pku.unida.gontor.ac.id- Pada hari Jum’at, 29 November 2019 Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) mengadakan seminar pemikiran dan peradaban Islam di Kampus UNIDA Putri, Mantingan, Jawa Timur. Diadakannya acara ini untuk memberikan wawasan kepada mahasiswi terkait tantangan pemikiran kontempor yang terjadi akhir-akhir ini, baik pada skala nasional maupun internasional. Menjamurnya paham-paham yang merusak aqidah umat Islam di Indonesia khususnya, menjadi salah satu ladang dakwah bagi PKU UNIDA untuk mendekonstruksi pemikiran tokoh Barat maupun Muslim yang berargumentasi tanpa berlandaskan nash-nash al-Qur’an.
Dimulai pukul 13.30, acara ini dibuka oleh Direktur UNIDA Putri, Dr. Nurhadi Ihsan, MIRKH di Aula Unida putri. Beliau mengatakan bahwa acara seminar PKU ini adalah acara yang sangat penting, dengan adanya seminar ini akan terbuka wawasan kita mengenai tantangan pemikiran kontemporer di era sekarang ini.
Acara ini turut dihadiri oleh pembimbing PKU, peserta, dan seluruh civitas akademika universitas Darussalam kampus Putri Mantingan. Meski dengan kondisi cuaca yang panas, para hadirin tetap antuasias untuk mendengarkan beberapa pemateri. Pada seminar ini ada 3 utusan PKU Unida Gontor yang menjadi pembicara, Pertama, Ahmad Tauhid Mafaza dengan tema Konsep Ghaibah Syiah Imamiyah Isna’sariyah. Kedua, Fariz Mirza Abdillah dengan tema Metodologi Penafsiran Al Qur’an Muhammad Arkoun dan Implikasinya terhadap ayat-ayat Mawārits. Ketiga, Martin Putra Perdana dengan tema Islamisasi dengan sebagai paradigma keilmuan.
Dalam seminar ini bisa disimpulkan bahwa Konsep Ghaibah Imam Mahdi ini adalah konsep yang batil, mereka (Syiah) hanya untuk menutupi kerancuan konsep imam mereka. Konsep itu tidak mempunyai dalil yang kuat dan dapat dirobohkan dengan mudah oleh para muslim sunni.

lihat juga: Seminar ‘Problem Term Radikalisme Stigmatisasi Agama Islam’ di UNMUH Ponorogo

Berkaitan dengan konsep Arkoun mengenai Mawārits bahwa Dengan menggunakan metode hermeneutika, Akroun sebnarnnya hanya ingin meliberalkan tafsir al-Quran dari metodologinya yg mapan, berangkat dari memanusiakan teks dia ingin menyebarkan keraguan terhadap alquran sehingga berujung pada dekonstruksi hukum-hukum syariah yg terkandung di dalam al-Qur’an.

Lalu mengenai tema “Islamisasi Ilmu sebagai paradigma keilmuan” yang dipaparkan oleh saudara Martin Putra Perdana bisa ditarik benang merahnya bahwa Perkembangan keilmuan tidak pernah dari kontribusi komunitas keilmuan yang mengembangkan, mengelola suatu bentuk pendekatan ilmu dengan bersungguh2 dengan acuan pemikiran dan komitmen yang sama, sehingga melahirkan paradigma keilmuan. Karena paradigma adalah komitmen intelektual para ilmuwan, maka worldview tiap-tiap ilmuwan yang menjadi asas paradigma itu mempengaruhi, apakah suatu paradigma akan bertahan atau akan terganti. Oleh karena itu hadirnya paradigma yang berbasis Islamisasi sangatlah memungkinkan untuk diaplikasikan akhir-akhir ini, tinggal bagaimana kita memberikan kesempatan kepada Islamisasi untuk berkembang dan memungkinkan menjadi paradigma universal yang tidak hanya dapat digunakan oleh kalangan Muslim, namun juga non Muslim.
Pada hakikatnya seminar pemikiran dan peradaban Islam ini menjadi sebuah pembelajaran bagi peserta PKU UNIDA Gontor untuk mengasah wawasan keilmuwannya, khususnya mengenasi isu-isu pemikiran kontemporer. Sehingga kedepannya, dapat menjadi ulama’ yang tidak hanya bisa beribadah secara ritual, namun beribadah secara intelektul seperti yang sering disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.[]
Rep. Ach Fuad Fahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.