.

Setelah terjadi tanya-jawab yang cukup menarik antara pemateri dan audiens maka akhirnya acara CIOS tersebut bisa berjalan dengan lancar dan berakhir dengan penuh khidmat.[]

Rep. Fachri Khoerudin (Peserta PKU Gontor ke-13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.