pku.unida.gontor.ac.id- Sabtu 17/8/19 bertepatan dengan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun. Universitas Darussalam Gontor kedatangan tamu penting yang notabennya berasal dari negara yang pernah menjajah kita dulu. Lalu, siapa beliau?. Beliau adalah Prof. Dr. Martin Van Bruinessen yang merupakan guru besar di salah satu Universitas ternama di Belanda, yakni Universitas Utrecth. Selain menjadi guru besar beliau juga aktif dalam menulis, sudah banyak karya-karya yang dihasilkan beliau, Salah satu karyanya yang tidak asing di Indonesia adalah “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat”.

Foto PKU XIII putra bersama Prof. Martin

Acara tersebut diadakan di Hall CIOS pada pukul 09.30 WIB. Aula CIOS UNIDA Gontor nampak berbeda, aula telah dipenuhi hadirin dengan ekspresi yang sangat antusias atas kuliah umum yang akan dilaksankan.
Prof Martin van Bruinessen dari Belanda yang akan mengisi kuliah umum menjadi hal yang menarik bagi mahaswa/i dan dosen Universitas Darussalam Gontor.

BACA JUGA: Tumbuhkan Jiwa Nasionalisme; UNIDA Gontor Gelar Upacara HUT ke-74 RI

Prof Martin, begitulah sapaan akrab beliau, merupakan tokoh yang unik di kalangan perguruan tinggi pesantren bahkan untuk masyarakat Muslim Indonesia. Latar belakangnya sebagai orientalis yang fokus mengkaji sejarah perkembangan Islam di Indonesia termasuk organisasi-organisasi dan idelogi Islam yang berkembang di Indonesia. Beliau datang ke UNIDA Gontor didampingi oleh Bapak Dien Wahid yang merupakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Belanda yang juga merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kuliah umum dibuka dengan sambutan dari Dr. Sujiat Zubaidi Soleh, M.Ag., selaku ketua Program Doktoral Aqidah dan Fisafat Islam UNIDA Gontor. Sambutan beliau mengenai latar belakang Prof Martin membuat para peserta terheran-heran, karena disampaikan dalam bahasa Indonesia, terlepas pemateri yang berwarganegara Belanda. Ternyata Profesor Emeretus Universitas Utrecht ini sangat fasih berbahasa Indonesia, hadirin pun memberikan tepuk tangan yang meriah ungkapan dari kekaguman mereka.

Sesi kuliah umum dipandu oleh Ust Harda Armayanto, M.A. yang merupakan kandidat doktor di International Islamic University Malysia (IIUM). Pengalaman beliau mengajar sebagai dosen di UNIDA Gontor terlihat dari cara beliau mencairkan suasana aula dengan candaan-candaan akademik khas pesantren yang terucap dari mulut beliau. Sang moderator kembali membuat hadirin tercengang dengan pemaparannya bahwa Prof Martin juga fasih berbahasa Turki dan Arab.

Suami dari Ibu Rini Gunarto ini mengawali pemaparannya dengan melontarkan beberapa pertanyaan, meliputi ada dan tidaknya juga boleh atau tidaknya Islam lokal, nasional, dan transnasional. Yang beliau maksud dengan Islam lokal ialah Islam yang disebar ke wilayah-wilayah baru yang kemudian metode dakwanya beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat. Hal ini dicontohkan oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Pria yang juga fasih berbahasa Jawa ini juga memberikan contoh lain dari Islam lokal, diantaranya khas songkok dan sarung di kalangan santri Indonesia. Beliau juga menambahkan perbedaan cara dan style berhijab Muslimah Indonesia dan Muslimah dari negara lain seperti halnya Muslimah Turki. Singkatnya, Islam lokal memiliki ciri khas khusus yaitu budaya dan tradisi lokal yang di-Islam-kan bukan sebaliknya.

Salah seorang peserta menyampaikan kekagumannya atas pemaparan dosen National University of Singapore ini “pengetahuan beliau tentang sejarah perkembangan organisai-organisasi Islam di Indonesia sangat luas, beliau menjelaskan bagaiman tradisi memilih pemimpin nasional di dalam oraganisasi seperti Muhammadiah dan Nahdhotul Ulama menjadi sarana untuk mempersiapkan rakyat Indonesia dalam memilih pemimpin di level nasional juga” papar Fauzan Adzima perserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) XIII.

Tidak hanya Fauzan, salah seorang peserta lain pun terkesima dengan pemaparan beliau tentang sejarah terbentuk organisasi transnasional di Indonesiia. “organisasi transnasional seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hizbu Tahrir Indonesia (HTI), dan Front Pmebelas Islam (FPI) yang merupakan turunan dari organisai di luar negeri, organisasi tersbut masuk ke Indoseia dan menyesuaikan ideloginya dengan ideologi Indonesia dan mampu memberikah pengaruh kepada masyarakat Indonesia” jelas Fuad Fahmi, peserta PKU XIII asal Jember ini.

Foto PKU XIII putri bersama Prof. Martin

Prof Martin juga menjelaskan tentang perkembangan dari oraganisasi-organisasi transnasional yang pusat kepemimpinannya berada di luar negeri. Salah satu perkembangan menariknya ialah bagaimana organasi tersebut memiliki sayap pergerakan sampai level mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Lahirnya gerakan tarbiyah yang menginduk kepada Ikhwanul Muslimin di Mesisr yang kemudian membuahkan organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ditambah bagaimana HTI juga memiliki sayap organisasi sayap kemahasiswaan yang kuat di universitas-universitas di Indonesia.

BACA JUGA: Konsep Sunnah; Perspektif Sarjana Muslim Dan Non-Muslim

Di tengah maraknya gagasan Islam Nusantara yang tidak ada kesepakatan umum tentang defenisisnya, muncul juga gerakan yang ditawarkan teman-teman HTI yaitu gerakan NKRI bersyariah. Gerakan ini dinilai lebih cocok untuk Indonesia karena tetap menjunjung kedaulatan NKRI juga mempromosikan syariah Islam di Indonesia. Tidak seperti NKRI bersyariah, gerakan Islam Nusantara dinilai ambigu dalam artian cangkupan wilayah nusantara yang luas hingga Malaysia dan Brunei yang berarti tidak nasionalis.

Sesi kuliah umum ditutup dengan pertanyaan dari 4 peserta, dimulai oleh Ustadz Syukran Makmun (mahasiswa Program Doktoral Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA), Tabarokal Roby Rintoko, Mafhida Ustadzatul Ummah, dan Esty Diah Imaniar yang ketiga-tiganya merupakan peserta PKU XIII. Pertanyaan meliputi isu Islam Nusantara, pengaruh ormas Islam Indonesia di dunia, gejolak pergerakan mahasiswa Islam di kampus, dan terorisme. Setelah ditutup, para hadirin berkesempatan untuk berposes bersama Prof Martin.[]

Rep. Tabarokal Roby Rintoko & Martin Putra
Ed. Admin Pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.