pku.unida.gontor.ac.id-Minggu sore (15/12) Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) melakukan kunjungan dan presentasi di Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization (PRISTAC) Depok, Jawa Barat.

Sebelum masuk pada presentasi dan uji materi para peserta PKU, terlebih dahulu ada beberapa sambutan, baik dari pihak PKU maupun pihak PRISTAC.

Sambutan dari pihak PRISTAC, dikemukakan oleh Ustadz Nuim Hidayat, M.Si. Saat itu Ia mengenalkan tentang seluk beluk PRISTAC baik dari segi sejarah berdiri, sistem pembelajaran dan lain-lain. Bukan hanya pengenalan tentang pesantren, Nuim Hidayat juga menceritakan hubungannya dengan Dr. Hamid Fahmi Zarkasy ketika sama-sama mengurus majalah Islamia. Artinya, ada irisan yang sama antara PRISTAC dan PKU ditinjau dari aspek tujuan dan hubungan satu sama lain.

Sedangakan dari perwakilan PKU, Ustadz Adif Fuadi ditunjuk agar memberikan sambutan. Sebagaimana biasanya, ia mengenalkan PKU baik dari segi urgensi, program, tujuan, pelaksanaan sampai beberapa persoalan teknis. Terakhir, ia berpesan pada santri untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, karena tantangan umat kedepannya semakin berat.

Setelah sambutan kedua belah pihak, mulailah para peserta PKU memaparkan materinya. Ada tiga peserta yang mempresentasikan makalahnya, yaitu, Fariz Mirzha Abdillah, Ahmad Faizin Shaleh dan Fajrin Dzul Fadli.

Pemateri pertama Fariz Mirzha Abdillah mengangkat judul “Studi Kritis Metode Penafsiran Muhammad Arkoun Terhadap Ayat-Ayat Mawaris”. Saat itu ia menjelaskan kekeliruan pendekatan tafsir linguistik yang dilakukan Arkoun terhadap surat an-Nisa ayat 12 tentang waris.

Dalam aspek otoritas, Arkoun sama sekali tidak memiliki kemampuan yang mempuni sebagai mufassir. “Dalam tradisi Islam, tidak sembarangan seseorang bisa menafsirkan al-Quran. Ada syarat ketat bagi mufassir seperti aqidah yang selamat, hafal quran, penguasaan bahasa arab dan ilmu-ilmu yang menunjang untuk menafsirkan al-Quran” ujar Fariz.

Sedangkan dari aspek keterpengaruhan, ketika menafsirkan, Arkoun sangat terpengaruh teori David. S. Power yang mempertanyakan autentisitas al-Quran dilihat dari aspek linguistik. Maka Arkoun juga memakai pendekatan yang sama untuk mempertanyakan kalimat “yushi” dan “yuratsu” dalam ayat tersebut. Dalam pemaparannya, Fariz Mirzha Abdillah menyebut pendekatan itu terlalu mengada-ngada dan ini menunjukan otoritas Arkoun yang tidak memahami ilmu bahasa dan qiraat al-Quran.

Setelah Fariz Mirzha Abdillah, giliran Ahmad Faizin Saleh dengan judul “Problem Relativisme dan Implikasinya Terhadap Agama dan Sosial”.

Sesuai dengan judulnya, ia terlebih dahulu memaparkan bahaya paham bahwa kebenaran itu relatif. Padahal, dalam aspek sosial saja, semua orang sepakat bahwa pembunuhan itu jelek. Anggapan “jelek” menunjukan ada nilai yang pasti di dunia ini, tidak semuanya relatif.

Jika dari segi sosial saja bahaya, maka apalagi dalam aspek agama. Ia menjelaskan rusaknya agama jika relatifisme diterapkan sebagai cara pandang.

“Jika seluruh kebenaran itu subjektif, bahkan relatif, maka setiap orang akan menafsirkan agama sesuai kemauannya dan cenderung anti otoritas” Kata Faizin.

Dampak lebih lanjut dapat dilihat dari cara pandang Nashr Hamid Abu Zaid yang memandang al-Quran sebagai produk budaya. Kalam Allah dalam Quran dianggap seperti teks biasa, sehingga dapat diubah-ubah sesuai lingkungan, situasi dan zaman. Oleh karna itu, paham serba relatif terhadap segala nilai dan kebenaran tak bisa diterapkan terhadap agama Islam, bahkan persoalan sosial.

Terakhir, pemaparan materi dari Fajrin Dzul Fadli dengan judul “Kritik Argumen Homoseksualitas Barat”. Dengan judul tersebut, Fajrin ingin membuktikan bahwa homoseksual itu “disorder or ilness” bahkan dalam perspektif Barat sendiri.

Sebelum menjelaskan, Fajrin mewanti-wanti terhadap upaya normalisasi homoseksual yang dilakukan para aktifis dan pendukungnya lewat media cetak, film, komik bahkan kartun anak-anak. Apabila sudah seperti itu, maka homoseksual sudah dianggap wajar, lumrah dan merupakan salah satu keberagaman dalam bermasyarakat.

Selanjutnya ia memaparkan bahwa dulu ada beberapa kalangan Barat yang menganggap homoseksual itu penyakit. American Psychiatric Assosiation (APA) pada tahun 1952 menganggap homoseksual itu merupakan sebuah penyakit. Meski, dengan berbagai tekanan, hari ini APA sudah menganggap homoseksual sesuatu yang normal secara psikologis.

Selain APA, para ilmuan seperti Ronald Bayer, Robert L. Spitzer, Robert L. Kinney juga menganggap homoseksual itu tidak normal. Mereka melakukan penelitian yang membuktikan bahwa orang homoseks bisa berubah kembali melalui normal. Hal ini membuktikan, homoseksual adalah penyakit yang bisa disembuhkan.

Sebagai penutup dari pemaparannya, Fajrin Dzul Fadli mengatakan “Para ulama jauh lebih penting untuk kita dengarkan fatwanya daripada penelitian psikolog modern yang penuh dengan kepentingan dan kerancuan. Tak satupun ulama yang memfatwakan homoseksual itu normal dan halal” Ungkap Fajrin ketika menutup presentasinya.

Selesainya pemaparan ketiga pemateri di atas menandakan bahwa acara kunjungan dan presentasi PKU ke PRISTAC telah berakhir.

Namun sebelum itu, ada sebuah epilog dari ustadz Hasib Amrullah, M.Ud yang menyimpulkan dan menambahkan beberapa materi dari ketiga presenter sebelumnya. Setelah epilog berakhir, para pembimbing, mentor, staf serta peserta PKU mulai meninggalkan PRISTAQ untuk melanjutkan perjalanan ke Bekasi.

Rep.
Fachri Khoerudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.