pku.unida.gontor.ac.id- Diantara salah satu visi dari Program Kaderisasi Ulama adalah menyiapkan sarjana-sarjana yang mampu menjadi pembela dan perekat umat. Dibuktikan dengan melatih para pesertanya untuk bersosialisasi dengan masyarakat melalui pengajian rutin bersama ibu-ibu yang diadakan dua kali selama satu minggu.

Rabu (11/9/19) setelah magrib acara pengajian peserta PKU dengan ibu-ibu dilaksanakan di Desa Sawuh, Ponorogo. Pengajian kali ini diisi oleh salah satu peserta PKU putri ‘Esty Dyah Imaniar’ dengan bertemakan “Menjadi tetangga yang mulia”.

Beliau memulai tausiyahnya dengan sebuah pertanyaan “Kenapa harus menjadi tetangga mulia?”. Singkatnya, Beliau menjelaskan bahwa menjadi seorang tetangga yang baik adalah perintah Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS.al-Nisa 4: 36. Ayat tersebut menjelaskan sebuah perintah bagi umat Muslim untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim piatu, orang-orang miskin, tetangga, teman sejawat, ibnu sabil, bahkan hamba sahaya.

Dalam sebuah hadits Nabi juga disampaikan bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah yang memuliakan tetangganya. Setelah menyampaikan dalil mengenai kewajiban menjadi tetangga yang mulia, Esty melanjutkan tausiyahnya mengenai bagaimana seorang tetangga yang mulia dengan menggunakan bahasa jawa.

“Untuk menjadi seorang tetangga yang mulia diantaranya bisa dengan mendahulukan salam tatkala bertemu di jalan, menjenguk tatkala sedang sakit, mengucapkan selamat tatkala berbahagia, meminta maaf tatkala bersalah, menundukkan pandangan pada pasangan tetangga, menjaga rumah tetangga disaat pemiliknya sedang pergi, bersikap lemah lembut pada anak tetangga, dan mengajarkan agama atau dunia yang tidak diketahuinya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin jilid 2.” Ujar wanita asal Wonogiri ini.
Lanjutnya, secara detail, Rasulullah SAW telah berpesan pada umatnya untuk saling berbagi kepada sesama tetangga mereka melalui sebuah hadits; “Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. Bukhari). Hadist ini menunjukkan seorang tetangga yang mulia harus peka terhadap sekitanya, dan ringan untuk berbagi.

Lalu bagaimana jika tetangga kita yang jahat?

Esty mengatakan bahwa seringkali kita sudah mencoba untuk menjadi seorang tetangga yang mulia bagi orang lain dengan menunaikan hak-hak tetangga kita dan meninggalkan hal-hal tidak bermanfaat yang berpotensi menyakiti hatinya, namun sikap tetangga kita justru sebalikya. Mengenai hal ini, Rasulullah telah meninggalkan pesan bagi kita untuk bersabar hingga ajal memisahkan kita dari kejahilan tetangga tersebut, agar Allah mencintai kita.
“Terkadang sikap tetangga kita sudah tidak lagi bisa ditoleransi sehingga satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan cara membicarakannya secara baik-baik dengan pihak yang bersangkutan.

Jika setelah dibicarakan tidak membuahkan sebuah hasil yang diinginkan, maka bolehlah kita mencari tempat baru. Hal ini sesuai dengan nasihat yang disampaikan Rasulullah pada seorang lelaki yang mengeluhkan sikap tetangganya. Tutur Esty.

Terakhir ia menyampaikan kepada jama’ah bahwa dengan menjadi tetangga yang mulia dan memuliakan tetangga, diharapkan akan membuahkan sebuah harmonisasi dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Karna Islam sendiri adalah agama yang cinta kedamaian. Selain itu, dengan mengaplikasikan hal-hal yang telah dijelaskan diatas diharapkan kita tidak hanya bertetangga secara duniawi, namun juga ukhrowi bahkan surgawi. Wallahua’lam bisshowab.[]

Rep. Nurul Laili Ahmadah
Ed. Firda Inayah, M.Ag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.