pku.unida.gontor.ac.id- Di bawah semburat sinar purnama dan gemerlap bintang yang terlihat terang, di malam hari yang cerah ini Selasa (20/09/19) sekelompok pemuda haus pengetahuan berkumpul bersama dalam kajian rutinan CIOS yang diadakan di Hall CIOS membawakan tema “Epistemologi Tafsir Sufi Sahl al-Thustari; Studi Atas QS. al-Thariq” dengan pemateri al-Ustadz Shofwan Muttaqin, S.Ag. Acara ini mengupas tuntas metodologi tafsir sufi yang pertama kali dirumuskan oleh Sahl al-Thustari dalam memaknai isyarat-isyarat ayat al-Qur’an secara batin sehingga tafsirnya diberi nama Tafsir Isyarah.

Presentasi dimulai dengan penjelasan mengenai epistemologi ilmu tafsir. Sebagaimana kaidah ilmiah, validitas keabsahan tafsir dilihat dari epistemologi sebagai sumber dalam penafsiran al-Qur’an. Metodologi yang ditetapkan dalam tafsir al-Quran yang diakui menurut M. Abid Al-Jabiri yang pertama adalah bayani yang merujuk pada nash, kemudian irfani yang menjadikan segala sesuatu yang kasyf sebagai jalan pengetahuan dan ketiga burhani yakni kemampuan untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman empiris dan rasional.

Baca juga: How to Learn English?

Sebagaimana dipaparkan pemateri, tafsir pada umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu tafsir bil-mat’sur, yakni tafsir yang mendasarkan pembahasan dan sumbernya melalui periwayatan, dan tafsir bil-ra’yi, yakni tafsir dengan menggunakan pendekatan nalar dan ijtihad.
“Namun, di dalam dunia tafsir, terdapat pula jenis tafsir lain yaitu tafsir isyarah yang acapkali dipergunakan oleh para ahli tashawwuf, dan Sahl Al-Tusi inilah yang pertama kali memperkenalkannya karena beliau hidup di paruh awal abad hijriah.”, demikian uraian dari Ustadz Shofwan.

Penjelasan dilanjutkan dengan cerita tentang biografi sang tokoh. Mufassir yang memiliki nama lengkap Abu Muhammad Sahl bin Abdullah bin Yusuf bin Rafi’ Al-Tustari ini lahir di Tustar pada tahun 200 H dan wafat pada tahun 282 H. dikumpulkan oleh muridnya Abu Bakar Muhammad Al-Baladi. Beliau dalam kitab tafsirnya yaitu Tafsir Al-Quran Al-Adzim tidak membahas penafsiran ayat per ayat Quran akan tetapi membahas ayat-ayat yang sekiranya perlu dijelaskan saja di tiap surat.

Sahl Al-Tustari membagi makna ayat menjadi empat makna: makna zhahir, makna batin, makna hadd dan makna matla. Contoh penerapannya adalah dalam surat At-Thalaq dimana Ia menafsirkan kalimat najmu tsaqib, selain makna zhahirnya yaitu bintang dijelaskan pula secara isyari sebagai kelembutan hati, sesuatu yg cerah dengan ketauhidan Allah swt dan kata raj’ dengan hati yang kembali bertaubat setelah melakukan kesalahan kembali ke hati yg bersih.

“Penafsiran ini cukup susah, yang mengetahuinya hanya penafsir itu sendiri berdasar pengalaman spiritual pribadinya”, ujar Ustadz Shofwan.
Metode tafsir isyari ini memang menuntut kemampuan yang tinggi karena selain selain harus memiliki dasar keilmuan yang kuat, harus pula didukung dengan dzauq dan ma’rifah yang tinggi pula karena tafsir ini memadukan pendekatan keilmuan syariah dengan tasawwuf.

“Sahl Al-Tustari merupakan mufassir yang paling penting kitabnya dalam perkembangan ilmu tafsir”, ujar pemateri.
Dengan lahirnya metode tafsir Isyari ini pada akhirnya juga menginspirasi para mufassir lain yang melahirkan karya karya tafsir serupa dengan metodologi isyari.

Sesi pertanyaan berlangsung meriah dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dari para hadirin. Kholid pertama kali memecah kesunyian dengan pertanyaannya “Apakah landasan tustari dalam membuat metode tafsir yang baru yaitu Tafsir Isyari yang berbeda dengan mufassir lain”.
Shofwan selaku pembicara menjawab pertanyaan terserbut: “Tafsir Isyari yang dikembangkan oleh Tustari berdasar pada amalan spiritual, pengalaman hidupnya, dan hasil dari riyadhoh ruhiyah”.

“Apakah ada tafsir pembanding terhadap tafsir isyari ini?”, tanya Fahri selaku penanya kedua. “Dalam penafsiran tidak ada perbandingan, mufassir menafsirkan sesuai dengan situasi dan kondisi di zamannya, terpengaruh isu dan keadaan lingkungan”, ujar pemateri. “Ada yg tidak setuju, karena tafsir ini ta’wil pengalaman pribadi mufassir. Corak dalam penafsiran beliau tidak terbatas pada satu corak, ada yg lughawi, ada yg tahlili, falsafi, mengkombinasikan berbagai pendekatan.” tambah Ustadz shofwan melengkapi penjelasannya.

Baca juga: Bedah Disertasi Abdul Aziz “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital”

Pertanyaan terakhir datang dari mahasiswa program studi Ekonomi Islam. “Bagaimana kriteria tafsir yang diterima itu?”.
Ustadz Shofwan menjawab: “Standar tafsir yg diterima, menurut Ibnu Qayyim, apapun tafsirnya, termasuk tafsir sufi dapat diterima apabila memenuhi syarat yakni penafsiran tidak bertentangan dengan makna zhahir ayat, makna nya benar, antar penafsir dan tafsiran ada hubungan maknanya, penafsiran tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan akal, dan terakhir harus didukung oleh dalil syar’i yg kuat dalam penafsirannya.”

Acara berakhir tepat pukul 09.30, acara resmi ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta secara keseluruhan peserta tercerahkan dengan materi malam hari ini. Kesan peserta cukup positif atas acara ini. “Menarik, menumbuhkan keilmuan yang dulu, ditimbulkan lagi sekarang”, komentar dari Ilham, sarjana tafsir, salah seorang peserta kajian tentang acara ini. “Yang kita tahu selama ini tafsir itu lughawi, ‘ilmy, dll, dengan adanya kajian ini, kita jadi tidak lupa bahwa ada tafsir isyari, yang mana pertama kali oleh al-Turtusi ini”, tuturnya.

Kajian ini selain pengingat kembali berkenaan materi Ulumul Quran, para peserta mendapatkan bekal perspektif tafsir berharga yang selama ini terpendam. Semoga kajian-kajian ilmiah seperti ini akan terus hidup di Bumi Darussalam dengan itu tercetak para ulama-ulama pembangun peradaban masa depan. []

Rep. Ramadhani Sanjaya
Ed. Admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.