pku.unida.gontor.ac.id-Pada hari Senin (9/12/2019) Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) mengadakan Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam di Universitas Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogjakarta, acara tersebut diikuti oleh Para mahasiswa UIN SUKA dari berbagai program studi yang ada di universitas tersebut.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Adapun sambutan disampikan oleh Pembimbing Lembaga Dakwah Kampus UIN SUKA ( Dr. Okrisal Eka Putra, Lc,. M.Ag ), Sambutan berikutnya oleh Pembimbing PKU al-Ustadz Dr. Imam Kamaludin, L.c,. M. Hum. Dalam sambutannya beliau menyampaikan tentang kegiatan yang di laksanakan oleh Program Kaderisasi Ulama selama 6 bulan dan tujuan diadakannya program PKU. Kemudian dilanjutkan oleh al-Ustadz Arif Setia Basuki selaku moderator yang memimpin Diskusi tersebut.

Penyampaian materi pertama oleh al-Ustadzah Ayu Arba Zaman dengan judul ” Konsep Tubuh dalam RUU – PKS (sebuah tinjauan kritis) dari intisari tersebut adalah Definisi Kekerasan Seksual di dalam RUU P-KS memiliki latar belakang epistemologis yang berangkat dari tesis Marx yang mengatakan bahwa penindasan yang terjadi pada manusia bukan terjadi secara alamiah melainkan memang ada suatu sistem yang menguasai subjek atas suatu objek. Dalam konteks tersebut perempuan ditempatkan sebagai objek. Hal ini membuat suatu dobrakan narasi yang mendorong agar manusia bebas dari penindasan tersebut maka muncullah suatu narasi yang dinamakan otonomi tubuh di mana ia adalah suatu upaya sistematis berkelanjutan agar manusia memiliki kesadaran akan kebebasan mutlak atas tubuh yang dimilikinya. Konsep kebebasan demikian bersifat kedisinikinian yang mana motifnya ialah mengakomodasi segala bentuk ekspresi manusia pada zamannya dalam hal ini seksualitas. Maka definisi Kekerasan Seksual yang salah satunya terdapat frasa Secara Paksa sudah otomatis akan muncul, karena persetujuan adalah salah satu manifestasi kebebasan seseorang dalam kepemilikan atas tubuhnya.

Pembicara Kedua, oleh al-Ustadz Fauzan Azima dengan judul “Konsep kafir dalam Tiga Agama Besar (Yahudi-Kristen-Islam)”. Dengan intisari Istilah kafir bukanlah istilah yang memiliki makna yang diskriminatif atau memecah belah umat. bahkan istilah ini adalah istilah yang toleran terhadap agama lain bila di tilik dari maknanya, Bila istilah ini di relatifkan, maka akan berimplikasi kepada hilangnya truth claim, dan itu merupakan langkah awal dari pluralisme agama. Padahal,  setiap agama memiliki konsep yang serupa seperti islam, walaupun dalam istilah yang berbeda.

Pembicara Ketiga Oleh al-Ustadz Muhammad Kholid dengan judul “Muhammad Syahrur dan Konsep Milk al-Yamin” Bisa simpulkan bahwa Syahrur telah menghalalkan zina, karena bangunan konsep milk al-yamin Syahrur menyerupai pemahaman zina dalam Islam, Ada Inkonsistensi dalam menggunakan teori Hudud, konsep milk al-yamin Shahrur bertentangan dengan teori hudud yang kelima, Metodologi dan Epistemologi Shahrur berbeda dengan apa yang ada dalam khazanah keilmuwan Islam.

Acara seminar Pemikiran dan peradaban Islam diakhiri dengan Epilog oleh Dr. M. Kholid Muslih, M.A, beliau menyampaikan kesimpulan bahwa dalam Islam ada ukuran-ukuran dalam berfikir, karena dengan ukuran-ukuran tersebut akan melahirkan kepastian, dengan adanya kepastian itu akan menghadirkan kehidupan yang normal. Diakhir sambutanya, beliau memimpin doa bersama. Alhamdulilah acara berjalan dengan kondusif, terlihat dari pertanyaan-pertayaan yang dilontarkan oleh peserta seminar.

Rep.
M. Shofwan Muttaqin

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.