Oleh: Lisa Aulia / Peserta PKU Angkatan 15

Menjamurnya perpustakaan bukan hanya bentuk kecintaan terhadap ilmu namun selaras dengan peradaban yang maju. Keselarasan ini merupakan bentuk dari kebutuhan yang timbal-balik atas peradaban yang ditopang keilmuwan yang mumpuni dan kehadiran perpustakaan atas peradaban yang mapan dan stabil. Sehingga kemudian kebutuhan peradaban atas cendekiawan-cendekiawan yang keilmuwan yang mumpuni dapat menjadi bagian dari proses memajukan peradaban itu sendiri. Implikasi dari pemerintahan dengan cendekiawan yang mumpuni akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang tepat dan sesuai baik secara Islam maupun kebermanfaatan dan kebaikan bagi masyarakat. Oleh karena itulah perpustakaan mengambil andil yang besar dalam melahirkan cendekiawan-cendekiawan yang dengan kontribusi keilmuwan mereka akan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dan memikat hati begitu banyak orang akan nilai-nilai Islam yang universal dan tidak ada kecacatan. Dengan demikian keduanya berada dalam posisi saling membutuhkan walaupun baik peradaban dan perpustakaan tengah merosot posisinya di dunia Islam.

Baca juga: MENINJAU SASTRA SEBAGAI KEBUDAYAAN DALAM ISLAM – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Berseminya Perpustakaan di Peradaban Islam

Tidak dapat dipungkiri betapa krusialnya peran perpustakaan. Hal tersebut kemudian mendorong pemerintah hingga dunia pendidikan dari formal hingga non-formal untuk memperkaya koleksi perpustakaan hingga mempermewah bangunannya sebagai cangkang pelindung sumber pengetahuan tersebut. Sehingga didapati kerja keras serta keseriusan pemerintah dalam menciptakan fasilitas yang memadai bagi pembelajar dan hal tersebut dapat ditemukan secara masif di negara-negara Barat. Beberapa perpustakaan besar dengan jutaan koleksi saat ini adalah perpustakaan Tianjin Binhai di China, Stuttgart di Jerman, Central Library of Vancouver di Kanada, Biara Admont di Austria, dan The Bodleian di Inggris[1]. Lima perpustakaan tersebut merepresentasikan negara-negara maju dengan perekonomian yang sudah mapan di abad moderen saat ini namun lima perpustakaan tersebut hanya bagian kecil dari keseriusan Barat dalam membangun peradaban dengan perpustakaan sebagai basisnya. Daftar perpustakaan yang telah disebutkan sebelumnya belum termasuk perpustakaan-perpustakaan mega besar di Amerika Serikat terutama di universitas-universitasnya yang mendeklarasikan keseriusan terhadap pengetahuan.

Keberadaan perpustakaan dengan koleksi mencengangkan tidak hanya didominasi di negara Barat karena membudayakan ilmu pengetahuan melalui perpustakaan bermula dari peradaban Islam. Peradaban Islam telah lama mengenal perpustakaan terutama peradaban inilah yang mengawalinya terutama di era Dinasti Abbasiyah sebagai salah satu masa kejayaan Islam[2]. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyak buku yang diterjemahkan oleh para ulama yang memiliki kedalaman ilmu yang tidak dapat ditampik beserta nilai-nilai kecintaan terhadap ilmu yang berakar dari Islam. Era Dinasti Abbasiyah yang bermula dari 650 M kemudian menjadi awal munculnya koleksi buku berupa perpustakaan yang berdiri di masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dan berkembang pesat terutama jumlah koleksinya saat masa Khalifah al-Ma’mun. Perpustakaan tersebut yaitu Bait al-Hikmah menjadi perpustakaan terbesar selain perpustakaan-perpustakaan pribadi milik cendekiawan di era itu[3].

Baca juga: Epistemologi Islam : Hubungan Antara Wahyu dan Akal Menurut Imam Al-Ghazali – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Perpustakaan dan Kemajuan Peradaban

Perpustakaan menjadi basis penting berkembangnya ilmu atas kebutuhan peradaban terutama selaras dengan kemajuan Dinasti Abbasiyah di Bagdad. Kebutuhan akan peradaban ini adalah mendidik generasi-generasi penerus yang akan menyebarkan indahnya Islam. Hal tersebut tidak dapat dicapai tanpa hadirnya ilmu pengetahuan secara memadai yang direpresentasikan salah satunya dengan perpustakaan. Terbukti perpustakaan Bait al-Hikmah tidak hanya mendorong masyarakat di era Dinasti Abbasiyah untuk mencintai dan serius dalam mempelajari Islam namun juga menarik perhatian dan minat masyarakat di seluruh dunia untuk berbondong belajar ke Baghdad atas koleksi buku yang teramat menggiurkan untuk dilewatkan. Sehingga kemajuan dinasti selaras dengan aktivitas yang masif di perpustakaan terutama dalam bidang penerjemahan. Penerjemahan sendiri kemudian membuka jendela-jendela ketidaktahuan yang kemudian membantu umat muslim mengembangkan apa-apa yang sudah ditemukan di masa lalu terutama di masa Yunani dan tentu saja keseriusan dalam mengkaji peradaban Islam era Nabi Muhammad SAW[4].

Perihal kecintaan terhadap ilmu sudah Islam tanamkan sejak agama yang sempurna tersebut menginjakkan kaki di bumi. Hal tersebut dapat dilihat dari ayat pertama yang Allah SWT turunkan yaitu iqra’ dimana bermakna membaca sehingga dengannya manusia dapat mengetahui keesaan penciptanya dan tidak luput atas tanggung jawab yang manusia pikul untuk menjadi sebaik-baik pemimpin di dunia[5]. Sehingga tampak jelas bahwa Islam teramat menjunjung tinggi ilmu yang dengannya manusia dapat diarahkan kepada kebenaran-Nya sebagai tujuan utama ilmu. Penghapusan ketidaktahuan yang juga merupakan kebodohan seharusnya menjadi misi agar umat muslim mengetahui identitas yang membentuk dirinya beserta pemaknaan atas segala yang Allah SWT berikan kepadanya.

Walaupun fungsi perpustakaan teramat krusial namun tidak banyak pihak terutama pemerintah dengan masyarakatnya yang mayoritas muslim kemudian berupaya menyediakan koleksi buku yang lengkap. Hal ini kemudian berimplikasi pada menurunya semangat dalam menuntut ilmu dan mengurangi kecintaan terhadap ilmu. Kurangnya kecintaan terhadap ilmu akan mendegradasi pengetahuan dan pemahaman akan pencipta dan diri sendiri sehingga didapati muslim yang terombang-ambing oleh kontrol Barat. Di sisi lain, Barat tengah aktif menyemai pengetahuan dengan semakin memperbanyak koleksi buku yang kemudian meramaikan dunia penelitian. Tidak berhenti disitu, penelitian-penelitian tersebut dirumuskan menjadi buku-buku yang kemudian menyebarkan pemikiran penulis baik yang selaras dengan Islam dan lebih banyak yang tidak selaras. Pemikiran-pemikiran terlarang tersebut kemudian tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, didapati manusia yang berpikir selayaknya orang Barat terutama saat berhadapan dengan agama. Oleh karena itu, tidaklah aneh jikalau manusia di era modern menyetujui keyakinan tiada tuhan yaitu Ateis hingga pemikiran-pemikiran menyimpang seperti feminisme, pluralisme, sekularisme dan lain sebagainya. Semua paham tersebut adalah produk Barat yang laku terjual di pasaran dan juga ikut disantap oleh muslim.

Penutup

            Kehadiran perpustakaan tidak hanya menjadi potret keseriusan dalam keilmuwan namun juga aktifnya aktivitas keilmuwan. Aktivitas keilmuwan ini terlihat dari masifnya penelitian dan penerjemahan yang kemudian menjadi tulisan yang tidak hanya berupa koleksi di perpustakaan namun penyebaran pemikiran ke seluruh penjuru dunia. Upaya dan kerja keras ini berimplikasi pada cara berpikir dan kemudian berindikasi pada perubahan dari tatanan individu hingga kolektif atau sosial secara menyeluruh. Sehingga efek dari aktivitas keilmuwan yang ditopang dengan perpustakaan berdampak besar pada peradaban dan hal ini terlihat secara jelas di peradaban Islam yaitu Dinasti Abbasiyah. Namun demikian, peradaban yang telah lama runtuh ini “dilanjutkan” oleh peradaban Barat yang mana tidak hanya menghancurkan martabat keilmuwan namun juga sistem kehidupan masyarakat.

Baca juga: Madzab Nasional Indonesia : Kritik Terhadap Pemikiran Fiqh Hazairin Sandiko Yudho Anggoro / PKU XV – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id) 

[1] Inten Esti Pratiwi. 5 Perpustakaan Terbesar dan Termegah di Dunia. www.kompas.com/5-perpustakaan-terbesar-dan-termegah-di-dunia?page=all. diakses pada 31 Agustus 2021.

[2] Agung Sasongko. Di Dunia Islam, Pertama Kali Perpustakaan Umum Berdiri. www.republika.co.id/di-dunia-islam-pertama-kali-perpustakaan-umum-berdiri. diakses pada 31 Agustus 2021

[3] Rhoni Rodin dan Julita Zara, Perkembangan Kepustakawanan Islam Klasik dan Kontribusinya Bagi Perpustakaan Masa Sekarang, JUPITER  Volume XVII  No.1  Juni 2020, p. 5

[4] Tamim Ansary. Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Jakarta: Zaman. 2016.

[5] Rhoni Rodin dan Julita Zara, Perkembangan Kepustakawanan Islam Klasik dan Kontribusinya Bagi Perpustakaan Masa Sekarang, JUPITER  Volume XVII  No.1  Juni 2020, p. 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.