Ach. Fuad Fahmi

Dewasa ini, kerap terjadi fanatisme madzhab di kalangan masyarakat yang notabenenya tinggal di pedesaan. Hal ini ditandai dengan munculnya mayoritas Muslim pedesaan menolak ajaran madzhab-madzhab lain yang tidak mereka anut sebelumnya.

Menurut penulis, di samping sistem pendidikan di pedesaan yang masih awam terhadap ajaran-ajaran agama Islam, problem tersebut dilatarbelakangi oleh sebagian pemuka agama atau da’i yang bertendensi terhadap satu mazhab tertentu dengan menggaungkan kepada jama’ahnya untuk tetap berpegang teguh pada mazhab yang menjadi qiblat mereka.

Sehingga tidak mengherankan jika ditemukan sebagian mayoritas Muslim mudah menyalahkan mayoritas Muslim lain yang tidak sepemikiran dengannya. Melihat fenomena tersebut, kehadiran sosok da’i yang kompeten dalam bidang dirasah Islamiyyah, khususnya bidang muqāranah al-mazāhib sangat dibutuhkan, agar masalah khilafiyyah seperti ini bisa diselesaikan dengan baik serta tidak menimbulkan berbagai pertikaian antar kelompok.

baca juga: Kewajiban Dakwah Bagi Umat Islam

Pada hakikatnya, masalah khilafiyyah seperti ini sudah lama terjadi, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW. Sebagaimana khilafiyyah antar sahabat Rasulullah dalam menyikapi masalah ibadah, muamalah, siyāsah, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cepat, karena mereka sudah mendalami ajaran-ajaran agama Islam secara komprehensif, sehingga masalah khilafiyyah mudah diselesaikan melalui jalur musyawarah dan diskusi keilmuwan.

Dengan ini, dapat diambil pelajaran bahwa mayoritas Muslim yang cenderung fanatik terhadap madzhab tertentu, diharapkan untuk memperbanyak belajar dan mendalami ajaran-ajaran agama Islam, bukan hanya menyalahkan satu sama lain tanpa didasari dengan ilmu.

Mengutip pidato yang disampaikan oleh Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A, ketika membuka acara Program Kaderisasi Ulama (PKU) pada hari Jum’at (06/7) yang lalu.

Beliau menuturkan  bahwa tantangan umat Islam sekarang ini bukan hanya masalah khilafiyyah saja, akan tetapi tantangan terbesarnya, diantaranya; liberalisasi, sekularisasi, Islamaphobia.

Hal yang sama diungkapkan oleh Dr. Hamid Fahmy dalam buku ‘Liberalisasi Pemikiran’, “tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah tantangan eksternal, yang terdiri dari beberapa isme-isme, seperti Liberalisme, sekularisme, relativisme, pluralisme, dan lain sebagainya”.

baca juga: Dakwah Kultural Kiai Sholeh Darat

Tantangan-tantangan inilah yang sekarang ini marak terjadi, bahkan sudah menyebar dan menjadi virus di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain.

Dengan demikian, Umat Islam jangan sampai diributkan oleh masalah-masalah khilafiyah, sebab masih banyak masalah lain yang lebih besar dan perlu menjadi perhatian utama, yaitu isu-isu dan tantangan kontemporer tentang pendakalan aqidah umat Islam di negeri ini.

Problematika ini dapat dibendung, jika para cendekiawan Muslim mempunyai andil dan tanggungjawab besar untuk menuntaskan masalah ini.

Selain itu budaya literasi juga harus ditingkatkan, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan menghidupkan kajian keilmuan tentang ajaran keIslaman, pengajian, tausiyah di kalangan masyarakat, khususnya di daerah-daerah pedesaan.

Tidak hanya itu, peran pesantren juga sangat penting, yaitu dengan membekali santri-santrinya dasar keilmuwan yang cukup, sehingga mereka bisa menjadi pemimpin yang militan di masyarakatnya masing-masing.

Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU XIII) Unida Gontor

Editor; Firda Inayah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.