Oleh: Akhmad Subekti Jiwandana

pku.unida.gontor.ac.id- Dakwah Islam mutlak harus terus dilaksanakan, terutama di Indonesia. Bumi pertiwi dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia mengharuskan para pemuka agama gencar memberikan pemahaman yang lurus bagi umat yang masih awam tentang agama. Tidak hanya jumlahnya yang sangat besar tapi luasnya negeri ini dari sabang sampai merauke pastinya membuat dakwah tidak tesebar merata. Sumber daya manusianya atau da’i yang berkompeten mengenai agama Islam dan interaktif bisa dihitung jari. Perlu adanya pelatihan dan persiapan khusu agar da’i yang diterjunkan di masyarakat bisa memahamkan dengan menyesuaikan kondisi lingkungan. Ditambah lagi dengan pemahaman yang sesat atau menyimpang dari agama akan membuat kekeliruan fatal bagi umat dalam menjalankan ibadah. Inilah tantangan besar bagi umat Islam secara luas terutama bagi mereka yang bertugas dakwah.

Pengertian dan Kewajiban Berdakwah

Secara etimologis atau bahasa, dakwah berasal dari kata da’a – yad’u da’watan, artinya mengajak atau menyeru. Sedangkan secara terminologis atau istilah dakwah dalam Islam adalah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Swt. sesuai dengan aqidah, syari’at agama Islam. Disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an akan kewajiban berdakwah bagi umat Islam, yaitu: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125), “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110), “Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-’Ashr:1-3).

Jenis-Jenis Dakwah

            Berdakwah di tengah umat modern saat harus memilik cara yang interaktif dan tepat. Banyak cara berdakwah agar umat Islam memahami agama dengan baik dan menangkal pemahaman-pemahaman sesat dari serangan pemikiran barat. Di antara cara adalah pertama, dakwah dengan lisan adalah dakwah yang disampaikan dalam bentuk komunikasi lisan (verbal), seperti ceramah, pengajian, khutbah, atau penyampaian dan ajakan dengan kata-kata (berbicara). Jenis dakwah seperti ini sudah tidak asing lagi bagi umat Islam karena jenis inilah yang sering digunakan oleh para da’i atau muballigh. Dakwah dengan cara ini tidak boleh monoton atau datar-datar saja, harus menarik perhatian jama’ah. Jika tidak jama’ah akan bosan dan pesan yang akan disampaikan pun bisa tidak maksimal.

Kedua, dakwah bil hal adalah dakwah yang dilakukan melalui aksi atau tindakan nyata, misalnya melalui program dan aktivitas kelembagaan seperti ormas Islam, lembaga pendidikan Islam, lembaga sosial-ekonomi seperti, Baitul Mal wa Tamwil (BMT), Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (LAZIS), bakti sosial, dan sebagainya. Dengan cara seperti ini sama saja umat Islam sedang menegakkan syari’at Islam. Mengetahui ilmunya dan langsung mempraktekkannya. Maka sudah seharusnya umat Islam turut andil mendukung program-program yang membawa nama Islam, yang pastinya sesuai dengan syari’at-Nya. Karena itu merupakan bagian dari dakwah. Ketiga, dakwah bil qolam adalah dakwah yang disampaikan melalui tulisan yang diterbitkan atau dipublikasikan melaui media massa, buku, buletin, brosur, pamflet, dan sebagainya. Dakwah seperti ini pengaruhnya lebih besar. Karena pesan yang disampaikan tercatat, tidak akan menghilang begitu saja. Berbeda dengan dakwah bil lisan yang jika pesan penceramah tidak ditulis akan menguap begitu saja. Mayoritas musuh-musuh Islam menyerang umat Islam melalui buku-buku yang mereka terbitkan. Karena pengaruhnya sangatlah besar, bisa membuat umat Islam yang awam akan pemikiran misalnya, mengikuti pemahaman-pemahaman yang mereka bawa. Maka cara menyerang baliknya pun dengan mengkritik tulisan tersebut dengan menulis buku.

Keempat, dakwah bil qudwah adalah dakwah melalui keteladanan sikap atau perilaku yang mencerminkan moralitas atau akhlak Islam. Peran ini harus dimulai dari yang paling dasar yaitu keluarga. Orang tua harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Kemudian lingkungan, dengan membuat kegiatan-kegiatan positif bahkan rutinitas yang baik seperti membaca al-Qur’an setiap ba’da maghrib sampai menjelang waktu ‘isya. Dalam prosesnya, semua orang tua harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya dan tegas demi membentuk lingkungan yang berakhlak Islami. Dan yang paling besar ada Negara. Ujung tombaknya adalah kepala negara. Gerak-gerik, kebijakan-kebijakan, cara berbicara, tindak tanduknya dan ibadahnya memberikan efek yang sangat besar bagi rakyatnya. Maka apa jadinya sebuah negara jika seorang pemimpin, ibadah, akhlak dan pemikirannya tidak Islami di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini, contohnya?

Kelima, dakwah dengan media sosial adalah dakwah dengan memanfaatkan media seperti facebook, youtube, instagram, twitter, televisi dsb. Di zaman modern ini dakwah dengan media sosial bisa menjadi alternatif yang efektif bahkan mengena secara langsung, cepat dan tidak mengenal waktu. Karena orang zaman sekarang dapat dengan mudah mengkases apapaun melalui internet ditambah kehidupan sosial yang ingin segala sesuatunya berjalan dengan cepat. Maka tidak heran jika banyak kita temukan ceramah-ceramah atau petikan-petikan hikmah yang viral melalui media sosial. Disamping itu umat Islam juga harus cermat dan pandai menilai dakwah melalui media social karena mudahnya ditemukan hal-hal yang berbau hoax dan editan.

Syarat Seorang Da’i

Sebutan da’i identik dengan orang yang menyampaikan agama. Ini karena isi yang sering disampaikan ke umat berkenaan dengan ilmu syari’at atau menjelaskan tafsiran ayat-ayat al-Qur’an atau hadits yang berkenaan dengan kehidupan sehari-hari. Maka seorang da’i harus memiliki keilmuan Islam dan akhlak yang baik. Ditegaskan lagi oleh  almarhum Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, K.H. Hasyim Muzadi, bahwasannya terdapat tiga syarat agar seseorang dapat dikatakan seorang dai. “Da’i harus memiliki keikhlasan, keilmuan, dan akhlak sopan santun.” Seorang da’i memiliki tanggung jawab lebih besar dari mubaligh. Mubaligh berkewajiban hanya menyampaikan dakwah saja. Sedangkan, da’i tidak hanya berkewajiban menyampaikan dakwah tetapi juga membimbing.

Masyarakat harus selektif ketika memilih da’i untuk berdakwah di tempatnya. Salah satunya, jangan hanya melihat dari penampilan atau kepopulerannya saja, karena itu bukan ukuran berhasil atau tidaknya sebuah dakwah. Yang lebih penting adalah sebagaimana syarat yang disebutkan di atas. Bagi seorang da’i pun harus selalu menjaga keimanan, keikhlasan dalam berdakwah demi terbentuknya umat yang paham agama dalam menjalankan kehidupannya.

Tantangan Dakwah

Menurut mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustad Syuhada Bahri menilai di Indonesia, banyak tantangan menghadang dakwah Islam ke depan. Salah satu tantangan dakwah di Indonesia, mayoritas umat Islam masih kurang memahami agamanya secara menyeluruh. Dalam pandangan Ustad Syuhada, hal itu disebabkan setidaknya oleh dua hal. “Pertama, gencarnya gerakan anti-Islam, yang berusaha menjauhkan umat dari memahami Islam. Kedua, belum optimalnya dakwah kita,”

Ditambah lagi dengan tantangan yang lebih berat yaitu merebak bahkan menjamurnya pemahaman-pemahaman Barat seperti, Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, Syi’ah, Dekonstruksi Syari’ah, Feminisme dsb. Upaya menangkal tidaklah mudah, perlu kajian-kajian penelitian bahkan mempelajarinya kemudian mengkritik pemahaman mereka yang salah dengan worldview Islam (cara pandang Islam).

Kesimpulan

            Dakwah di zaman modern haruslah interaktif dengan berbagai caranya. Itu bisa dilakukan dengan cara dakwah sebagaimana disebutkan di atas. Da’i harus kreatif ketika berdakwah apalagi dengan cara ceramah (baca:pengajian), jangan sampai membuat jam’ah bosan. Di samping itu, kemampuan menggunakan teknologi terutama media sosial perlu diketahui, agar dakwah  yang disampaikan terus mengalir. Itu karena, masyrakat zaman sekarang dapat dengan mudah mengkases internet di masa saja, dan hal ini harus dijadikan sarana dalam berdakwah. Maka dakwah harus terus dilakukan sampai kapan pun dan di mana pun karena itu adalah kewajiban seorang Muslim.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XI) Unida Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.