Oleh Akhmad Arifin

pku.unida.gontor.ac.id- Menurut Michel Foucault (1926-1984), pengetahuan adalah kekuasaan (knowledge is power). Dengan pengetahuan, seseorang dapat mengarahkan orang lain untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakininya. Dan, salah satu ‘arena’ penyebarannya adalah institusi pendidikan. Sebab, melalui lembaga pendidikan, setiap orang bisa saja diajarkan teori ‘evolusi’, ‘sejarah kejayaan indonesia di zaman kerajaan Hindu’, dan ‘kemunduran Indonesia kala berkuasanya raja-raja Islam’.

Sejarah dapat pula diklaim seolah-olah memihak pada suatu golongan tertentu. Beberapa waktu lalu, Gubernur Kalimantan Barat yang beragama Nasrani, mengatakan dalam sebuah pidatonya: “rakyat kita (Kalbar) mengalami penjajahan, dari penjajahan kerajaan Islam dan Belanda”. dalam nalar gubernur ini, sebuah proses penguasaan kerajaan atas suatu wilayah tertentu dalam satu bangsa diartikan dengan penjajahan. Maka, dengan logika serupa, semua sejarah kerajaan adalah sejarah penjajahan.

BACA JUGA: Sejarah Islamisasi Indonesia

Terdapat sebuah pernyataan lainnya yang membuat kita terhenyak. Misalnya “Akar Budaya dari Indonesia adalah Hindu dan Budha, bukan Islam”. Sudah tentu, nalar ini dibangun berdasarkan ‘framing’ buku pelajaran sekolah, yang memberikan gambar-gambar kemegahan candi-candi yang dibangun, gambaran raja-raja beserta prajuritnya yang gagah berani, dan ingin menyatukan seluruh nusantara. Sudah tentu tanpa sikap kritis sama sekali.

Padahal menurut Prof. Simuh dalam buku Pergumulan Islam dan Kebudayaan Jawa, agama Hindu tidak pernah dipeluk oleh penduduk Indonesia secara mayoritas. Mereka hanya hidup secara elitis dan menikmati kasta Brahmana, sedangkan pribumi sebagai kaum sudra dan paria. Senada dengan itu, Mansur Suryanegara mengatakan bahwa ‘candi’ bukanlah ukuran sebuah peradaban. Karena di balik bangunan candi ini, tersisa banyak jejak-jejak peninggalan penguasa masa lampau terhadap rakyatnya. Menukil dari pendapat Kepala Arsip Nasional, Moh. Ali Mansur menyatakan bahwa setiap terjadi pembangunan candi atau patung besar di wilayah pedalaman Jawa, muncul reaksi eksodus secara besar-besaran ke pesisir utara Jawa.

Pengetahuan tentang hal ini tidak pernah terdapat dalam catatan buku sejarah. Mereka hanya menghubungkan ‘bangunan’ dengan ‘kejayaan’ tanpa sikap reserve. Di sisi lain, kesadaran kaum muslimin terhadap sejarah sangat minim. Sehingga mudah diombang-ambingkan oleh narasi-narasi yang dipelintir.Hal ini dapat dilihat dari kejayaan Majapahit, terusirnya orang Hindu dari Jawa karena paksaan orang Islam, sampai peperangan antar wali yang mendukung para raja yang bertikai. Siapa yang menciptakan sejarah ini? Tak lain adalah Orientalis , yang telah mendirikan lembaga bahasa Jawa pada tahun 1830 di Surakarta, di waktu yang hampir sama dengan penulisan legenda atau mitos kesaktian raja, dan pertempuran antar wali.

Bagi mereka berislam itu cukup sholat lima waktu, selebihnya untuk kehidupan ‘sekuler’ yang tak ada keterkaitannya dengan agama. Sehingga, mereka tidak peduli ketika sejarah kaum muslimin dibelokkan sebagai sejarah yang dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa berdarah dan peperangan, dan tidak mempunyai kontribusi besar dalam membangun peradaban bangsa Indonesia.

Pada saat sekarang banyak orang yang tidak tahu tentang peristiwa yang terjadi di masa lampau. Banyak kelompok di Indonesia waktu itu, yang tidak menyetujui berdirinya negara Indonesia. Karena pada masa itu (waktu masa kemerdekaan), bangsa Indonesia terbelah antara ‘memihak’ pada kemerdekaan Indonesia, ataukah ‘menunggu’ keputusan pemerintahan Belanda, yang berkuasa sebelum takluknya Belanda ke Jepang pada 1942.

Sampai tahun 1952, Sekolah-sekolah Kristen yang ada di Indonesia (diantaranya adalah Kanisius) masih ‘membela’ kebijakan-kebijakan pemerintahan Hindia Belanda, terutama dalam menumpas perlawanan rakyat. Penumpasan terhadap perlawanan rakyat digambarkan bahwa waktu itu, terjadi perampokan, penjarahan, serta kelaliman raja kepada rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan Hindia Belanda, ‘turun tangan’ untuk mengatasi keadaan. Van Heutz, jenderal lapangan, diturunkan untuk menjamin keselamatan jiwa-jiwa penduduk. Padahal pada faktanya jendral ini membantai laki-laki, perempuan, anak-anak di Aceh.

Sejarah ‘Indonesia’ dibuat semakin terisolir dengan sejarah dunia. Bahkan motif Gold, Glory & Gospel, disembunyikan. Seolah-olah kedatangan mereka hanya berdagang, untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan semata. Padahal Menurut penulis Kristen, Edmun Woga, dalam buku Dasar-dasar Misiologi, (terbitan Kanisius), karya ‘misi’ (pengkristenan) selalu beriringan dengan semangat kaum kolonialis dalam meluaskan wilayah jajahannya.

Dekatnya misionaris penjajah dengan sultan atau raja menentukan kebijakan raja atas rakyatnya. Para sultan atau raja yang berpihak kepada Belanda, hampir bisa dipastikan bertindak brutal terhadap umat Islam. hal ini dapat dilihat bagaimana kebrutalan Amangkurat I dalam membantai 6.000 ulama yang dikumpulkan di alun-alun Kraton Mataram, kemudian membantai mereka. Pada akhirnya muncul pemberontakan, yang membuat Amangkurat kabur dan minta perlindungan kepada Belanda, sebelum mati di tahun 1677.

Pentingnya Pendidikan sejarah lainnya adalah, agar rakyat Indonesia tidak buta terhadap ‘pembangunan-pembangunan’ yang dilakukan oleh kaum penjajah. Di Pesisir Selatan, terdapat jalan yang membentang 25 km antara Kabupaten Bantul sampai Kebumen. Demi ‘menghormati’ yang membangun jalan tersebut, maka diberi lah nama jalan tersebut dengan nama ‘Daendels’. Padahal Daendels membangun jalan tersebut bukan untuk rakyat Indonesia, melainkan agar pengiriman pasukan kolonial lancar, sehingga ancaman pemberontakan dapat direspon dengan cepat. Begitu juga dengan pembangunan rel, kantor pos, pasar, sama sekali bukan untuk rakyat Indonesia, melainkan untuk kebutuhan bangsa Eropa yang bermukim di Indonesia.

BACA JUGA: Derasnya Arus Liberalisme Lunturkan Nilai-nilai Islam

Upaya lainnya untuk mendistorsi sejarah adalah dengan menempatkan PNI (Partai Nasionalis Indonesia) sebagai pelopor gerakan nasionalis. Hal ini adalah bagian dari deislamisasi, atau berusaha meminimalisir peran Islam dalam membangun peradaban bangsa ini. Karena pada faktanya, jauh sebelum munculnya PNI, atau bahkan sebelum adanya Sumpah Pemuda. Menurut Sartono Kartodirdjo, lembaga pendidikan pesantren sudah menaungi santri dari berbagai daerah, pengaruhnya meniadakan etnoregional, dan sejak semula memang dikenal sebagai pusat sentimen anti Eropa dan anti priyayi pro-penjajah.

Kebangkitan Nasional sendiri tidak lah muncul dari kelompok sekular, Boedi Oetomo. Waktu itu, Boedi Oetomo hanya lah sekelompok golongan priyayi Jawa yang fokusnya hanya menegakkan jawaisme atau Jawa Raya . Hal ini jelas tidak sebanding dengan gerakan Sarekat Islam, dimana waktu itu memiliki massa bawah yang sangat besar, dengan keanggotaan jutaan orang yang aktif dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Yang menarik adalah, yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bukan lah Sarekat Islam, melainkan Boedi Oetomo.

Sedangkan terkait dengan rumpun bahasa Melayu yang saat ini kita sebut sebagai Bahasa Indonesia yang dijadikan Bahasa Nasional, mempunyai sejarah yang sangat berkaitan dengan Islam. karena bahasa ini disebarkan oleh para ulama penyebar agama Islam di Indonesia. Bahasa Melayu (yang saat ini kita sebut Bahasa Indonesia), pada awal mulanya ditulis dalam huruf Arab pegon. Dan digunakan sebagai bahasa antar sultan, baik dalam melakukan surat menyurat maupun melakukan hubungan diplomatik.

Sudah tentu, masih banyak fakta-fakta sejarah yang tertutup yang diakibatkan oleh de-islamisasi penulisan sejarah Indonesia. Usaha deislamisasi sejarah tersebut bukan lah tanpa sengaja, melainkan dilakukan secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM). Sehingga, di sini lah pentingnya melakukan Islamisasi terhadap Ilmu Sejarah, terutama sejarah bangsa Indonesia. Masih banyak ‘PR’ yang harus dikerjakan, seperti terkait dengan ‘nenek moyang’ bangsa Indonesia (Pithecantropus), yang diasalkan dari teori yang tak pernah terbukti kebenarannya (teori Evolusi).[]

Daftar Pustaka

Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Bandung: Teraju, 2002)
Suryanegara, Mansur , API Sejarah, (Bandung: Salamadani, 2009)
Wiradnyana, Ketut, Michel Foucault: Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan Arkeologi, (Jakarta: Yayasan Obor, 2018)
Woga, Edmun, Dasar-Dasar Misiologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002)

Ed. Ahmad Rizky F

One Thought on “Pentingnya Islamisasi Pendidikan Sejarah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.