Penulis Berita : Aco Wahab/ Peserta PKU Unida Gontor Angkatan XV

Perjuangan para pahlawan melawan penjajahan terus berlanjut. Bagi generasi muda, perjuangan itu telah bertransformasi di era digital dengan melawan derasnya arus informasi dan pemikiran. Mereka yang bertarung melawan hegemoni penjajahan informasi oleh para kapitalis dan oligarki, punya tugas berat menegaskan kembali kebenaran di tengah kelimpahan informasi dunia digital. Kaburnya informasi di era digital ini dikarenakan banyaknya fenomena hoax yang semakin marak. Fenomena hoax tidak hanya dipahami sebagai kesalahan dalam memfilter informasi, akan tetapi adanya pengaruh filsafat postmodern yang mengacaukan garis pembatas antara berita benar dan salah, sehingga menyulitkan upaya pemilahan.

Sebagai aksi nyata perjuangan, pada hari Pahlawan tepatnya 10 November 2021. Universitas Darussalam Gontor melalui Program Kaderisasi Ulama (PKU) XV bekerjasama dengan UKMKI UNAIR menyelenggarakan Webinar Pemikiran dan Peradaban Islam. Ada dua topik hangat yang didiskusikan. Pertama, Problem Kebenaran Postmodern di Era Digital: Kajian Kritis Perspektif Islam yang dikupas oleh Amri Adhitya, S.Pd. dan Kedua, Konsep Islam Nusantara: Suatu Kajian Historis Kritis yang dibahas oleh Dr. Aida Hayani, M.Pd.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Dr. Abdul Rahem Drs., Apt., M.Kes selaku pembina UKMKI UNAIR dan Hasib Amrullah, M.Ud selaku Dosen Pembimbing PKU XV yang mewakili Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. Abdul Rahem memberi pesan kepada para peserta untuk mengikuti hingga kegiatan selesai dan bersikap kritis terhadap persoalan yang nanti dibahas. Selanjutnya, Ustadz Hasib Amrullah dalam prolognya, menegaskan,

Baca juga : Berislam di Tengah Turbulensi Pemikiran

Kita berada di zaman yang disebut dengan zaman post truth. Zaman di mana orang tidak lagi mencari kebenaran tapi justru mempertanyakan kebenaran. Apakah kebenaran itu benar-benar ada?. Hal ini menunjukkan begitu banyak orang dengan ide-ide secara bebas disebar di dunia maya, semua orang bisa membaca, berdiskusi dan mengungkapkan pikirannya. Oleh sebab itu realitas di depan kita sudah tidak jelas mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam webinar ini, pemateri pertama Amri Adhitya mengatakan untuk mengatasi masalah problem kebenaran di era digital, setidaknya ada 3 konsep dalam Islam. Pertama, Konsep Kebenaran, berfungsi sebagai landasan epistemologis dalam mengklasifikasikan pemaknaan kebenaran yang arbitrer. Kedua, Konsep Otoritas yang menjadi penjaga kebenaran karena menjadi rujukan otoritatif terhadap suatu isu. Ketiga, Konsep Tabayun sebagai aksi nyata dalam memfilter dan menelusuri kebenaran informasi. Ketiga konsep di atas saling mengisi dalam upaya menegaskan kebenaran di era digital.

Selanjutnya dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Azizah Romadhona sebagai moderator, Pak Wahyudi bertanya tentang perbedaan istilah Al-Haq dan al-Haqiqah. Amri sebagai pemateri pertama menjawab Al-Haq merupakan suatu kondisi yaitu kebenaran, sedangkan al-Haqiqah merupakan realitas. Menurut Al-Attas dalam bukunya Prolegomena, kondisi kebenaran dalam Islam disebut juga Al-Haq, dimana ia merupakan kondisi realitas sekaligus kebenaran. Hubungan keduanya yaitu realitas (al-haqiqah) bisa dipahami ketika menempatkan fitrah sesuai dengan tempatnya atau sesuai dengan petunjuk Tuhan (revealed knowledge). Ketapatan mengkonstruk pemahaman realitas itu, akan menjadikan suatu kebenaran bersifat holistik. Hal ini berbeda dengan Barat yang memisahkan pengetahuan observatif-saintifik dengan agama yang memberi petunjuk. Islam mengakomodir keduanya dalam terma al-Haqq. Dalam konteks kebenaran di era digital, landasan epistemologi ini akan membetengi diri dari membenarkan hal yang menghegemoni. Betapa kuatnya goncangan terhadap perspektif, ia tidak akan terjangkit sesat pikir seperti halnya membenarkan LGBT, dan sebagainya.

Baca juga : Permendikbud No 30/2021: Karpet Merah bagi Pelegalan Seks Bebas di Kampus

Diskusi semakin menarik ketika saudara Haris bertanya mengenai ketidaksadaran muslim terhadap pengaruh paradigma postmodernisme dan menjadikan satu-satunya cara mendakwahkan Islam. Merespon hal ini, Amri menjelaskan, Di sinilah letak ketidakkonsistenan post modernisme, di mana post modernisme ini merupakan sebuah hal yang relativisme tetapi di kondisi yang lain mereka juga memaksakan pandangannya itu. Ini merupakan sebuah hal yang ambigu, karena post modernisme itu sebenarnya mengakui berbagai macam pandangan tetapi di sini mereka menolak pandangan yang berbeda dari mereka.”

Amri kemudian menjelaskan tips untuk menyadarkan mereka yang terjangkit pola pikir postmodernisme. Post modernisme itu bisa kita ketahui dari paham relativisme. Kita sering mendengar tentang kebenaran mutlak hanya pada Allah dan kebenaran yang ada pada manusia adalah kebenaran relatif atau nisbi. Lantas bagaimana dengan Nabi Muhammad yang merupakan seorang manusia. Di sinilah perlu pemahaman kebenaran dalam Islam itu bersifat gradual, ada sisi-sisi yang tidak bisa berubah juga bersifat mutlak dan ada juga bisa berubah dan relatif. Ketika semua hal itu direlatifkan maka pondasi dari agama ini akan runtuh. Mengidentifikasi pola pikir postmodernisme ini akan mengurangi kebimbangan di tengah semaraknya pemikiran di dunia digital.

Baca juga : Kesetaraan Gender bukan sebuah Keadilan

Setelah sesi diskusi, ditutup epilog oleh Ustadz Faqih Nidzom, M.Ag berkenaan dengan kebenaran di era digital ini. Tentu hal ini bisa diteropong dari berbagai ragam perspektif. Salah satunya adalah perspektif filosofis, seperti yang dijelaskan Ustadz Faqih,

Dalam konstruksi epistemologi Islam, setidaknya ada 4 hal yang harus kita bedakan karena akan membedakan juga dari bagaimana kita memberikan klaim dan menyikapinya. Yaitu: 1. Kebenaran yang bersifat mutlak atau yakin. 2. Ilmu yang masih bersifat Dzon (dugaan kuat). 3. Ilmu yang bersifat syaq (ragu). 4. Bersifat wahm (sudah jelas salahnya). Dalam tingkatan epistemologi ini tentu kita akan berbeda dalam membuat klaim dan memberikan sikap. Tentu pada hal-hal yang yakin sudah terbukti kita harus menyatakan dengan yakin juga tidak boleh setengah-tengah atau tidak boleh berada dalam pertengahan tanpa memberikan sikap apa-apa dan harus bersikap tegas.”

Setelah epilog yang disampaikan oleh Faqih Nidzom, M.Ag. bisa dipahami landasan epistemologis Islam sangat penting. Di tengah kekeruhan informasi yang menyiratkan berbagai macam pemikiran, seorang muslim haruslah sadar akan bahaya relativisme gaya postmodern. Dengan begitu, perjuangan melawan penjajah secara fisik memang telah usai, akan tetapi perjuangan melawan penjajah pemikiran baru dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.