Penulis Berita : Taufik Hidayat / Peserta PKU Angkatan XV

Sabtu (13 November 2021) telah terselenggara Webinar Pemikiran & Peradaban Islam atas kolaborasi antara PKU (Program Kaderisasai Ulama) Univ. Darussalam Gontor serta LDK (Lembaga Dakwah Kampus) al-Fatih LIPIA Jakarta. Webinar kali ini membahas ihwal “Problem Kebebasan Beragama dalam Praktik Amar Ma’ruf Nahi Munkar” yang disampaikan Ahmad Rizqon, S.Pd. dan “Orientalisme dan Dampaknya Terhadap Keberislaman Masyarakat Indonesia” oleh M. Ammar Tsaqib, S.H., sementara Nofriyanto, M.Ag. bertindak sebagai keynote speaker serta Sulton M. Nasir el-Mushafi selaku pengisi sambutan dari pihak LDK al-Fatih LIPIA. Alhamdulillah, webinar ini berjalan dengan lancar dan beralurkan dari sambutan, penyampaian materi, tanya-jawab, hingga epilog.

Ada salah satu hal menarik dalam diskusi yang berlangsung waktu itu, sebuah pertanyaan diajukan oleh salah satu peserta. “Tadi saudara menjelaskan, bahwa orientalisme memiliki dampak yang signifikan. Lalu, di era modern saat ini, apakah orientalisme itu masih eksis dalam mendegradasi kebudayaan atau kebahasaan di Indonesia?”, tanyanya. Tetapi, Ammar juga memberikan jawaban yang cukup tuntas atas pertanyaan tersebut. Secara ringkas, statement jawabannya berisi tiga point pemetaan, bahwa orientalisme pada masa kini berkelindan dengan westernisasi, captive mind, dan liberalisasi yang terjadi di dunia Islam. Paragraf berikutnya akan menilik lebih lanjut tentang landasan dari argumentasi tersebut.

Baca juga : Mengkaji Ulang Toleransi, Kebahagiaan dan Pembangunan Menurut Pandangan Islam

Pertama, orientalisme dan westernisasi. Sadar atau tidak, orientalisme terus berlangsung bersamaan westernisasi yang terjadi saat ini, di mana pelbagai nilai dari Barat mendominasi negara-negara Timur, salah satunya Indonesia. Upaya tersebut dapat diamati misalnya melalui pemarginalan Bahasa Arab sampai dapat mencabutnya dari kaum muslimin. Dalam mencapai tujuannya, Barat memerankan para ahli Bahasa melalui jabatan atau posisi pentingnya dan proyek latinisasi. Alhasil, mereka dapat merekonstruksi masyarakat agar hanya tertarik dengan Bahasa Barat dan segan mempelajari Bahasa Arab (Teng, 2016, p. 54). Hal tersebut akhirnya menyebabkan perubahan pandangan hidup dan kultur khususnya pada masyarakat muslim, sehingga terwesternkan.

Kedua, orientalisme dan captive mind. Dalam ranah akademik, terdapat hal yang perlu disadari bagi bangsa-bangsa yang pernah terjajah, Disebutkan dalam Teori Captive Mind atau Benak Terbelenggu oleh Syed Hussein Alatas, bahwa pikiran masyarakat disetting jadi tidak kritis dan inferior, sehingga lebih mengikut pada sumber-sumber yang berpahaman Barat. Alatas memberi penjelasan tentang masalah peniruan dan benak terbelenggu dalam pelbagai bidang keilmuan Dunia Ketiga yang membentuk mentalitas membebek pada kebanyakan ilmuwan (Alatas, 2010, p. ix). Contohnya upaya menafsir al-Qur’an dengan metode hermeneutika oleh para orientalis yang diikuti oleh muslim tercaptive mind. Hal ini menjadi bermasalah, sebab konsep tafsir al-Qur’an tidak akan pernah berubah dan al-Qur’an tidak memiliki kecacatan. Bahkan, kebenaran al-Qur’an tak pernah diragukan, karena didukung dengan tradisi sanad (Anita, 2014, p. 129). Dengan kata lain, pemikiran ini bertujuan agar dapat terlepas dari pengaruh orientalisme.

Baca juga :Kesetaraan Gender bukan sebuah Keadilan

Ketiga, orientalisme dan liberalisasi. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam “Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonialis)” menyatakan, bahwa orientalisme masih terus berlangsung, sebab terdapat pelbagai bukti upaya pembaratan secara sistematis. Hanya bedanya, saat ini sikap Barat banyak didukung oleh cendekiawan muslim yang terbaratkan. Sebelumnya, pelaksana program liberalisasi ini, adalah gabungan dari kolonialisme, missionarisme, dan orientalisme. Ketiga hal tersebut sudah cukup lama dilaksanakan di dunia Islam dan berhasil merubah cara berfikir para cendekiawan Muslim. Mereka melahirkan pelbagai ide yang tidak pernah dibahas oleh ulama di masa lampau, tidak merujuk kepada otoritas ulama, tidak berdasarkan pada ilmu-ilmu tradisional Islam, dan tidak sejalan dengan konsep-konsep dasar dalam worldview Islam (Zarkasyi, 2008, p. x). Pelbagai ide tersebut berasal dari tradisi orientalisme yang didorong oleh missionarisme dan disebar luaskan oleh kolonialisme.

Untuk mengikat pembahasan di atas, sebuah karya masyhur yakni “Orientalisme” karya Edward Said, nampak perlu dipaparkan kembali sebagaimana yang dikutip oleh Ammar. Bahwa keseluruhan proyek orientalisme adalah pertanda arogansi Barat dan upaya untuk mendominasi, menata kembali, serta menguasai Timur. Dalam orientalisme, Timur dan Barat terbagi di mana kebudayaan, religi, dan bahasa masyarakat Barat ditempatkan lebih unggul daripada Timur (Said, 1979, p. 3). Oleh karena itu, orientalisme bukan persoalan biasa, sebab prosesnya yang sistematis pada muaranya akan mampu menggeser pahaman masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin. Dengan demikian, lantas apa yang dapat dilakukan oleh umat Islam? Tentu kembali memahami Islam dengan baik dan benar serta kritis terhadap hal yang berasal dari luar (Barat), salah satunya orientalisme adalah suatu upaya yang tidak boleh lepas dari aktivitas kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.