pku.unida.gontor.ac.id- Tidak seperti biasanya, pengajian rutin peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor bersama ibu-ibu warga desa Sawuh Siman pada Kamis (5/9) malam berjalan lebih lama. Pertemuan yang dihadiri setidaknya tempat puluhan jama’ah wanita diawali dengan membaca al-Quran Surat Yasin dan dzikir bersama dilanjutkan tausiyah oleh Syekha Anintya Inayatusufi (peserta PKU putri).

Peserta PKU asal Bekasi ini mengangkat “Kekuatan Sholat” sebagai topik utama. Hal ini menguatkan dalam pembahasan pengajian sebelumnya mengenai Kekhusyukan Sholat yang disampaikan Ayu Arba Zaman. Agar dapat mencapai khusyuk, seseorang sepatutnya mengetahui keutamaan sholat sehingga bersungguh-sungguh untuk menjaganya.

“Kita harus benar-benar menjaga sholat karena sholat adalah kekuatan. Kekuatan jiwa, kekuatan badan, kekuatan kemauan, kekuatan akhlak, kekuatan sosial, dan kekuatan dalam segala sesuatu,” kata Ustazah Syekha menyemangati para jamaah.

Perempuan yang saat ini sedang melanjutkan studi Magister Pendidikan Bahasa Arab UNIDA itu memperkaya tausiyah dengan menceritakan teladan Nabi Muhammad SAW dalam melihat shalat. Menjadikan shalat sebagai kekuatan jiwa, Rasulullah SAW selalu menyegerakan sholat ketika ditimpa masalah hingga mendapat kegembiraan dan kedamaian. Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan beliau SAW menantikan waktu shalat dengan penuh kerinduan, hingga bila waktu shalat tiba beliau berkata pada Bilal RA., “Hiburlah kami dengan sholat, ya Bilal.”

Bagi seorang muslim, sholat menjadi kekuatan jiwa karena secara langsung menghubungkan kita dengan Allah. Kita (seakan) memasuki Kerajaan Allah tanpa melewati pintu, menghadap Allah tanpa penghalang, berdialog dengan Allah tanpa perantara, bermunajat kepada Allah yang sangat dekat, hingga memohon pertolongan pada Allah Yang Maha Pemurah agar dikaruniai jiwa yang tenteram dan tenang.

Dengan berbagai keutamaan dan kekuatan yang dihadirkannya, tidak heran jika Rasulullah SAW menyebut shalat sebagai “permata hati”. Maka, menjadi sebuah muhasabah besar jika sebagai muslim seseorang masih dengan mudahnya meninggalkan sholat hanya karena urusan pekerjaan apalagi hiburan.

Syekha mengakhiri tausiyah dengan sedikit kisah mengenai neneknya yang bahkan ketika menderita stroke masih berpesan pada cucunya untuk dibangunkan sholat malam. Cerita tentang nenek Syekha yang masih berusaha terhubung dengan Allah melalui shalat dalam kondisi sempit, sakit, bahkan diusia uzur tersebut sekiranya dapat menjadi semangat pagi para jamaah, terlebih melihat demografi peserta pengajian yang mayoritas sudah lanjut usia. Meski begitu, tentu saja kewajiban menjaga shalat tidak mengenal pengecualian umum dan hanya terhenti oleh kematian. Wallahua’lam bisshowab.

Sebagai penutup, pembimbing PKU Ustadzah Farhah, M.Ag menyampaikan epilognya kepada ibu-ibu pengajian bahwa shalat adalah tiang agama, dan yang membutuhkan sholat adalah kita sebagai hamba Allah. Karena kita beragama berarti kita berhutang kepada Allah, sehingga kewajiban kita sebagai orang yang berhutang harus membayarnya. Seperti halnya ketika ibu-ibu berhutang kepada tetangga ibu, maka kewajiban ibu harus membayarnya. Oleh sebab itu, salah satu cara membayar hutang kepada Allah adalah dengan sholat dan dengan amal baik serta dengan keimanan ibu-ibu semuanya.[]

Rep. Esty Dyah Imaniar
Ed. Admin pku

One Thought on “Pengajian Mingguan; Kekuatan Shalat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.