pku.unida.gontor.ac.id- Buku ini melatarbelakangi untuk memberikan pandangan umum dari kegiatan-kegiatan dan aktivitas orientalisme, namun tujuan pokoknya adalah sekedar memberikan pandangan umum dari kegiatan-kegiatan dan aktivitas yang menonjol yang selama ini mereka lakukan, di samping itu untuk mengetahui faktor-faktor yang menopang tumbuh dan berkembangnya paham orientalisme ditambah kegiatan-kegiatan penting yang telah memainkan peranan menentukan dalam meluaskan pengaruh gerakan orientalis. Selanjutnya, buku ini sebagai penyuluh kepada umat terhadap segala bentuk kegiatan mereka dan sikap mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.

Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq dilahirkan di propinsi Duqhaliyah, Mesir pada 27 Desember 1933M. Beliau menamatkan pelajaranya di Universitas Al-Azhar pada tahun 1959M. Gelar doktor diraih pada tahun 1965 di Universitas Munchen, Jerman Barat. Kini sebagai guru besar Filsafat Islam di Universitas Al-Azhar dan dosen terbang untuk Uiversitas Qatar dalam bidang yang sama. Beliau mempunyai banyak karya yg ditulis dalam bidang Filsafat Islam, filsafat umum, filsafat akhlak serta studi orientalisme.

BACA JUGA: Orientalis dan Diabolisme Pemikiran

Dalam buku yang menjelaskan 3 sub-bab untuk mewujudkan tujuan yang ada dalam latar belakang di atas. Pertama, tentang pandangan sekilas terhadap pertumbuhan dan perkembangan orientalisme. Kedua, merupakan pembahasan inti, yang membahas tentang sikap positif atau negatif para orientalis. Ketiga, sikap kita sebagai muslim dalam menghadapi gerakan orientalisme.

Orientalisme adalah suatu ilmu ketimuran atau ilmu tentang timur. Adapun kata orientalis dalam pengertian umum berarti semua ahli Barat yang mempelajari dunia Timur (Jauh, Tengah atau Dekat) tentang baasanya, sastranya, peradabanya ataupun agamanya. Dengan tersebar luasnya dīn al-Islam di Timur dan di Barat membuat para pemuka (ulama) Nashrani semakin mengamati agama itu. Dari sinilah, para orientalis mulai menaruh perhatian yang besar dan mempelajari Islam. Salah satu ulama kristen yang menonjol adalah Yohana Damsyiqi (676 – 749). Dia adalah orang Timur yang hidup di masa dinasti Umawiyah, ia bekerja di Istana Umawi.

Pada hakekatnya orientalisme telah berurat berakar sejak 1000 tahun yang silam, akan tetapi baru dikenal sekitar akhir abad ke 18 atau tepatnya 1779 Masehi di Inggris, kemudian 1788 di Prancis. Adapun yang melatarbelakangi orientalisme ini muncul karena oleh perbenturan antara Islam dan Kristen di Andalus dan Sisilia, sedangkan perang salib adalah merupakan motivasi terkuat bagi bangsa Eropa Kristen untuk mempelajari Islam dan adat istiadatnya.

Para pemuka Kristen berusaha untuk menentang Islam dengan memfitnah dan menyebarluaskan berita bohong tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW., mereka mengatakan Islam adalah sumber kejahatan dan Muhammad SAW tidak lebih dari sebuah patung, tuhan bagi qabilah tertentu, dan lebih dari itu, mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah setan.

Orientalisme menetapkan bahwa pengetahuan bahasa-bahasa Timur adalah merupakan perangkat untuk dapat mengetahui atau mengenal agama dan peradaban Timur, dalam hal ini kristen pun mempunyai pandangan yang sama dengan orientalisme. Disamping itu  Kristenisasi adalah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan untuk meluaskan penyebaran atau pengaruh agama Kristen. Adapun cara untuk merealisasikan tujuan tersebut ada tiga syarat yaitu: Keharusan mempelajari bahasa, mempelajari semua macam kekufuran, kemudian membedaan anatara yaang satu dengan yang lain, membedakan semua dalih/bantahan agar dapat mematahkan lawan.

Kemajuan-kemajuan orientalisme di akhir abad pertengahan telah di topang dengan dijalinnya hubungan diplomatik dan politik dengan dinasti Utsmaniyah. Demikian pula halnya hubungan-hubungan perdagangan antara Spanyol dan Itali dengan Turki dan Syiria serta Mesir juga telah memberi pengaruh berarti bagi kemajuan pendidikan orientalisme. Abad ke 19 dan abad 20 terhitung abad keemasan bagi orientalis dan pada akhirnya abad ke 18/ Maret 1795M pemerintahan Revoluisoner di Paris mendirikan sekolah Bahasa Timur. Disamping itu mulainya di Paris dalam menerbitkan buku-buku ilmiah pada taun 1838M melalui tangan Silvestre de Sascy yang selanjutnya menjadi imam para orientalis pada zamanya.

BACA JUGA: Pandangan Orientalisme Barat terhadap Islam

Adapun beberapa kegiatan orientalis seperti: membuka lembaga-lembaga di beberapa negeri Eropa dan Amerika untuk mengikuti pelajaran-pelajaran orientalisme. Yang pertama yang didirikan Jami’ah Asiawiyah di Paris, Jamiah al-Malakiyah al-Asiawiyah di Ingris, Jami’ah Asyarqiyah al-Amirikiyah dan Jami’ah Asyarqiyah Jerman. Kemudian kegiatan yang dilakukan dengan menerbitkan majalahdan media komunikasi lainnya.

Sepanjang sejarah, orientalisme mempunyai program dan kegiatan-kegiatan yang beraneka ragam. Adapun program-program tersebut direalisaikan dengan kegiatan: pengajaran di perguruan tinggi, mengumpulkan manuskrip Arab dan fahrasnya (indeks), koreksi dan penerbitan, penterjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Eropa, menyusun berbagai macam studi bahasa Arab dan Islam. Misi keagamaan bagi orientalisme sudah ada sejak semula dalam tiga siap yang mereka tempuh. Yaitu: pertama, menyerang islam dan mencari titk kelemahannya, menyakinkan orang lain bahwa agama Islam adalah agama yang diambil dari agama Nasrani dan Yahudi. Kedua, memelihara penganut Nashrani dari bahay Islam dengan cara menutupi kkebenaran (Islam). Ketiga, Misi Zending dan pengkristenan orang-orang Islam.

Orientalis mempunyai terdiri dari kelompok yang bermacam-macam yaitu yang fanatis dan relistis, atau dengan kata lain adanya misi kristen terselubung atau terang-terangan. Dengan demikian orientasi dibagi dari beberapa kelompok:

  1. Kelompok yang mendustakan Islam dengan Cerita-cerita bohong dan khayalan belaka.
  2. Kelompok yang menjadikan ilmu dan penelitian sebagai sarana mencari uang untuk kemaslahatan Barat, baik dari egi ekonomi, politik atau penjajahhan.
  3. Kelompok yang congkak yang mempropagandakan kesesatan terhadap kemurnin ilmu pengetahuan.
  4. Kelompok yang mengetengahkan Islam dengan kedok ilmu pengetahuan padahal sebenarnya mereka menyimpang dari kebenaran yang nyata.
  5. Kelompok yang mempelajari Islam secara pbyektif dengan niat yang bersih, jujur penilain terhadap Islam dan kaum muslimin
  6. Kelompok yang memusatkan perhatiannya pada pelajaran bahasa Arab, fiqhul lughat, sastra arab atau sibuk menyusun kakmus-kamus yang sejenis.

Dengan adanya pembagian kelompok-kelompok orientalisme kita bisa mengetahui bahwa tidak semua orientalisme itu buruk, namun ada juga orientalis yang mempunyai niatan baik, yang mana ia menjadikan dirinya sebagai peneliti yang objektif,yang tidak berpihak kepada satu pihak tapi karena kepentingan penelitian, akan tetapi meskipun demikian kita harus tetap waspada dan terus menjaga diri dengan meningkatkan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah SWT dengan memperdalam ilmu pengetahuan yang benar. Wallahu a’alam.[]

Nama Buku     : Orientalisme & Latar Belakang Pemikirannya
Penulis             :  Mahmud Hamdy Zaqzuq
Penerjemah      : Luthfie Abdullah Ismail
Tahun Terbit    : 1984
Penerbit           : Fa. Al-Muslimun (terjemahan)
Jumlah Hal      : 186
Peresensi         : Muhammad Shofwan Muttaqin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.