Kartika Nur Utami

Dalam carut marut kehidupan sekarang ini di dalam bermasyarakat di perlukaan adanya sistem da’wah yang membimbing masyarakat dalam melakukan kehidupan yang berkualitas, eksistensi dalam beragama di rasakan setiap orang mulai dari anak-anak hingga dewasa oleh karena itu di perlukannya seorang penda’i dalam menyampaikan metode ammah sehingga membentuk masyarakat yang bermoral Agamis.

Pendahuluan
Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia sebagai Rahmatan Lil Alamin. Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan manakala ajarannya dijadikan sebagai pedoman hidup dan dilaksanakan secara konsisten serta konsekuen.

Usaha penyebarluasan Islam realisasi terhadap ajarannya adalah melalui dakwah. Dakwah merupakan suatu bagian yang pasti ada dalam kehidupan umat Islam. Dalam ajaran Islam dakwah merupakan sebuah aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia, baik individu maupun masyarakat dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik.

Sementara itu, dalam bahasa Islam dakwah adalah tindakan mengkomunikasikan pesan-pesan dakwah sebagai upaya mengajak orang lain ke jalan yang benar. Karena dalam dakwah terdapat penyampaian informasi ajaran Islam berupa ajakan untuk berbuat baik dan larangan untuk berbuat kemungkaran, nasehat dan pesan peringatan dan pengajaran dengan segala sifat-sifatnya .

Terdapat banyak ayat-ayat Al Qur‟an yang memerintahkan agar umat Islam senantiasa menggerakkan dan menggiatkan usaha dakwah, sehingga ajaran Islam dapat senantiasa tegak dan dianut oleh umat Islam. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An Nahl ayat 125 yang berbunyi:

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yangbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”

Pembahasan
Istilah dakwah dalam agama Islam nampaknya tidak asing lagi, bahkan sudah dapat dikatakan popular sekali di kalangan masyarakat saat ini. Namun demikian yang sering kita jumpai sekarang bahwa istilah dakwah oleh kebanyakan orang diartikan hanya sebatas pengajian, ceramah, khutbah, atau mimbar seperti hal nya yang dilakukan oleh para mubaligh, ustadz, atau khatib.

Dakwah sering diartikan sebagai sekedar ceramah dalam arti sempit. Kesalahan ini sebenarnya sudah sering diungkapkan, akan tetapi di dalam pelaksanaannya tetap saja terjadi penciutan makna .

Apabila kita memperhatikan Al-Quran dan As-sunah maka kita akan mengetahui sesungguhnya dakwah menduduki tempat dan posisi utama, sentral, strategis, dan menentukan. Keindahan dan kesesuaian Islam dengan perkembangan zaman, baik dalam sejarah maupun praktiknya sangat ditentukan oleh kegiatan dakwah yang dilakukan untuk umatnya.

Pada hakikatnya dakwah Islam merupakan aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap, dan bertindak.

Quraish Shihab mendefinisikan dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha untuk merubah situasi pada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju kepada pelaksanakan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek.

Metode dakwah juga merupakan cara-cara sistematis yang menjelaskan arah strategis dakwah yang telah ditetapkan. Ia bagian dari startegi dakwah. Karena menjadi strategi dakwah yang masih berupa konseptual, metode dakwah bersifat lebih konkret dan praktis. Ia harus dapat dilaksanakan dengan mudah. Arah metode dakwah tidak hanya meningkatkan efektifitas dakwah, melainkan pula bisa menghilangkan hambatan-hambatan dakwah. Setiap strategi memiliki keunggulan dan kelemahan, metodenya berupaya menggerakkan keunggulan tersebut dan memperkecil kelemahannya.

Setiap metode memerlukan teknik dan implementasinya. Teknik adalah cara yang dilakukan seorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode Teknik berisi langkah-langkah yang diterapkan dalam membuat metode lebih berfungsi.

Metode Ammah Sebagai Karakteristik Pembentukan Moral Masyarakat

Metode Ammah adalah suatu teknik atau metode dawah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seorang da’i atau mubaligh pada suatu aktifitas dakwah, ceramah dapat pula bersifat kempanye, berceramah (retorika), khutbah, sambutan, mengajar, dan sebagainya yang berhhubungan dengan lingkungan kemasyarakatan.

Metode ammah juga merupakan suatu teknik dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri-ciri karakteristik bicara oleh seseorang da’i pada suatu aktifitas dakwah. Metode ini harus diimbangi dengan kepandaian khusus tentang retorika, diskusi, factor-faktor lain yang membuat pendegar merasa simpatik dengan ceramahnya.

Metode ammah sebagai salah satu metode atau teknik berdakwah yang sebagian besar digunakan oleh para da’i ataupun para utusan Allah dalam usaha menyampaikan risalahnya.

Hal ini terbukti dalam QS. Thaha ayat 25-28 bahwa Musa AS, bila hendak menyampaikan misi dakwahnya dia berdoa yang artinya:
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Metode ammah ini telah dipakai oleh semua Rasul Allah dalam menyampaikan ajaran Allah, umumnya metode ammah diarahkan kepada sebuah publik lebih dari satu orang, oleh sebab itu metode ini disebut public speaking (berbicara di depan publik). Oleh karena itu seorang penda’I atau ustadz dalam menyampaikan metode ammahnya kepada masyarakat harus lah memiliki pengetahuan yang cukup agar mudah dalam membimbing masyarakat ke arah yang benar mengikuti Al-Qur’an dan Hadist.

Dalam metode ammah ini sendiri terbagi menjadi dua dalam menyampaikan pokok-pokok pembahasan yang berkaitan dengan Agama kepada masyarakat yaitu:

a) Cara langsung, yaitu dakwah yang dilakukan dengan cara tatap muka antara komunikan dengan komunikatornya.
b) Cara tidak langsung, yaitu dakwah yang dilakukan tanpa tatap muka antara da‟i dan audiennya. Dilakukan dengan bantuan sarana lain yang cocok. Misalnya dengan bantuan televisi, radio, internet dan lain sebagainya.

Lingkungan masyarakat adalah sekumpulan individu dan kelompok yang ketat oleh kesatuan agama maupun budaya. Setiap masyarakat mempunyai citacita dan peraturan sistem tertentu. Jadi, lingkungan masyarakat dapat menjadi kendala dalam menyampaikan suatu ajaran agama islam ini sendiri oleh karena itu pentingnya seorang penda’I atau pun ustadz yang berkopenten dalam menyampaikan metode ammah yang baik dan di mengerti oleh masyarakat.

Kesimpulan
Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia sebagai Rahmatan Lil Alamin. Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan manakala ajarannya dijadikan sebagai pedoman hidup dan dilaksanakan secara konsisten serta konsekuen.

Sementara itu, dalam bahasa Islam dakwah adalah tindakan mengkomunikasikan pesan-pesan dakwah sebagai upaya mengajak orang lain ke jalan yang benar.

Metode Ammah adalah suatu teknik atau metode dawah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seorang da’i atau mubaligh pada suatu aktifitas dakwah, ceramah dapat pula bersifat kempanye, berceramah (retorika), khutbah, sambutan, mengajar, dan sebagainya yang berhhubungan dengan lingkungan kemasyarakatan.

Oleh karena itu, peran dari seorang da’I ataupun ustadz dalam menyampaikan materi da’wahnya harus lah menyesuaikan apa yang menjadi adat dan budaya dalam masyarakat yang sesuai syariat islam, karena dengan hal itu membuat para penda’I atau penceramah di terima dengan baik oleh masyarakat dan keberhasilan dari metode ammah ini tergantung dari mapannya seorang da’I atau penceramah.[]

Referensi
M. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada, 2004)
Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, (Yokyakarta: Mitra Pustaka, 2000)
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009)
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Gerafindo Persada, 2012)

Penulis adalah peserta PKU XI Unida Gontor
ed. admin pku

One Thought on “Menela’ah Da’wah Dalam Islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.