Oleh: Martin Putra Perdana

pku.unida.gontor.ac.id- Melihat fenomena yang berlangsung saat ini, kita dapat mengamati bahwasanya konsep pendidikan yang diterapkan, khususnya di Indonesia masih belum terlihat jelas. Metode pendidikan yang diterapkan di tingkat sekolah pun sudah banyak disusupi oleh paham sekularisme yang mengakar. Dan dampaknya, banyak terjadi kemerosotan moral di tengah masyarakat kita. Disaat yang bersamaan, munculah pendidikan karakter yang merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar dan terstruktur guna mendidik dan membangun karakter anak didik sehingga dapat memunculkan potensi yang dimilikinya dan memberikan kemanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain.

Lockwood, A.T mendefinisikan pendidikan karakter sebagai program sekolah untuk membentuk anak-anak muda secara sistematis dengan nilai-nilai yang diyakini dapat mengubah perilaku mereka. Namun secara luas juga dapat diartikan sebagai penanaman sikap sopan, sehat, kritis, dan sikap-sikap sosial seperti kewarganegaraan yang dapat diterima masyarakat. Menurut Ema Pawitasari, istilah “pendidikan karakter” sendiri dirasa sudah dapat menyelaraskan kebutuhan  pendidikan moral sekaligus menghindari konflik antar kelompok agama. Istilah ini dapat diterima secara universal dikarenakan pendidikan karakter lebih menekankan pada kebiasaaan baik, tanpa mempersoalkan definisi baik menurut siapa.

BACA JUGA: Pendidikan Marxis-Sosialis VS Pendidikan Adab

Istilah pendidikan karakter sendiri tidak ditemukan dalam Islam. Namun istilah yang lebih luas dari karakter dalam Islam adalah “akhlak”. Kata “akhlak” sendiri berasal dari kata    al-khuluq yang berarti kebiasaan dan tabiat. Secara istilah, akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah yang seharusnya dimiliki oleh seorang Muslim dalam  prilakunya sehari-hari. Abu Hamid al-Ghazali dalam karyanya “Ihya’ Ulumuddin”, memaknai akhlak sebagai sebuah tatanan yang tertanam kuat dalam jiwa yang darinya muncul berbagai perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Islam sendiri tidak mengenal pendidikan karakter (akhlak) sebagai suatu yang terpisah dari pendidikan umum karena pendidikan akhlak adalah inti dari pendidikan. Akhlak akan membimbing seseorang untuk bersikap. Dengan mengikuti aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan maka kita akan memiliki akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sebagaimana yang tertuang dalam hadits Aisyah RA: “Akhlak Rasulullah SAW adalah al-Qur’an”.

Kedudukan akhlak dalam Islam sendiri memiliki tempat tersendiri dan bahkan dijadikan ukuran untuk mengetahui tingkat keimanan seorang hamba. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi pun menjelaskan bahwa “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”. Bahkan diutusnya Rasulullah di dunia ini untuk menjadi suri tauladan yang baik dan menyempurnakan akhlak. Pendidikan akhlak memang sangat mempengaruhi perbuatan dan tingkah laku seseorang di masyarakatnya. Bahkan sesorang yang memiliki akhlak yang baik akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan sebaliknya seseorang yang memiliki akhlak yang buruk akan menyebabkan orang itu tertimpa kemurkaan dari Allah.

Oleh sebab itu, agama Islam menekankan bahwa pendidikan akhlak wajib diterapkan sejak dini. Karena masa kanak-kanaklah waktu yang paling optimal untuk membiasakan berbuat baik. Yang dimaksud pendidikan akhlak disini adalah pembiasaan seorang anak didik dalam berbuat baik dan berperangai luhur sehingga hal itu akan melekat pada dirinya dan menjadi sifat yang menyertai di setiap ektivitasnya. Seorang anak akan tumbuh sesuai dengan pendidikan yang diajarkan gurunya.

Dengan terealisasinya pendidikan akhlak yang baik, maka seorang peserta didik akan memiliki masa depan yang cerah dan gemilang. Adanya pendidikan akhlak yang baik dan teruji sangatlah dibutuhkan, karena berpengaruh pada kondisi pribadi si anak dalam tingah lakunya di masyarakat kelak. Dan sebagian besar manusia yang melenceng dari perbuatan yang seharusnya merupakan bentuk dari kesalahan pendidikan di masa kecilnya.

Ibnu Maskawih telah menguraikan tujuan dari orientasi  konsep pendidikan akhlak yang merupakan pencapaian kebahagiaan (happpines), yang mencakup makna luas dan menyeluruh: seperti kebahagiaan (happpines), kemakmuran (prosperity), keberhasilan (success), kesempurnaan (perfection), kesenangan (blessedness) dan kecantikan (beautitude). Dan untuk mencapai tujuan itu semua, maka semua sisi kemanusiaan harus mendapatkan materi pendidikan yang memberi jalan untuk tercapainya tujuan pendidikan itu dan juga merupakan bentuk pengabdian (ibadah) kepada Allah.

Menurut Ibnu Maskawih dalam karyanya yang berjudul “Tahzib al-Akhlaq wa Tathhir al-Araq”  belia menjelaskan mengenai peran orangtua memiliki posisi utama dalam memberikan pendidikan. Dimana orang tua  di posisilan sebagai  “tarbiyah al-ula” yang mengajarkan mengenai syariat dan peribadatan. Dan kecintaan anak didik terhadap gurunya  juga penting, berada diantara kecintaan terhadap orang tua dan kecintaan terhadap Tuhan. Karena guru berperan aktif dalam membimbing peserta didik dalam menemukan jati dirinya dan membawa sikap arif, bijaksana dan mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Lingkunagan juga mendapatkan perhatian. Maskawih juga menekanka pada integrasi lingkungan dalam proses pendidikan secara keseluruhan.

BACA JUGA: Pendidikan Akhlaq Berbasis Ta’dib

Sistem pendidikan akhlak yang baik telah dicontohkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur. Dimana Gontor memiliki prinsip integrasi, yaitu semua yang ada di pondok sengaja diciptakan untuk pendidikan. Sistem pendidikan yang integral ini di terapkan dalam keseluruhan kegiatan sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur lagi. Sistem pendidikan ala Gontor ini dicetuskan oleh K.H.Imam Zarkasyi sebagai salah satu dari tiga Trimurti peimpinan pondok. Integrasi nilai pendidikan yang tercerminkan melalui panca jiwa pondok dibangun agar para santri dapat memahami makna, nilai, dan tujuan pendidian. Tujuan pendidikan integral sendiri terlihat dari empat moto yang menjadi pondasi Pondok Modern Darussalam Gontor, yakni mencetak generasi yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas.

Dan dalam sistem integrasinya terdapat “Panca Jiwa  Pondok Modern” yang selalu diterapkan secara konsisten dalam sistem pendidikan di pondok. Lima nilai yang menjiwai pondok ini merupakan sumber kekuatan dan rahasia mengapa pondok bisa eksis sampai saat ini, yang mencakup: jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, berdikari, ukhwah Islamiyah dan jiwa bebas. Dengan tercermiya pendidikan akhlak yang baik maka akan menimbulkan akhlak yang mulia yang berperan sebagai wadah untuk memperbaiki akhlak di masyarakat.

Dengan begitu, apabila kita menerapkan pendidikan akhlak seperti halnya yang tercermin dari Gontor dan apa yang diimpikan Ibnu Maskawih maka kita akan memiliki karakter unggul yang dapat menjadikan kita suri tauladan bagi pribadi dan bagi umat pada khususnya.[]

Artikel ini telah dimuat di buletin “Risalah ‘Ilmiyah” edisi III/Th. XIII/30-08-2019
Ed. Admin pku

One Thought on “Pendidikan Akhlak Mewujudkan Generasi Teladan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.