pku.unida.gontor.ac.id- Peserta PKU XIII UNIDA Gontor mendapatkan kesempatan yang kesekian kalinya untuk berpartisipasi dalam seminar umum yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Acara ini bertempat di Hall CIOS pada Selasa malam, 24 Juli 2019.

Acara yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan dosen IQT ini mengundang Dr. Abdurrahmin Yapono M.A. M.Sc sebagai narasumber. Beliau menyelesaikan program doktornya di Universitas Malaya dengan tema disertasi “Tafsir Isyari”, penulisan disertasi ini atas dasar saran dari Prof Amal Fathullah Zarkasyi, karena jarang ada orang yang meneliti tafsir jenis ini.

Tema yang diangkat dalam seminar tersebut adalah “Abd al-Karim al-Qusyairi dan Sumbangannya dalam Tafsir Simbolik: Analisis Karya Latha’if Isyarat”.

Dalam sambutannya, Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls selaku Dekan Fakultas Ushuluddin menyampaikan bahwa mahasiswa IQT adalah mahasiswa terbanyak kedua setelah prodi SAA di Fakultas Ushuluddin.

Beliau juga membahas spketrum luasnya pembahasan tafsir al-Qur’an serta keagungannya “Ilmu yang paling tinggi adalah Ilmu Tafsir, karena objek kajiannya adalah Kalam Ilahi” tutur beliau ketika menyampaikan sambutan.

Baca Juga: Feminis dan Kontroversinya

            Dr. Abdurrahman diawal presentasinya menceritakan riwayat perjalanan Imam al-Qusyairi, “dalam bidang akidah, sebagai pengikut Asyā‘irah. Setelah berkenalan dengan tasawuf dari guru beliau Syeikh Ali al-Daqqaq, beliau menggabungkan metode takwil, metode salaf: ithbāt-tanzīhi dan metode tasawuf: dzawq-syuhūdi.

Dalam bidang figh beliau mufti Syafi’yah; dan termasuk salah seorang ulamanya yang disejajarkan namanya dalam kitab-kitab Tabaqāt al-Syāfi‘iyyah.  Bergelar Al-Ustadz, yakni gelar penggiat fiqh tasawuf dan ushul fiqh tasawuf”. Tutur beliau yang juga alumni Gontor 1986.

Selanjutnya beliau membahas tentang syarat-syarat dari tafsir Isyari. Pertama, Menyertakan makna zahir, seperti “al-qalam” (pena), takwilnya: setiap alat tulis, isyarinya: alat perubahan peradaban, alat komunikasi, alat ilmu pengetahuan, dll.

Kedua, Makna Isyarat sebagai dilalah al-kalam (makna indikator ) diperkuat oleh dalil Syara’ yang lain. Ketiga, Tidak bertentangan dengan syara’ dan rasio. Keempat, Tidak mendakwahkan bahwa isyarat adalah satu-satunya makna tanpa mengakui makna lahir lafal. Kelima, Penafsiran tidak terlalu jauh hingga tidak ada hubungannya dengan hakekat lafal.” tegas Dr Abdurrahman yang juga sedang merintis Pondok Modern Darul Ihsan.

Lathā’if Isyārāt merupakan refleksi cermin yang dikaitkan dengan penafsiran al-Qur’an, bertujuan untuk mengaca diri. Sebuah karya seorang sufi besar berpendidikan tinggi. Ide “cermin” berasal dari pengamatan Paul Nwyia tentang Tafsir Lathā’if Isyārāt karya Abu Qasim Al-Qusyairi, yang dimuat dalam Jurnal Studi Al-Qur’an, Vol. II, No. 1, 2007, hal. 171 dst.

Menurut Nwyia, tafsir Al-Qusyairi berbicara tentang makna esoterik Alqur’an atau batinnya. Makna inilah yang dimaksud dengan “refleksi cermin” yang dipantulkan dari  “permainan dua atau lebih cermin”. Yakni pemaknaan metafora yang evokatif  (membangkitkan ingatan supaya eling- sadar) dari noda kepada pembersihan diri seperti dalam diskursus tasawuf  agar tetap dekat dengan Al-Haq Rabbul ‘Izzah. Wallahu a’lambishowab

Rep: Muhammad Kholid 
Editor: Achmad Reza Hutama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.