Nurul Arifah Hilda/Peserta PKU Angkatan 16

Kontribusi ilmuwan muslim terhadap perkembangan sains secara umum tidak bisa disepelekan begitu saja, apalagi sampai menganggap sains hanya selalu berasal dan berkembang di Barat. Dalam kasus ini, terdapat klaim bahwa hampir seluruh aspek dalam konsep pengetahuan lahir dari para ilmuwan Barat. Padahal, tidak sedemikian adanya. Hakikatnya, tidak sedikit dari fakta sejarah yang kerap diselewengkan oleh Barat. Selain itu, banyak juga ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pengetahuan, namun tidak diakui oleh Barat, bahkan disembunyikan dari fakta sejarah peradaban dunia. (Waid: 2014, 160–161)

Namun pada akhirnya, sejarah Islam dibuktikan dengan maraknya perkembangan ilmu dari berbagai bidang dan munculnya ratusan bahkan ribuan sarjana-sarjana Muslim. Penghargaan Islam terhadap akal dan ilmu pengetahuan bukan hanya prestasi biasa, akan tetapi hal itu telah dilaksanakan dan dipraktekkan oleh para ulama, atau kaum terpelajar Islam, yang luar biasa jumlahnya. Keadaan yang kondusif seperti itu telah berhasil menampilkan beberapa filosof Muslim terkemuka, seperti Az-Zahrawi (936-1013 M), Ibnu Sina (986-1037 M), dan lain sebagainya. Sehingga, hadirnya dari para ilmuwan Muslim tersebut turut ikut memberikan kontribusi yang besar dalam dunia kesehatan. (Jailani: 2018, 166)

Baca Juga : Relevansi Teori Atom al-Bāqilāni Terhadap Pengembangan Sains di Era Kontemporer – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Sepintas Tentang Sains Islam

Dalam memahami hadirya konsep sains Islam, hakikatnya kata “sains” diadaptasi dari kata Inggris “science” yang sejatinya berarti mengetahui atau pengetahuan (to know, knowledge), dan juga dari perkataan latin “scire” yang artinya  belajar (to learn). Adanya dua istilah itu identik dengan istilah bahasa Arab; ‘alima, ‘ilm (mengetahui, pengetahuan) dan thalab al-‘ilm (belajar atau mencari ilmu) yang dalam tradisi Islam, masih dibedakan dengan istilah idrak (persepsi) yang bertumpu pada pengamatan inderawi dan ‘irfan (pengenalan) yang bertumpu pada pengalaman spiritual, sebagaimana dalam tradisi sufi. (Muslih: 2017, 27)

Sementara, kata Islam merujuk pada sebuah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. yang di dalamnya mengatur tentang hubungan manusia kepada Allah, dan juga hubungan manusia dengan manusia serta alam jagat raya. Dengan kata lain, konsep sains Islam menunjuk pada segala disiplin ilmu yang memiliki keterkaitan dengan sumber utama agama Islam, yaitu kitab suci Al-Qur’an dan sains. Adanya ciri khas dari sains Islam (Islamic science) ialah berkaitan dengan perilaku. Sehingga selain adanya amaliah, tentunya juga harus didasari oleh pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mungkin seorang ilmuwan Muslim itu tinggi ilmunya, tetapi tidak mengamalkan isinya.

Kontribusi Sarjanawan Muslim dalam Ilmu Jiwa dan Matematika

Dalam dunia sains, Barat mengklaim bahwa Philipe Pinel adalah ilmuwan pertama di dunia yang memperkenalkan metode penyembuhan penyakit jiwa. Namun nyatanya hal tersebut tidak benar, karena sebelum peradaban Barat, hakikatnya para dokter Muslim telah lama mengkaji dan mengembangkan metode ilmiah penyembuhan penyakit jiwa. Pada masa kejayaan Islam, yaitu di abad ke-8 M, di kota Baghdad, rumah sakit jiwa atau insane asylums telah dibangun oleh para dokter muslim.  Padahal, Barat  baru mengenal rumah sakit jiwa pada abad ke-18, atau 1000 tahun berikutnya, yaitu tahun 1784. Fakta sejarah tersebut ditulis lengkap oleh Sayyid Ibrahim B. Ph.D dalam bukunya yang berjudul Islamic Medicine; 1000 Years Ahead of Its times. (Muslih, 2017, hlm. 161)

Artinya, negara-negara Islam sejatinya telah mengenal konsep sains melalui metode ilmiah penyembuhan penyakit jiwa jauh sebelum Barat mengenalnya. Adanya klaim yang menyatakan bahwa metode penyembuhan penyakit jiwa lahir dari Barat, sungguh tidak berdasar alias sebuah kebohongan belaka. Ini dikarenakan, sebelumnya para dokter Muslim telah menemukan metode ilmiah penyembuhan penyakit jiwa dan melakukan kajian klinis terhadap para pasien. Bahkan yang lebih menakjubkan, para dokter Muslim sudah mengembangkan metode ilmiah penyembuhan penyakit jiwa berdasarkan penelitian rasional – tidak berdasarkan pertimbangan takhayul sebagaimana yang dilakukan Barat pada awal masa mereka mengenal penyakit jiwa. (Waid: 2014, 162–163)

Baca Juga : Pendidikan Berbasis Akhlak Dalam Upaya Mengatasi Kerusakan Westernisasi Terhadap Umat Islam – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Selain itu, salah satu tokoh ilmuwan Islam yang telah berpengaruh pada perkembangan sains ialah Musa al-Khawarizmi yang dikenal sebagai cendekiawan dan ahli dalam berbagai bidang sains. Dari perkembangan ilmu astronomi, tampak bahwa pemikiran al-Khawarizmi berada pada periodisasi abad pertengahan, yaitu pada masa-masa kejayaan dan puncak keemasan Islam. Adanya pemikiran al-Khawarizmi dipengaruhi oleh perkembangan astronomi yang telah berkembang sebelumnya. Sehingga, ada beberapa karya terbesar al-Khawarizmi yang membuatnya besar pada masanya, di antaranya dalam disiplin ilmu matematika, astronomi, astrologi, geografi, dan kartografi. Karya-karya tersebut akhirnya menjadi pondasi keilmuan astronomis-matematis dan kemudian lebih inovatif seperti dalam al-jabar, trigonometri, serta pada bidang lain yang ia tekuni. (Mulyadi: 2018, 66)

Adapun kontribusi lainnya dalam bidang matematika, ia telah menemukan sistem angka yang menjadi tuntunan dalam penomoran angka yang berasal dari India pada sekitar tahun 500 M. Adanya sistem ini yang kelak disebut sebagai sistem angka Arab, awalnya datang ke Eropa melalui al-Khawarizmi akhirnya menjadi dasar sistem angka modern manusia. Pada hakikatnya, sistem ini pertama kali diperkenalkan kepada dunia berbahasa Arab oleh al-Kindi, akan tetapi al-Khawarizmi yang membawanya ke dunia dengan bukunya tentang sistem angka India, di mana ia menggambarkan sistem itu dengan sangat lengkap. (Masood: 2009, 113)

Dengan demikian dapat dikatakan, adanya berbagai karya dan temuan yang ditorehkan oleh para saintis Muslim tersebut sungguh luar biasa. Meskipun pada akhirnya banyak klaim yang menyatakan hasil penelitian tersebut asalnya dari Barat, namun hal ini dapat dipatahkan dengan ditemukannya beragam bukti dan fakta-fakta sejarah yang menyuarakan bahwa argumentasi itu tidak berdalil sama sekali. (Waid: 2014, 160)

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan, bahwa adanya penemuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran sangat berpengaruh besar pada perkembangan sains modern dan merupakan angin segar bagi perkembangan sains dan teknologi di era kontemporer seperti sekarang ini. Sehingga, banyak pemikir Barat yang mengadopsi pola pikir mereka dan tidak sedikit dari mereka yang berkiblat pola pemikirannya kepada para saintis muslim. Dengan akhirnya, apa yang disuguhkan dan dipersembahkan oleh para pemikir muslim telah mampu menyulap sains modern sebagaimana yang berkembang di dunia sekarang ini, baik di Barat maupun di Timur. (Jailani: 2018, 184–185)

 

Daftar Pustaka

Jailani, I. A. (2018). Kontribusi Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Sains Modern. Vol. 29, No. 1.

Masood, Ehsan. (2009). Ilmuwan-Ilmuwan Muslim: Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mulyadi, Achmad (2018). Pemikiran Al-Khawarizmi Dalam Meletakkan Dasar Pengembangan Ilmu Astronomi Islam. Vol. 20, No. 1.

Muslih, M. (2017). Falsafah Sains: Dari Isu Integrasi Keilmuawan Menuju Lahirnya Sains Teistik. Yogyakarta: Penerbit LESFI.

Waid, A. (2014). Menguak Fakta Sejarah Penemuan Sains & Teknologi Islam yang Diklaim Barat. Yogyakarta: Penerbit Laksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.