Oleh : Mohammad Khair Alfikry

Psikologi adalah sebuah disiplin ilmu yang membahas seputar manusia, baik itu manusia sebagai subjek atau sebagai objek. Pembahasan tentang manusia tidak akan pernah habis karena manusia adalah makhluk yang dinamis dan selalu berkembang dari zaman ke zaman. Manusia sebagai individu terdiri dari komponen-komponen yang terstruktur dan berkaitan satu sama lain.

Para ilmuwan-ilmuwan psikologi Barat sudah berusaha sejak lama meneliti komponen-komponen terstruktur tersebut beserta sebab, akibat, dan kecenderungan yang ada pada diri manusia. Setelah melalui penelitian yang dilakukan dengan perenungan, pengamatan dan laboratorium, kemudian dirumuskan hukum-hukum kejiwaan manusia.

Namun, perumusan hukum-hukum kejiwaan manusia sepanjang sejarah keilmuan psikologi, khususnya psikologi Barat belum menemukan titik temu dan kesatuan pandang tentang manusia. Ini merupakan sebuah kewajaran yang termaklumi, karena sebuah pandangan seorang ilmuwan terbatasi oleh kapasitas intelektualnya, juga lingkungan zaman hidupnya. Di samping itu, ilmu yang muncul dari suatu peradaban tidak akan lepas dari worldview peradaban tersebut.

Dalam hal ini, worldview Barat; sudut pandang Barat yang meminggirkan kenyataan metafisis dan spiritual memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perkembangan ilmu psikologi di Barat. Maka dari itu, bukan hal yang aneh bagi para cendekiawan muslim jika menemukan pandangan-pandangan yang keliru dalam sejarah penelitian dan perumusan tentang konsep manusia oleh para ilmuwan psikologi Barat.

Teori Psikoanalisa milik Sigmund Freud misalnya, teori yang memandang bahwa manusia sebagai homo volens. Yaitu manusia sebagai makhluk yang perilaku-perilaku nya dikendalikan oleh alam bawah sadar. Menurut teori ini, perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari tiga pokok kepribadian, yaitu id, ego, dan superego; nafsu hewani, intelektual, dan moral.

Melalui teori psikoanalisa ini, dapat kita maknai bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat lemah karena tidak dapat menguasai alam bawah sadar yang hakikatnya berada dalam diri manusia itu sendiri.

Setelah itu, teori psikoanalisa ini dapat terbantahkan oleh teori Behaviorisme, yaitu teori yang menyatakan bahwa perilaku manusia bukan semata-mata dikendalikan oleh alam bawah sadar, melainkan sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan yang empiris. Menurut pandangan ini, manusia sebagai homo mechanicus, yaitu perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor objektif lingkungan. Manusia merupakan hasil dari interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Dalam hal ini, manusia masih terlihat lemah karena tidak dapat menguasai lingkungan sekitarnya.

Teori ini pun dibantah oleh teori psikologi kognitif yang mengatakan bahwa manusia tidak tunduk saja terhadap lingkungan yang ia tempati. Manusia dalam pandangan ini sudah mampu berpikir dan mampu menentukan antara ingin menguasai lingkungannya atau dikuasai oleh lingkungannya. Manusia sebagai homo sapiens mampu berpikir untuk menentukan respon terhadap lingkungannya.

Manusia dalam teori psikologi kognitif, berada pada derajat yang lebih tinggi dibanding dalam teori psikoanalisa dan teori behaviorisme. Namun, belum mampu menempatkan manusia sebagai makhluk yang terhormat, karena belum mampu menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang irasional.

Perkembangan selanjutnya, muncullah teori psikologi humanistik. Yaitu teori psikologi yang memandang manusia sebagai eksistensi positif yang menentukan. Teori ini juga memandang manusia sebagai makhluk yang unik yang memiliki nilai, makna, cinta, dan kreatifitas tersendiri yang berbeda dengan manusia yang lain serta mampu memaknai setiap fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungannya.

Teori ini menyebut manusia sebagai homo ludens yaitu manusia yang mengerti makna kehidupan. Namun, teori ini dianggap terlalu ekstrem, karena memusatkan segala-galanya kepada manusia. Seolah-olah menganggap manusia adalah makhluk yang berkuasa atas segala sesuatu sehingga mampu berkehendak sesuai keinginannya dan berpotensi keluar dari norma-norma masyarakat dan agama yang sudah ada.

Perkembangan sejarah psikologi Barat yang telah dijelaskan diatas belum mampu menyentuh seluruh aspek atau komponen-komponen yang ada pada manusia. Karena penelitian psikologi yang dilakukan oleh ilmuwan Barat hanya melalui pengamatan yang tidak didasari oleh wahyu Tuhan, sehingga tidak mampu menyentuh komponen penting dalam diri manusia, yaitu komponen spiritual. Kecil kemungkinan Barat akan menyentuh aspek spiritual dalam penelitian psikologi mereka, karena worldview Barat yang sekuler sudah mencampuri perkembangan keilmuan psikolohgi.

Dalam kajian psikologi, Islam sebagai worldview perlu menempatkan wahyu sebagai dasar dalam memahami hakikat manusia. Ibarat kita ingin menggunakan handphone, kita perlu membaca buku panduan handphone yang dikeluarkan oleh perusahaan handphone untuk memahami komponen-komponen yang ada pada handphone serta mengetahui bagaimana cara merawatnya hingga dapat bertahan lama. Begitupun dalam memahami hakikat manusia. Kita perlu merujuk kepada buku panduan yang memang ‘diturunkan’ oleh sang Pencipta, yaitu Al-Qur’an.

Al-Qur’an menggunakan tiga kelompok istilah untuk menjelaskan manusia secara totalitas, baik fisik maupun psikis. Pertama, kelompok kata Al-Basyar. Kedua, kelompok kata Al-Ins, Al-Insan, Al-Nas, dan Al-Unas. Ketiga, kelompok kata Bani Adam. Masing-masing istilah ini memiliki intens makna yang beragam dalam menjelaskan manusia. Perbedaan itu dapat dilihat dari konteks-konteks ayat yang menggunakan istilah-istilah tersebut.

Nmun, satu hal yang perlu disadari, bahwa perbedaan istilah tersebut bukan menunjukkan adanya inkonsistensi atau kontradiksi uraian Al-Qur’an tentang manusia, tetapi merupakan keistimewaan yang luar biasa karena Al-Qur’an mampu meletakkan suatu istilah yang tepat dengan sisi pandangan atau penekanan pembicaraan yang sedang menjadi fokus pembicaraannya.

Al-basyar secara bahasa bermakna fisik manusia. Makna ini merupakan hasil abstraksi dari berbagai uraian tafsir yang dikemukakan oleh ulama-ulama tafsir. Al-Qur’an menggunakan kata al-basyar untuk menjelaskan manusia sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna (dua).

Penggunaan kata al-basyar dalam Al-Qur’an ini menekankan kepada gejala umum yang melekat pada fisik manusia, yang secara umum relatif sama antar sesama manusia. Pengertian al-basyar tidak lain adalah pengertian manusia pada umumnya, yaitu manusia dalam kehidupan sehari-hari yang bergantung kepada kodrat alamiahnya, seperti makan, minum, berhubungan seks, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati.

Kelompok kedua yakni istilah al-insan yang meliputi kata-kata sejenisnya yaitu al-ins, al-nas, dan al-unas. Istilah al-ins dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat. Kata al-ins digunakan dalam Al-Qur’an ada kaitanya dengan berbagai potensi jiwa manusia, antara lain sebagai hamba Allah Swt yang selalu berbuat baik sehingga menjadi penghuni surga, tetapi juga potensia menjadi pembangkang Allah SWT sehingga menjadi penghuni neraka.

Kata al-ins juga diberi peluang agar dapat mengembangkan potensi nya untuk menguasai alam. Semua kemampuan potensial ini merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia. Pada tataran ini, manusia masih terlihat netral dan berpotensi menjadi baik ataupun buruk sehingga lingkungan dapat mempengaruhin potensi tersebut.

Selanjutnya kata al-unas sebagai bentuk jamak dari kata al-insan digunakan Al-Qur’an sebanyak 5 kali dalam 5 ayat dan 4 surat. Penggunaan kata al-unas yang merupakan bentuk jamak dari al-insan ini dapat dipahami makna nya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang berkelompok dan ia akan membentuk kelompok sesuai dengan ciri-ciri persamaannya, seeprti persamaan suku, bangsa, kepentingan, kebutuhan dan lain-lain. Oleh karena itu, penggunaan kata al-unas di dalam Al-Qur’an ini selalu dihubungkan dengan kelompok manusia.

Selanjutnya kata al-insan muncul dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali dan merupakan penggunaan kata terbanyak kedua setelah kata al-nas. Kata al-insan dalam Al-Qur’an ini bermakna bahwa manusia diberikan oleh Allah Swt ilmu pengetahuan, potensi, dan juga sarana di dalam dirinya untuk menemukan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan tersebut. Inilah salah satu keistimewaan manusia dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya.

Istilah berikutnya adalah al-nas. Istilah al-nas digunakan sebanyak 243 kali dalam Al-Qur’an masing-masing dalam 54 surat dan 230 ayat. Kata al-nas dalam Al-Qur’an ini mengandung makna sifat-sifat universal manusia. Dengan kata lain, bahwa manusia adalah salah satu dari bermacam-macam makhluk Tuhan di alam ini.

Kelompok istilah terakhir adalah bani adam. Secara bahasa bani adalah bentuk jamak dari kata ibnun yang berarti anak. Bentuk dasarnya adalah banun atau banin, tetapi karena berada pada posisi mudhaf maka huruf wau dan nun pada kata banun harus dihilangkan sehingga menjadi kata bani. Kata bani adam dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 7 kali masing-masing dalam 7 ayat dan 7 surat.

Berdasarkan penggunaan kata bani adam dalam Al-Qur’an dapat kita pahami bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dan keistimewaan dibanding makhluk lainnya. Keistimewaan itu meliputi fitrah keagamaan, peradaban, dan kemampuan memanfaatkan alam. Dengan kata lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berada dalam relasi dengan Tuhan, dan relasi sesama manusia, dan relasi dengan alam.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifah-Nya di bumi, serta makhluk yang semi samawi duniawi yang didalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan, dan keesaan-Nya, memiliki kebebasan, terpercaya, memiliki rasa tanggungjawab serta dibekali dengan kecenderungan ke arah kebaikan dan kejahatan. Eksistensi manusia dimulai dari keadaan yang lemah, dan kemudian bergerak ke arah kekuatan yang dahsyat, namun kekuatan itu tidak mampu mengatasi kegelisahan mereka untuk menghadapi kematian, kecuali dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kapasitas manusia tidak hanya dalam kemampuan belajar dan mengembangkan ilmu, namun memiliki martabat naluriah. Motivasi manusia tidak hanya terbatas pada sifat kebendaan atau materialistis, namun jauh menembus dataran transenden dan spiritual. Akhirnya manusia memiliki keleluasaan dalam memanfaatkan karunia Allah Swt. yang dilimpahkan kepada manusia, namun pada saat yang sama manusia harus menunaikan tanggungjawab dan kewajibannya terhadap Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Penulis adalah peserta PKU ke-12 Unida Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.