Oleh: Irfan Wahyu Syifa

pku.unida.gontor.ac.id- Dalam pengertiannya yang luas, pendidikan juga dipahami sebagai sebuah realitas sosial. Ia juga merupakan salah satu bentuk kebudayaan manusia. Sebagai realitas sosial, pendidikan senantiasa mengalami perubahan menuju kemajuan, selalu berjalan progresif dan berkembang dinamis. Dengan segala macam dinamikanya tersebut, pendidikan juga merupakan faktor pendorong dalam mewujudkan perubahan sosial.

Pendidikan Marxis-Sosialis

Sistem pendidikan yang diberlakukan oleh komunitas tertentu seringkali dipengaruhi oleh ideologi yang dianut masyarakatnya. Apabila mayoritas masyarakat suatu wilayah menganut ideologi liberal-kapitalis, misalnya, maka bisa dipastikan sistem pendidikan yang diterapkan juga mencerminkan ideologi tersebut. Meskipun dalam komunitas tersebut tersebut terdapat beberapa orang yang tidak sepakat, tetap saja yang dipertimbangkan adalah suara terbanyak dari komunitas tersebut. Maka, tidak salah jika pendidikan juga dapat dikatakan sebagai perlakuan sosial politik yang oleh pihak yang paling dominan.

BACA JUGA: Problem Pembaruan Pemikiran Islam; Dari Modernisasi ke Sekularisasi

Pada negara-negara yang menganut ideologi sosialisme, sistem pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan Marxis. Marxisme sendiri pada mulanya digagas oleh seorang filsuf bernama Karl Marx. Ia muncul sebagai tokoh yang secara keras dan tajam mengkritik sistem kapitalisme yang cenderung menindas kelas bawah di bidang ekonomi politik. Sebagian orang mengenalnya sebagai seorang tokoh ekonomi dengan gagasan sosialismenya, sebagian yang lain juga mengenalnya sebagai seorang pemikir yang menghasilkan gagasan-gagasan filosofis. Namun, siapa sangka bahwa ternyata Marx juga seorang pendidik yang fenomenal dengan meletakkan teori pendidikan kritis dan pembebasan.

Sebagai sebuah sistem, pendidikan Marxis memiliki dasar pemikirannya sendiri. Secara ringkas, pemikiran tersebut terimplementasi dalam tiga hal berikut, pertama, aspek pendidikan sangat diperlukan untuk kepentingannya yaotu mentranformasi nilai-nilai dan norma-norma ajaran komunisme. Mereka beranggapan bahwa dalam penyebaran ajaran komunisme aspek pendidikan lah yang sangat menentukan pertumbuhan dari ajarannya tersebut, jika di dalam pendidikan terselip nilai-nilai komunisme maka dapat dipastikan peserta didik akan tertular.

Kedua, pengajaran dan pendidikan harus menjadi miliki oleh seluruh rakyat dan menyamaratakan laki-laki dan perempuan, serta di dalam kurikulumnya meniadakan tentang unsur-unsur agama sehingga di dalam kurikulumnya tidak dicantumkan pelajaran agama di dalamnya.

Ketiga, Pendidikan sosialisme mengutamakan langsung praktek, terapan dan menybarkan pendidikan politeknik. Peserta didik langsung diarahkan untuk menjadi pekerja di berbagai cabang industri, teori dan praktek.

Pendidikan Islam

Dalam Islam, sistem pendidikan dimaknai sebagai sebuah sistem pengembangan sikap dan tata laku seseorang yang mencakup seluruh aspek kehidupan dalam rangka mendewasakan seorang hamba melalui upaya-upaya pengajaran ataupun pembiasaan. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan dalam Islam dikenal dengan istilah ta`dib. Ta`dib atau proses meng-adabkan seseorang telah mencakup didalamnya ta`lim dan juga tarbiyah. Tujuan utamanya, tidak lain ialah untuk membentuk manusia yang baik dan beradab.

Secara terminologi, ta`dib berasal dari addaba. Ia adalah verba dengan bentuk aslinya, adab. Sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Qusyayri dalam al-risalah al-qusyayriyyah, adab adalah akumulasi dari seua sikap yang baik dalam diri seseorang. Sikap yang baik ini tidak hanya tercermin dalam hal-hal jasmani atau yang tampak saja (al-zhahir), tetapi juga hal-hal rohani atau yang tidak tampak (al-bathin), sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Ghazali.

Dalam pandangan al-Attas, adab adalah metode pendidikan rabbani, mengacu kepada hadits Nabi, “addabani rabbi fa ahsana ta`dibi”. Maka dari itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga ukhrawi. Konsep ta`dib ini sekaligus mencerminkan bahwa pendidikan dalam Islam harus mengacu kepada worldview yang tidak sekuleristik.

Dalam keberagamaan, adab berfungsi untuk membentuk seseorang menjadi sebenar-benar hamba yang mengabdi kepada Tuhannya. Hamba yang beradab adalah hamba yang mampu mengenali dan mengetahui posisinya di hadapan Tuhannya. Dalam hubungan sosial, adab berfungsi untuk membentuk seseorang menjadi anggota masyarakat yang baik, ia mengenali siapa yang lebih tua sehingga ia hormati dan mengenali siapa yang lebih muda sehingga ia sayangi. Dalam urusan kenegaraan, adab berfungsi untuk membentuk seseorang menjadi warga negara yang baik. Begitulah relevansi adab dalam segala aspeknya.

BACA JUGA: Framing Media terhadap Perempuan

Pendidkan Marxis-Sosialis VS Pendidikan Adab

Pendidikan islam sebagai pendidikan yang beorientasikan kepada Allah sangat berbeda dengan pendidikan sosialisme yang mengarahkan peserta didik untuk jauh dari Tuhannya. Ada tiga perbedaan-perbedaan yang mendasar antara pendidikan islam dan pendidikan sosialisme yaitu sebagai berikut.

Pertama, pendidikan sosial lebih meletakkan pendidikan sebagai sarana untuk mengabdi kepada Negara dan partai, yaitu partai komunis atau sosialis, sedangkan pendidikan adab lebih mementingkan pengabdian atau berpasrah seluruh jiwanya kepada Allah dan terlaksananya tugas manusia sebagai khalifah dibumi sebagaimana Allah memberikan tanggung jawab itu kepada manusia.

Kedua, pendidikan Marxis-Sosialis mengakui kemutlakan materi. Artinya aliran ini tidak mengakui eksistensi dari roh sehingga mengabaikan faktor rohani pada diri peserta didiknya dan menjadikannya sebagai manusia yang materialistis yang mengingkari nilai-nilai rohani. Sedangkan pendidikan adab adalah pendidikan yang mengakui eksistensi nilai-nilai rohani dan spiritual (dzāhiran wa bāthinan).

Ketiga, pendidikan sosialis lebih mementingkan output nya menjadi kelas pekerja untuk mengabdi kepada partai atau kelompoknya yang beraliran komunis, sedangkan pendidikan adab mencetak insan adabi atau manusia yang mempunyai akhlak mulia dan mempertahankan fitrah nya sebagai manusia yang menghamba kepada Allah.[]

Ed. Ahmad Rizqi

2 Thoughts on “Pendidikan Marxis-Sosialis VS Pendidikan Adab”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.