Oleh: Esty Dyah Imaniar

“Apa itu Islam?” tanya Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi ketika memulai sesi perkuliahan Program Kaderisasi Ulama XIII pada Senin (5/8) lalu di UNIDA Gontor.
Kemudian beliau menjelaskan perbedaan mengenai pandangan Islam sebagai agama, religion, dan diin yang ternyata sangat mempengaruhi pola kehidupan seseorang.

Mereka yang memandang Islam sebagai agama akan melihat syariat Rukun Islam sebatas ritual. Padahal jika memahaminya secara lebih konseptual dan substansial, seseorang menjadi berislam bukan hanya dengan melakukan shalat, tetapi bagaimana shalatnya menghindarkan maksiat, puasanya menumbuhkan taqwa, zakatnya membersihkan jiwa, dan hajinya melahirkan kebaikan-kebaikan.

BACA JUGA: Maraknya Fanatisme Madzhab Tertentu di Masyarakat Pedesaan

Dr. Hamid Fahmy menambahkan menjadi Muslim saja tidak cukup untuk mendekatkan diri pada Allah. Seseorang harus menaikkan level menuju Mukmin dan Muhsin. Pada tataran Mukmin, seseorang menjadi beriman bukan hanya dengan melisankan keenam poin Rukun Iman, tetapi juga bagaimana keimanan tersebut memancar dari perbuatan sehari-hari.

Dalam Hadits sendiri disebutkan terdapat 70 cabang keimanan yang semuanya merupakan amal perwujudan keyakinan. Sehingga mustahil seseorang mengaku beriman tanpa melakukan amal, sebaliknya beberapa amalan diisyaratkan secara gamblang sebagai bukti keimanan seseorang.

Sedangkan dalam tataran Muhsin, terdapat empat rukun yaitu berpikir, berkata, berbuat, dan merasa. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya sekaligus meyakini dilihat oleh-Nya. Karena kehati-hatiannya, seorang Muhsin tidak akan melakukan sesuatu yang tidak disukai Allah sekalipun “hanya” makruh. Masalahnya kemudian, karena kecenderungan beribadah melalui amal perbuatan dan belum terlalu sering melatih pikiran, seorang Muhsin sangat mungkin tergelincir dalam dosa-dosa pemikiran, sekalipun masih menjalankan amal ibadah dengan baik.

Maka untuk mencapai keselamatan pikiran, diperlukan fase terakhir dalam berislam yaitu Berpikir, yang dalam hal ini diwakili konsep Islam sebagai Pandangan Hidup (worldview).

Tantangan dakwah kontemporer bagi ulama, menurut Dr.Hamid adalah bagaimana menaikkan level keagamaan umat dari fase Muslim menjadi Mukmin kemudian Muhsin dengan pandangan hidup sesuai nilai-nilai Islam.
Sebab, pandangan hidup tidak hanya menentukan bagaimana seseorang memandang realitas kebenaran dunia dan segenap permasalahannya tetapi juga bagaimana dia akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan pendekatan islamic worldview.

BACA JUGA: PKU dan Krisis Kepemimpinan Umat

Dengan memiliki pandangan hidup yang benar dan kokoh, seseorang tidak akan mudah diombang-ambing ideologi maupun pemikiran modern semisal pluralisme, liberalisme, nihilisme, ralativisme dan sebagainya, yang seolah-olah ditawarkan sebagai solusi kemajuan umat padahal sebenarnya bertentangan dengan pandangan hidup Muslim.
Dengan mempelajari Islamic Worldview seorang ulama kontemporer juga dapat dengan cerdas menghadirkan Islam sebagai solusi permasalahan umat.

Meski begitu, menurut Dr.Hamid, dalam menjawab tantangan-tantangan pemikiran tersebut seorang ulama tidak serta merta harus menggunakan Wahyu (al-Qur’an) sebagai justifikasi kecuali teori tersebut benar-benar kuat.
Jika tidak, ketika teori tersebut dipatahkan oleh musuh-musuh Islam, secara akademik seolah nilai-nilai Alquran yang menjadi justifikasi juga ikut patah.
Wallahu a’lam bishawab.

Penulis adalah peserta PKU Angkatan XIII
Edited by Admin PKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.