Oleh: Agus Riyadi

pku.unida.gontor.ac.id- Dalam dunia pendidikan telah hangat dan banyak dibicarakan oleh pakar-pakar pendidikan yaitu mengenai pendidikan karakter. Dengan fakta yang menunjukkan bahwa karakter bangsa di era globalisasi ini merosot dengan sangat tajam, hal ini lah yang melatarbelakangi munculnya pendidikan berkarakter yang dianggap sebagai suatu media yang paling jitu dalam mengembangkan potensi anak didik baik berupa keterampilan maupun wawasan.

Sebagaimana tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional Nomor 20 Pasal 3 tentang sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Perilaku buruknya karakter atau tidak berkarakter dapat dilihat secara seksama dengan semakin maraknya terjadi tawuran antar pelajar, adanya pergaulan bebas, dan adanya kesenjangan sosial-ekonomi-politik di masyarakat, kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh pelosok negeri, masih terjadinya ketidakadilan hukum, kekerasan dan kerusuhan, dan korupsi yang mewabah dan merambah pada semua sektor kehidupan masyarakat, tindakan anarkis, konflik sosial.

BACA JUGA: Kemerdekaan Dalam Perspektif Islam

Pada kondisi seperti ini, seolah-olah pendidikanlah yang harus bertanggungjawab. Atas dasar tersebut, munculnya pendidikan karakter yang berasal dari Barat seakan-akan menjadi solusi utama yang secara terus-menerus dibangun dan dikembangkan agar dari proses pelaksanaannya menghasilkan generasi yang diharapkan. Ternyata tidak cukup hanya dengan karakter yang baik saja untuk menciptakan generasi bangsa ini menjadi generasi yang bermartabat dan beradab, tetapi kita membutuhkan pendidikan spiritual yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang maha esa dalam konsep pendidikan akhlak.

Definisi Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak terdiri dari dua kata yaitu “pendidikan” dan “akhlak”. Secara eksplisit dalam memahami kata akhlak dapat dipahami melalui dua pendekatan, yaitu dari segi bahasa (linguistik) dan segi istilah (terminologi). Dari segi bahasa ( linguistik), Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu jama’ dari kata “khuluqun”, yang secara bahasa berarti perangai, tingkah laku, tabiat, budi pekerti, moral, tata krama, sopan santun, tindakan. Dalam bahasa Yunani pengertian akhlak disamakan dengan kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah menjadi etika.

Ibn Maskawaih (w. 421 H/ 1030 M), yang di kenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut Imam al-Ghazali (1015-1111 M) akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gamblang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sedangkan pendidikan akhlak menurut beliau membentuk terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong melakukan perbuatan yang bernilai baik atau pribadi susila, sehingga akan memperoleh kebahagiaan disisi Allah di akhirat kelak dan hidup dengan perilaku yang baik di dunia. Dengan begitu diharapkan akan diperoleh kebahagiaan (al-Sa’adah)

Secara singkat, dari pengertian diatas dapat dianalisis bahwa pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa sampai Ia menjadi seorang mukalaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan kehidupan. Ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu kuat, ingat bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, maka Ia akan memiliki potensi dan respon yang instingtif di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan. Di samping terbiasa melakukan akhlak mulia.

Sedangkan Abdullah Nasih Ulwan menjelaskan bahwa pendidikan akhlak adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan agar objek didik memperoleh sekumpulan prinsip budi pekerti, karakter mulia dan keutamaan prilaku, lalu terbiasa dengannya sejak dini sampai Ia dewasa dan bergumul dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, pendidikan akhlak bisa dikatakan juga sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Telaah lebih dalam terhadap konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Miskawaih, al-Ghazali menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter anak didik dengan berakhlak mulia berdasarkan keimanan, yang tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat Allah dalam kehidupan manusia sesuai fitrahnya.

Dari beberapa definisi tentang pendidikan akhlak tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan akhlak adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sadar untuk menanamkan keyakinan dalam lubuk hati seseorang, guna mencapai tingkah laku yang baik dan terarah serta menjadikan sebagai suatu kebiasaan baik menurut akal maupun syara’ atau suatu proses bimbingan atau pertolongan pendidik secara sadar pada siswa agar dalam jiwa anak tersebut tertanam dan tumbuh sikap serta tingkah laku atau perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga dalam pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohaninya untuk membiasakan perbuatan baik dengan mudah tanpa melalui pertimbangan terlebih dahulu, akan tetapi perbuatannya didasarkan pada keimanan, dan juga terbentuklah kepribadian yang utama.

Tarbiyah, Ta’dib dan Ta’lim
Jika kita merujuk Kamus Bahasa Arab, kita akan menemukan tiga akar kata untuk istilah tarbiyah. Pertama, raba yarbu yang berarti: bertambah dan tumbuh. Makna ini dapat dilihat dalam firman Allah: “Dan suatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah…” (Q.S. ar-Rum : 39)

Kedua, rabiya yarba dengan bentuk khafiya yakhfa, berarti: menjadi besar. Ketiga, rabba yarubbu dengan wazn (bentuk) madda yamuddu, berarti : memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara. Dalam kaitan ini para ahli mimiliki cara yang beragam dalam memberikan makna at-tarbiyah.

Menurut jamaluddin al-Qosami mendifinisikan at-tarbiyah dengan “hiya tablighusy sya’i ila kamalihi, syaian fa syaian” yaitu proses penyampaian sesuatu sampai pada batas kesempurnaan yang dilakukan secara tahap demi tahap. Sebaliknya, Al-ashfahani mendefinisikan dengan “hiya insya’ Asy-Syai’I halan fahalan ila haddit tamam” yaitu proses menumbuhkan sesuatu secara bertahap yang dilakukan setapak demi setapak sampai pada batas kesempurnaan.

BACA JUGA: Alam Semesta yang Mekanistik

Dari definisi diatas dapat diketahui pada dasarnya istilah tarbiyah yang diartikan sebagai pendidikan belum cukup untuk memenuhi maksud dan tujuan pendidikan. Dikarenakan istilah tersebut hanya berkaitan dengan pengembangan fisikal dan emosional manusia. Bahkan istilah penerapan tarbiyah dalam bahasa arab, tidak terbatas pada manusia sahaja namun terkait pula dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang.

Adapun istilah ta’dib telah mencakup semua aspek pendidikan. Sebagaimana Ibn Miskawaih, memakai istilah ta’dib untuk menunjukkan pendidikan intelektual, spiritual dan sosial, baik bagi anak muda maupun bagi orang dewasa. Sedangkan tarbiyah digunakan untuk mengajari binatang, baik itu yang dilakukan oleh manusia maupun sesama binatang. Oleh sebab itu, tarbiyah hanya berkaitan dengan pengembangan fisikal dan emosional manusia.

Kata ta’lim banyak disebut di dalam al-Qur’an. Diantaranya ta’lim digunakan oleh Allah untuk mengajar nama- nama yang ada di jagat raya kepada nabi Adam a.s. (QS. Al-Baqarah(2): 31), selain itu mengajar manusia tentang al-Qur’an dan bayan (QS. Ar-Rahman (55):2), mengajarkan al-Kitab, al-Hikmah, Taurat, Injil (QS. Al-Maidah (5):110), mengajarkan sesuatu yang belum diketahui manusia (QS. Al-Baqarah (2):239), mengajarkan tentang sihir (QS. Al-Khafi (18):65) mengajarkan tentang wahyu dari Allah (QS. At-Tahrim (65):5)

Adapun secara umum istilah ta’lim hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif. Rasyid Ridha, misalnya mengartikan ta’lim sebagai proses transisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Selain itu menurut Quraisy Shihab, ketika mengartikan kata yu’allimu yang terdapat pada surat Jumu’ah (QS. (62)2). Dengan arti mengajar yang pada intinya tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.

Dengan demikian, kata ta’lim lebih dekat dengan pengajaran dan proses transisi ilmu. Sementara ta’dib dapat diartikan sebagai proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlaq peserta didik. Maka ta’lim telah mencakup di dalam istilah ta’dib. Pengertian ini didasarkan pada Sabda Nabi SAW: “Tuhanku telah mendidikku (addaba) aku, dan menjadikan pendidikanku (ta’dib) yang terbaik.

Konsep Pendidikan Akhlak berbasis Ta’dib
Karakteristik pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pendidikan akhlak secara umum dimulai dengan pembahasan tentang akhlak (karakter/watak). Menurutnya watak itu ada yang bersifat alami dan ada watak yang diperoleh melalui kebiasaan atau latihan. Kedua watak tersebut menurut Ibnu Miskawaih bahwa watak itu pada hakekatnya tidak alami, walaupun kita diciptakan dengan menerima watak, akan tetapi watak tersebut dapat diusahakan melalui pendidikan dan pengajaran.

Selanjutnya, Beliau juga menegaskan bahwa pendidikan akhlak didasarkan pada doktrin jalan tengah. Menurutnya jalan tengah diartikan dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, mulia atau posisi tengah antara dua ekstrem baik dan buruk yang ada dalam jiwa manusia. Menurutnya, posisi tengah jiwa bahimiyah adalah iffah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

Selanjutnya posisi tengah jiwa al-ghadlabiyah adalah al-saja‘ah yaitu keberanian yang dipertimbangkan untung dan ruginya. Sedangkan posisi tengah jiwa nathiqah adalah al-hikmah yaitu, kebijaksanaan. Adapun perpaduan dari ketiga posisi tengah tersebut adalah keadilan atau keseimbangan. Keempat keutamaan (al fadhilah akhlak al-iffah, al-saja ‘ah, al hikmah dan al-adalah) adalah merupakan pokok atau induk akhlak yang mulia. Adapun lawannya ada empat pula yaitu al-jah,l as-syarh, al-jubn dan al-jur.

Pendidikan berfungsi untuk membantu anak didik dalam mengembangkan potensinya dan membimbingnya dalam penetapan nilai-nilai yang baik. Menurut Zakiah Darajat, Ada tiga bentuk bimbingan yang aktif untuk anak yaitu: (a) Pengembangan daya-daya yang sedang mengalami masa pekanya; (b) Pemberian pengetahuan dan kecakapan yang penting untuk masa depan si anak; (c) Membangkitkan motif-motif yang dapat menggerakan anak untuk berbuat sesuai dengan tujuan hidupnya.

Pendidikan akhlak sebagaimana dirumuskan oleh Ibn Miskawaih merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam pendidikan akhlak ini, kreteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunah sebagai sumber tertinggi ajaran Islam dengan proses penta’diban.

BACA JUGA: Konsep Manusia Dalam Perspektif Psikologi Barat dan Islam

Dengan demikian, pendidikan akhlak bisa dikatakan sebagai pendidikan karakter dalam diskursus pendidikan Islam. Telaah lebih dalam terhadap konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Miskawaih, al-Qabisi, Ibn Sina, al-Ghazali dan al-Zarnuji, menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya adab/etika positif dalam perilaku anak didik. Adab atau karakter positif ini tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia.

Bentuk jamak pada kata akhlak mengisyaratkan banyak hal yang dicakup olehnya. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa ia bukan saja aktifitas yang berkaitan dengan hubungan antar manusia tetapi juga hubungan manusia dengan Allah, dengan lingkungan serta hubungan diri manusia secara pribadi. Di samping itu juga perlu diingat bahwa Islam tidak hanya menuntut pemeluknya untuk bersikap baik terhadap pihak lain dalam bentuk lahiriah, sebagaimana yang ditekankan oleh para moralis dalam hubungan antar-manusia, tetapi Islam menekankan perlunya sikap lahiriah itu sesuai dengan sikap batiniah.

Dengan demikian maka dapat kita lihat bahwa pendidikan akhlak berbasis ta’dib dapat dijadikan rujukan untuk mengatasi masalah pendidikan yang ada di negara ini. Karena selain iman yang kuat kepada Allah dengan nilai-nilai spiritualitas, juga menitikberatkan kepada nilai-nilai dan norma-norma kemanusiaan yang mencetak manusia yang mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) kepada sesama makhluk, tapi minim akan ketauhidan ilahiyah.

Pendidikan akhlak yang didalamnya mengajarkan adab sebagaimana terdapat dalam pendidikan Islam akan menyempurnakan karakter yang menitikberatkan kepada masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial. Karena berakhlak adalah berpikir, berkehendak, dan berperilaku sesuai dengan fitrahnya (nurani) untuk terus mengabdi kepada Allah. Jadi bukan hanya menjadi manusia baik yang berkarakter tapi juga berakhlak mulia. Itulah konsep pendidikan akhlak berbasis ta’dib. Wallahu a’lam bi al-shawab.[]

Penulis adalah alumni program kaderisasi ulama (PKU IX) Unida Gontor.

2 Thoughts on “Pendidikan Akhlaq Berbasis Ta’dib”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.