Oleh: Arif Setya Basuki

pku.unida.gontor.ac.id- Persoalan kepemimpinan memang selalu menjadi tema yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini tidak terlepas dari aspek kekuasaan, dimana baru-baru ini Indonesia telah melewati “pesta” rutinan demokrasi. Sebuah pesta yang telah memeras habis banyak tenaga, dana, sampai nyawa penduduk republik ini.

Bahkan dampaknya masih dapat kita rasakan, dengan membekasnya luka dan perpecahan yang menggores tubuh rakyat Indonesia hingga saat ini belum terobati. Fenomena tersebut menjadikan cacatnya kepemimpinan dalam Negara demokrasi.

Apabila kita membaca sejarah Islam, Rasulullah SAW telah memberikan perhatian yang sangat besar akan hajat kepemimpinan. Terlihat sangat besar perhatiannya terhadap umat Islam dari segala aspek.

Hal ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW tidak luput dari empat kode etiknya yaitu shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas atau berpengetahuan). Seperti yang disampaikan al-Mawardi dalam bukunya “Adab al-Dunyā wa ad-Dīn” bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu membangun Negara dengan enam sendi yaitu agama yang dihayati, pemimpin yang berwibawa, keadilan yang menyeluruh, keamanan semesta, kemakmuran sandang pangan, dan harapan kelangsungan hidup.

Sehingga kepemimpinan disini mempunyai ruang lingkup yang luas, bukan hanya pada aspek politik saja, akan tetapi dari segala aspek. Hal ini juga yang kemudian disinggung oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, selaku Wakil Rektor UNIDA Gontor.

Beliau menyampaikan hal tersebut pada hari Jum’at, 5 Juli 2019 dalam acara pembukaan Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan XIII UNIDA Gontor.

Walaupun terletak jauh dari ibukota Negara dan pusat-pusat kota lain, UNIDA Gontor ternyata tidak pernah absen kontribusinya bagi bangsa dan Negara ini, salah satunya dalam aspek kepemimpinan.

Namun, kepemimpinan seperti apa yang ingin dibentuk oleh UNIDA Gontor dengan PKU-nya?

Dr. Hamid Fahmy mengatakan bahwa semestinya hajat umat itu tidak hanya besar dalam kepemimpinan konteks politik saja, namun juga aspek-aspek lainnya.

Mulai dari aspek ekonomi, sosial, teknologi, kesehatan, sampai ke permasalahan sains atau pemikiran. Sayangnya, umat ini rasanya tidak menunjukkan perhatian yang besar dalam aspek-aspek lain yang mestinya juga turut diperhatikan.

Seperti bicara tentang aspek kepemimpinan dalam pemikiran, hal ini dianggap sebagai sebuah topik yang mungkin terkesan elitis dan langitan bagi banyak orang.

Padahal, tidak perhatiannya umat terhadap hajat kepemimpinan di berbagai bidang hanya akan berdampak negatif terhadap umat sendiri. Inilah yang dijelaskan lebih lanjut oleh salah satu pemikir Islam kontemporer Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dengan munculnya istilah pemimpin-pemimpin yang rusak. Yang pada gilirannya nanti akan memengaruhi semua kebijakan yang berhubungan dengan kehidupan umat.

Karena dalam konteks kepemimpinan, kebaikan dan keburukan seorang pemimpin akan memberikan pengaruh dalam kehidupan masyarakatnya.

Menurut al-Attas salahsatu dimensi yang fatal pengaruhnya bagi kehidupan adalah problem pendidikan, sebagai akibat dari pengaruh dan hegemoni Barat.

Hal inilah yang akan menghasilkan ilmu-ilmu yang juga rusak, dan pada gilirannya akan menyebabkan kebingungan serta kekeliruan dalam ilmu (confusion and error of knowledge). Kebingungan akan ilmu inilah yang kemudian menghasilkan amal yang juga rusak.

Manifestasinya seperti yang bisa kita lihat, adalah kembali munculnya pemimpin-pemimpin yang corrupt. Inilah oleh Al-Attas disebut sebagai vicious circle yang dijelaskan secara komprehensif dalam salah satu magnum opus-nya yaitu Islam and Secularisme.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita bisa mengakhiri lingkaran setan dari fenomena tersebut?

Hal itulah yang ternyata ingin dijawab oleh Program Kaderisasi Ulama. Bicara tentang PKU adalah bicara tentang pemupukan intelektualitas. Kapasitas intelek yang sesuai dengan cara pandang Islam ini, yang dalam bahasa Dr. Hamid Fahmy akan melahirkan pemimpin dengan otoritas dalam bidang masing-masing.

Dengan begitu, adanya PKU bukan hanya ditujukan untuk dapat membentuk ulama yang bisa memberikan khotbah, atau dapat bicara tentang fiqh ibadah. Akan tetapi outcome darinya memiliki tanggung jawab dalam memahami dan menjawab tantangan pemikiran kontemporer yang berasal dari Barat berupa westernisasi, globalisasi, liberalisasi, sekularisasi, pluralisme, relativisme dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam Misi PKU ini juga mereka dituntut untuk mengembangkan skill dalam memimpin, mendidik, berdakwah, berusaha, berpolitik, mengembangkan ilmu (self-study), berdikusi, berdebat, berpolemik, berdialog baik secara lisan maupun tulisan.

Hal inilah yang dibutuhkan oleh umat sekarang, dalam aspek kepemimpinan yaitu jiwa-jiwa pemimpin yang mampu bertanggung jawab dan menjawab persoalan-persoalan umat. []

Penulis adalah Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) ke-13 UNIDA Gontor.
Ed. Farhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.