Surabaya – Sabtu (15/12) PKU UNIDA Gontor angkatan tahun 2018 atau angkatan ke-12 ini, kembali adakan Seminar Pemikiran dan Peradaban Islam di bersama LDK kampus besar di Surabaya. Diantaranya adalah LDK JMMI Institute Sepuluh November (ITS). Kemudian di hari Senin (17/12) bersama LDK UKMKI Universitas Airlangga (UNAIR).

Pemateri di JMMI ITS diantaranya: Ustadz Daru Nurdianna (Studi Paradigma Pembangunan Pertanian dari Perspektif Islam); Ustadz Budi Utomo (Problem Sekularisme Perspektif Hadits: Studi Kasus Turki Utsmani); Ustadz Wildan Arif (Kritik terhadap Pembacaan Muhammad Abid al-Jabiri atas Teori Qiyas); dan dimoderatori Ustadz Khoirul Atqiya.

Seminar Pemikiran dan Peradaban Islam, sebagai sarana syiar keilmuan di kampus-kampus agar para mahasiswa dan aktivis kampus yang berpotensi menjadi orang-orang berpengaruh di waktu yang akan datang, mengenal peradaban dan pemikiran Islam yang tidak sekular dan liberal. Agenda ini merupakan agenda yang dinanti oleh aktivis JMMI.

“Agenda seminar PKU UNIDA Gontor ini adalah salah satu agenda yang ditunggu-tunggu oleh kawan-kawan LDK ITS, namun waktunya selalu saat libur kuliah dan untuk beberapa hari ini JMMI sedang ada agenda tahuan terpenting yakni Musyawarah Umum penanggung jawaban kepengurusan dan serah terima jabatan untuk ketua baru, sehingga mohon maaf atas penyambutan dan peserta di ITS tidak bisa maksimal”, tutur Ketua LDK JMMI ITS.

Senada dengan ungkapan LDK JMMI ITS, Ketua LDK UKMKI UNAIR juga mengungkapkan hal yang serupa. Diki Febrianto selaku Ketua Umum baru LDK UNAIR yang belum lama terpilih ini mengatakan dalam sambutannya:

“Alhamdulillah, sangat senang sekali LDK UKMKI UNAIR kembali didatangi PKU UNIDA Gontor untuk belajar tentang pemikiran Islam yang benar. Karena tantangan orang liberal dan kiri di UNAIR cukup terlihat. Mereka ‘cangkrukan’ setiap malam berdiskusi sampai pagi membahas soal kehidupan, peradaban dan negara, namun aktivis muslim yang lurus jarang melakukannya dan kami baru bisa mengadakan agenda kajian dengan InPas Surabaya hanya sebulan sekali. Semoga agenda ini memberi kami kekuatan untuk terus berjuang di jalan Dakwah yang penuh tantangan pemikiran ini”

Dalam prolog sebelum acara seminar inti, al-Ustadz Shohibul Mujtaba memberikan pengingatan terhadap fatwa MUI tentang keharaman Sipilis (Sekularisme-Pluralisme-Liberalisme), sehingga gerakan dakwah kampus ini harus terus berjalan.

Adapun pemateri di UNAIR diantaranya: Ustadz Khairul Atqiya dengan materi “Negara Islam: Antara Bentuk dan Nilai”; Ustadz Khoruddin Abdullah dengan membawakan makalah berjudul “Sekularisasi Pendidikan Indonesia: Analisis Terhadap Materi Ajar; dan Ustadz Usman Husni dengan topik “Kritik Terhadap Argumentasi Pluralisme Agama”; dan Ustadz Heri Yusuf sebagai moderator.

Saka, salah seorang peserta dari anggota LDK mengajukan pertanyaan tentang bagaimana mensikapi adanya fenomena umat muslim yang beragama namun untuk politik, bukan berpolitik untuk agama; serta kasus-kasus yang terjadi akhir-akhir ini yang menyangkut urusan umat secara internasional yang memecah-belah dan mengadu domba negara-negara yang dikenal basis politik Islamnya kuat; dan bagaimana saran bagi mereka selaku aktivis dakwah mahasiswa yang akan menjadi generasi penerus masa depan.

Kemudian, setelah pemateri utama selesai, Dr. Zahrul Fata, Lc., MA. memberikan epilog sebelum seminar diakhiri. Bahwa dalam perjuangan, jangan pesimif dg jumlah yg sedikit. Terbukti, dalam lintasan sejarah, tentara Islam selalu menang meski secara kuantitas jumlahnya lebih sedikit dari lawan.

Kemudian dalam persoalan negara Islam, perdebabatan tentang negara Islam telah terjadi sejak dulu. Dalam lintasan sejarah pernah diformat dalam bentuk khilafah, selanjutnya diformat dalam bentuk monarkhi. Disitulah letak elastisitas ajaran Islam. Dr. Zahrul menegaskan:

“Yang penting dari itu semua, Islam sangat mengedepankan syuro (musyawarah). Dalam konteks keindonesiaan, NKRI adalah kemufakatan para founding fathers yang harus dijaga.”

Kemudian Dr. Zahrul menambahkan bahwa sistem demokrasi harus bisa dimanfaatkan umat Islam dengan mengislamisasi kehidupan berbangsa dan bernegara di segala lini melalui parlemen.

Rupanya hal itu menjadi ‘kecemasan’ tersendiri bagi Barat sebagaimana yang terpapar dalam serial lecture yang pernah beliau ikuti di Oxford University yang bertajuk “Diffusion Islamic Laws Across Indonesia”. Rekaman audionya bisa diakses di podcast resmi Oxford (https://podcasts.ox.ac.uk/diffusion-islamic-laws-across-indonesia). Dalam acara itu disebutkan bahwa yang berpengaruh dalam munculnya perda syariah paska orde baru, bukan dari parpol. Yang memiliki pengaruh yang signifikan adalah aktor-aktor lokal yang mampu menggiring opini masyarakat. [] (Tim Warta A).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.