pku.unida.gontor.ac.id- Imam Al-Ghazali adalah seorang faqih, ushuli, mantiqi, mutakalim, failusuf, dan juga sufi. Sebagai tokoh besar, tentu saja pandangan orang-orang tentang al-Ghazali tidak seragam. Ada yang mendukung, ada juga yang mengkritik. Ibarat pohon yang tinggi dan besar, maka harus siap menjadi sasaran angin dan badai.

Berikut ulama-ulama yang memberikan kritikan terhadap Imam Ghazali : Ibni Jawi (w. 597 H), Abu Walid Muhammad al-Thurthusyi (w. 520), Tajuddin as-Subki (w. 771). Berikutnya ada al-Imam al-Hafidz Zayn al-Din al-Iraqi (w 860) dengan kitab hasil kajiannya terhadapa Ihya’ Ulumiddin selama 10 tahun berjudul al-Mughni an-Haml al-Asfar fi al-Asfar fi takhrij ma fi Ihya’ min al-Akhbar. Usaha al-Iraqi kemudian disempurnakan oleh muhaddist kontemporer, Mahmud Said Mamduh dalam kitabnya yang berjudul Is’af al-Mulihhin fi Tartib Ahadits Ihya’ Ulum al-Din. Dan satu nama lagi yang tidak boleh dilewatkan, al-Sayyid Muhammad ibn Muhammad al-Husaini al-Zabidi (w. 1205), beliau menghabiskan waktu untuk takhrij hadist kitab Ihya selam 11 tahun, judul kitabnya Ithaf al-Sadat al-Muttaqin Syarh Ihya Ulumiddin.

BACA JUGA: Problem Pembaruan Pemikiran Islam; Dari Modernisasi ke Sekularisasi

Ada beberapa sebab kenapa Imam Ghazali mendapat kritikan terhadap keotoritasannya dalam ilmu Hadits. Pertama, karena al-Ghazali tidak menulis satu karyapun dalam ilmu Hadits. Kedua, Kuantitas Hadits di dalam Ihya’ Ulumiddin mengundang perhatian ulama. Ketiga, banyak hadist yang dinukil al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin tanpa menyebutkan sanad. Keempat, al-Ghazali mengkaji Shahib al-Bukhari dan Muslim di akhir hayatnya, seperti yang disampaikan oleh Abdul Ghafir al-Farisi (kawan al-Ghazali dan cucu Imam al-Qusyairi) . Kelima, pengakuan al-Ghazali bahwa pengetahuannya dalam ilmu Hadist sedikit, seperti ditemukan dalam kitabnya Qanun al-Ta’wil.

Untuk menjawab kritikan-kritikan diatas, tentu tidak boleh gegabah. Harus ada kajian mendalam terhadap karya-karya al-Ghazali yang tidak sebentar.

Pertama, dalam ilmu  riwayah, tuduhan bahwa al-Ghazali tidak memahami ilmu Hadist, itu adalah kesimpulan yang gegabah. Dalam Ihya’ Ulumiddin Juz 1,hlm. 57, al-Ghazali membagi pemahaman seseorang terhadap hadist. Pertama yang ringkas (al-iqtishar). Kedua yang sederhana (al-iqtishad). Ketiga yang panjang lebar (al-istiqsha’). Pernyataan al-Ghazali juga memberi isyarat bahwa dirinya telah mengkaji dua kitab shahih (al-Bukhari-Muslim), dan kitab-kitab hadist lainnya. Hal ini menjawa komentar al-Subki yang menyatakan bahwa hadist-hadist dalam Ihya berasal dari kitab-kitab shufi dan fuqaha.

Dalam ilmu dirayah, perhatian al-Ghazali terhadapnya bisa dilihat dalam kitab al-Mankhul min ta’liqat al-Ushul dan al-Mustashfa min ilm al-Ushul. Inipun belum termasuk yang dibahas dalam kitabnya yang lain, Tahfidz al-Ushul, yang lebih tebal dari kitab al-mushtashfa.

Dalam ilmu dirasat ma’ani al-hadist, al-Ghazali telah menulis banyak karya diberbagai bidang. Pemahamannya terhadap makna hadist aqidah bisa dilihat dalam qawa’id al-aqa’id yang masih bagian kitab Ihya’. Pemahamannya terhadap hadist-hadist hukum bisa dilihat dari kitab-kitab fiqh yang ditulisnya seperti al-wasith, al-basith, al-wajiz, dan al-khulashah. Dalam ushul fiqh ada kitab yang sudah disebutkan diatas al-mankhul min ta’liqat al-Ushul dan al-mushtashfa min ilm al-ushul. Begitu juga dalam ilmu akhlaq, cukuplah Ihya Ulumiddin sebagai bukti atas luasnya pemahaman al-Ghazali terhadap Hadist Nabi.

Berdasarakan pemahaman ini, meski tidak menulis kitab ilmu Hadist, namun al-Ghazali memberi perhatian dan pemahaman yang cukup baik terhadap Hadist dan ilmunya. Tentu saja dengan tingkat kedalaman yang bervariasi. Dalam ilmu riwayah, sepertinya al-Ghazali sendiri masuk kategori yang pertengahan sebagaimana pernyataannya. Pengetahuannya tentang Hadits meliputi dua kitab shahih dan kitab-kitab rujukan lainnya. Hanya saja tampaknya al-Ghazali tidak mendalami ilmu rijal al-Hadits dan sifat-sifatnya. Sedangkan dalam ilmu dirayah dan ma’ani al-Hadist, pemahaman al-Ghazali nampak sangat baik dan bisa diakui otoritasnya.

Kedua, Adapun masalah adanya hadist dho’if dalam Ihya’, al-Iraqi dan al-Zabidi menyebutkan sejumlah hadist yang masuk kategori dho’if. Hanya saja, hadist yang kadang dinilai lemah oleh seorang muhaddist, bisa jadi dinilai berbeda oleh muhaddist lain. Seperti dalam hadits  طلب العلم فريضة على كل مسلم, menurut al-Iraqi hadist ini dinyatakan lemah oleh Imam Ahmad, al-Bayhaqi dan ulama lainnya. Akan tetapi, al-Iraqi juga menyebutkan bahwa ulama lainnya juga seperti al-Suyuthi berpendapat bahwa hadist ini mencapai derajat hasan, al-Munawi menganggap hadist ini shahih li ghayrihi.

Dalam menyikapi hadist dho’if, ulama hadist sendiri tidak terlalu ketat menilai sanadnya selama tidak berbicara masalah aqidah dan hukum, halal dan haram. Mayoritas ulama juga menerima hadist dho’if dengan sejumlah syarat, yaitu, tidak terlalu lemah (dha’if jiddan), sebagai dalil keutamaan amal, mempunyai dasar lain yang kuat dalam syariat, tidak meyakini dengan penuh apa yang dijanjikan, dan ada pendapat ulama yang menguatkan. Bahkan sebagian mereka lebih memilih Hadist dha’if daripada pendapat ulama ataupun qiyas. Sedangkan hadist maudu’ tidak bisa diterima.

Tentang hadist lemah dalam ‘Ihya, jika ditinjau dari sisi kandungan maknanya, maka itu bukan masalah utama. Sebagaimana dimaklumi bahwa Ihya’ Ulumiddin adalah kitab tasawuf, isinya lebih banyak berbicara mengenai masalah penyucian jiwa.

Al-Ghazali juga memiliki pandangan terhadap penolakan hadist palsu yang disebutkan dalam Ihya. Dalam kitab lainnya, al-adab fi al-din disebutkan juga adab periwayatan hadist dan juga adab-adab pencari hadist. Kedua kitab ini sepertinya cukup untuk menunjukkan bagaimana sikap tegas al-Ghazali dalam penolakan hadist palsu. Kalau demikian keadaanya, mungkinkah al-Ghazali sengaja memalsukan hadist palsu dalam karyanya itu?

Jika ternyata masih ada hadist palsu di dalam karyanya, itu bisa karena dua hal. Pertama, al-Ghazali mengutipnya tanpa sengaja, atau karena ketidak tahuannya. Sehingga tidak termasuk mendapat ancaman karena sengaja memalsukan hadist. Kedua, mungkin al-Ghazali memandang hadist itu tidak palsu berdasarkan metode penilainnya, sehingga tetap ditulis di dalam Ihya’.  

Ketiga, Sebagaimana diketahui bahwa Ihya’ Ulumiddin bukan seperti shahih al-Bukhari, shahih Muslim dan kitab hadist lainnya. Sehingga dimaklumi jika metode penukilan hadist didalamnya tanpa menyebut sanad.

Al-Ghazali selalu mengawali pembahasannya dengan ayat-ayat al-Qur’an yang relevan, kemudian dengan hadist atau atsar.  Adapun metode penukilan hadist di dalam Ihya’. Pertama, langsung mengutip matan hadist setelah menyebut nama Rasulullah. Kedua, langsung menyebutkan keshohihannya. Ketiga, riwayat secara makna.

Keempat, jika al-Ghazali dikatakan mempelajari dua kitab Shahih al-Bukahri dan Shahih Muslim di akhir umurnya, bisa jadi itu adalah proses penyempurnaan. Artinya, di masa mudanya al-Ghazali telah mempelajari kedua kitab itu dengan metode yang lain, seperji wijadah, ijazah atau lainnya. Kemudian disempurnakan di masa tuanya dengan metode sama’. Dengan demikian, al-Ghazali selalu berusaha meningkatkan kualitas dan otoritas keilmuwannya dalam ilmu Hadist.

BACA JUGA: Alam Semesta yang Mekanistik

Selain itu, penting untuk diingat, bahwa di akhir umurnya itu al-Ghazali sudah sangat dikenal sebagai ulama besar. Jika masih mau belajar Shahir al-Bukhari dan Shahih Muslim, itu justru menunjukkan sosok al-Ghazali sebagai ulama yang sesungguhnya. Kebesaran namanya tidak menghalangi untuk terus belajar kepada ulama lainnya yang dinilai memiliki otoritas. Tidak semua orang siap menjalani hal semacam ini.

Kelima,  memang benar al-Ghazali menyatakan dalam kitabnya Qanun al-Ta’wil bahwa pengetahuannya dalam bidang Hadist sedikit. Ungkapan itu adalah pinjaman (iqtibas) dari QS Yusuf; 88. Lalu bagaimana memahami pernyataan itu? Apa konteks dari ucapak al-Ghazali itu?

Pertama, kitab al-Qanun al-Ta’wil itu adalah jawaban al-Ghazali terhadap beberapa masalah metafisika yang diajukan kepadanya. Kedua menurut para pengkaji al-Ghazali, pertanyaan itu disampaikan oleh muridnya al-Qadhi Abu Bakar Ibn Arabi. Ketiga, al-Ghazali dikenal sebagai ahli fatwa. Keempat, selain sebagai mufti, al-Ghazali juga dikenal sebagai pembaharu (mujaddid) abad kelima. Kelima, penyataan al-Ghazali itu memang benar jika dibandingkan dengan al-Bukhari, Muslim dan ulama Hadits lainnya. Tapi jika dibandingan dengan ulama saat ini, apalagi kalangan awamnya, bisa jadi pengetahuan al-Ghazali dalam ilmu hadist lebih banyak dan lebih luas. Hal ini dibuktikan dengan pengalamannya mempelajari hadist sejak muda hingga akhir hayatnya.  Di sisi lain, bsa juga pernyataan itu sebagai bentuk kerendahan hatinya (tawadhu’).

Imam Al-Ghazali diakui oleh dunia Islam maupun luar Islam. Sebagai pelanjut risalah kenabian, kedudukan al-Ghazali harus diakui dan dimuliakan. Namu demikian, al-Ghazali tetap manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Ketika ada kritikan dari ulama lain terhadap al-Ghazali, tidak berarti mereka membenci al-Ghazali. Karena dibalik kritikan yang mereka sampaikan tetap ada  pujian terhadap sosok al-Ghazali. Bahkan mereka juga mengakui banyaknya manfaat dari kitab Ihya’ Ulumiddin yang dikritiknya.

Nama Buku                 : Otoritas Imam al-Ghazali dalam Ilmu Hadits, Satu Tinjauan yang Adil
Penulis                         : Dr. Muhammad Ardiansyah
Penerbit                       : Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa
Tahun Terbit               : 2019
Jumlah Halaman       :118 halaman
Peresensi                      : Muhammad Kholid

Ed. Admin PKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.