Oleh : M. Yusuf Patria (PKU X)

imagesAkhir-akhir ini masyarakat di Indonesia terutama umat Islam kembali dikagetkan dengan berita penghinaan terhadap kitab Al Qur’an. Penghinaan tersebut dilakukan oleh seorang pemuda yang ternyata beragama Islam yang bepose dengan gaya menginjak Al Qur’an dan menyebarkannya di media sosial. Gambar tersebut langsung menjadi trending topic di kalangan pengguna media sosial. Pemuda tersebut akhirnya ditangkap  pihak berwenang karena telah meresahkan mayarakat luas.

Penangkapan tersebut ternyata bukanlah akhir dari permasalahan ini, karena jika ditarik kebelakang, kejadian penistaan terhadap Al Qur’an sudah terjadi berkali-kali dan penangkapan pun juga sudah berkali-kali. Artinya penangkapan dan pemenjaraan bukanlah sebuah solusi yang tepat, perlu adanya tindak lanjut yang lebih serius untuk menyelesaikan permasalahan sampai ke akarnya.

Jika melihat ke akar permasalahan yang ada, kejadian penghinaan terhadap Al Qur’an yang dilakukan oleh seorang muslim sendiri menunjukkan hilangnya penghormatan terhadap Al Qur’an. Hilangnya penghormatan terhadap Al Qur’an ini adalah bukti bahwa Al Qur’an sudah tidak dianggap sebagai kitab suci yang memiliki kesakralan.

Menghilangnya kesakralan Al Qur’an atau desakralisasi Al Qur’an ternyata bukanlah masalah yang sepele, para pakar pemikiran Islam telah menemukan bahwa sumbernya berasal dari peradaban Barat. Peradaban Barat mengalami pergeseran framework  dari modernism menuju postmodernism. Postmodernism lahir sebagai respon atau kelanjutan dari modernism itu sendiri.

Salah satu doktirn yang dibawa oleh arus postmodernism adalah relativisme. Doktrin relativisme mulanya berasal dari Protagoras, seorang sofis yang berprinsip bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu ( man is the measure of all things). Di zaman Barat postmodern doktrin ini dicetuskan oleh F. Nietzsche dengan doktrin yang disebut Nihilism yang initinya adalah seperti yang dijelaskan diatas adalah relativisme.  Dengan doktrin yang sangat ampuh menggusur metafisika dan kebenaran agama itu Nietzsche berani mendeklarasikan slogan “god is dead”. (Zarkasyi, 2007)

Doktrin relativisme ini mengajarkan bahwa disana tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai yang lain. Agama tidak lagi berhak mengklaim mempunyai kebenaran yang absolute, ia hanya dipahami sama dengan persepsi manusia sendiri yang relatif itu. Oleh sebab itu, ia mempunya status yang kurang lebih sama dengan filasfat. Dari perspektif epistemologi doktrin relativisme berpegang pada prinsip bahwa kebenaran itu sendiri adalah relatif terhadap (tergantung pada) pendirian subjek yang menentukan (Zarkasyi, 2007). Karena pengaruh doktrin relativisme inilah umat Islam mulai meragukan kebenaran Al Qur’an. Kitab suci Al Qur’an yang diturunkan Allah dan dijaga sendiri olehNya dianggap tidak absolute.

Anggapan bahwa kebenaran Al Qur’an itu relatif mendorong para cendekiawan muslim yang terpengaruh doktrin relativisme menirukan para orientalis yang melakukan kritik terhadap Al Qur’an. Kritik terhadap Al Qur’an ini merupakan salah satu agenda postmodernisme. Kritik dilakuan dengan penerapan metode hermeneutika sebagaimana yang telah diterapkan para penganut Kristen terhadap kitab Bible. Sebab yang pertama-tama harus diterapkan dalam penggunaan hermeneutika ini dalan perubahan status teks Al Qur’an dari teks ilahi menjadi teks basyari (manusiawi). Jika status teks sudah diturunkan menjadi bersifat menusiawi yang meruang dan mewaktu maka dengan hermeneutika seorang dapat melakukan perubahan teks (nash) dan perubahan makna aslinya untuk dapat didekrontruksi sesuai dengan konteks sosial yang tidak lain adalah humanism. (Zarkasyi, 2007)

Dampak lain dari diragukannya teks adalah anggapan Al Qur’an sebagai representasi kalam tuhan melalui bahasa arab dan akal pikiran Nabi SAW. Representasi kalam tuhann berarti bukan kalam tuhan yang sesungguhnya. Al Qur’an dianggap sebagai sabda Nabi SAW berdasarkan kreatifitas dan akal pikiran beliau. (Zarkasyi, Misykat, 2012)

Dotrin relativisme yang mendorong desakralisasi Al Qur’an dan kritik terhadanya telah mengakibatkan kesesatan yang nyata dikalangan umat Islam. Kesesatan pun semakin mendalam ketika doktrin ini dipahami oleh masyarakat awam yang tidak banyak memiliki pengetahuan keagamaan yang mencukupi. Kesesatan akan terus berlanjut dan terus menjerumuskan umat Islam lebih jauh jika tidak ditangani dengan serius. Penghinaan terhadap Al Qur’an akan terus menjadi-jadi dan bahkan akan lebih dari penginjakan Al Qur’an yang dilakukan seorang pemuda dan beberapa orang sebelumnya. Maka dari itu dibutuhkan gerakan bersama yang dipelopori oleh para ulama untuk meluruskan kembali pendangan umat Islam terhadap kitab sucinya sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.