pku.unida.gontor.ac.id- Pada hari Ahad 9 September 2019 tepatnya pada jam 08.00 WIB, peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor kembali mengikuti perkuliahan bersama Peneliti INSISTS Dr. Syamsuddin Arif dengan tema Hermeneutika. Perkuliahan bersama beliau kali ini merupakan kuliah untuk kedua kalinya, setelah kuliah bersama beliau kurang lebih dua bulan yang lalu dengan tema Peradaban Barat.

Mengawali perkuliahan ini, beliau menjelaskan tentang sejarah munculnya istilah yang disebut dengan Hermeneutika. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani Kuno yang diambil dari kata “Hermes”. Menurut keyakinan orang Yunani, Hermes ini adalah dewa yang bertugas untuk menyampaikan pesan dari Tuhan. “ Jadi, Hermes ini “malaikat jibril”-nya orang-orang Yunani”, tutur Dr. Syamsuddin Arif. Seiring berjalannya waktu, kemudian kata Hermeneutika ini dipakai untuk menunjukkan sebuah ilmu atau metode untuk memahami suatu pesan atau teks.
Selanjutanya, beliau memaparkan tentang tokoh-tokoh yang mengusung Hermeneutika beserta konsep-konsepnya. Diantara tokoh yang beliau sebutkan adalah Paul Recoeur, Friedrich Schleiemacher, Wilhelm Dilthey, Heidegger dan Gadamer.

Beliau menjelaskan dengan gaya yang menjadi khasnya beliau, yaitu menampilkan beberapa slide dengan bahasa Latin ataupun bahasa Yunani dan menjelaskan sedikit tentang cara membacanya. Ustadz Dr. Syamsuddin Arif merupakan salah seorang dosen UNIDA yang mampu menguasai beberapa bahasa termasuk bahasa Latin dan bahasa Yunani. Hal itu tentu menjadi suatu kelebihan bagi beliau. Dengan mengusai banyak bahasa, beliau mampu memperluas wawasan dari berbagai sumber dan bahasa yang beragam. Dan kami sebagai mahasiswa, juga merasa mendapat sesuatu yang baru dan unik ketika beliau menyampaikan dan menjelaskan terkait bahasa Latin maupun Yunani.

Selain menjelaskan tentang sejarah dan tokoh-tokoh Hermeneutika, beliau juga menjelaskan tentang teori dan aplikasi dari Hermeneutika. Beliau menjelaskan dengan panjang lebar dan cukup detail, yang pada intinya bahwa teori Hermeneutika tidak cocok untuk dijadikan sebagai alat untuk menafsirkan al-Qur’an.

Menafsirkan al-Qur’an dengan metode Hermeneutika justru akan menghasilkan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri. Hemeneutika ini hanya cocok untuk menafsirkan teks-teks selain al-Qur’an. Begitulah inti dari penjelasan beliau yang cukup panjang.[]

Rep. Muhammad Nurhadi
Ed. Admin pku

2 Thoughts on “Kuliah Hermeneutika bersama Dr. Syamsuddin Arif”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.