Oleh : Derajat Fitra Mahardika

Konsepsi Marx mengenai masalah alienasi atau keterasingan berpijak pada prinsip materialisme-dialektika. Prinsip materialisme menegaskan bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah materi atau bersifat material yang berada di luar jangkauan persepsi indera atau kesadaran manusia dan mengakui bahwa materi adalah unsur primer atau basis yang mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Adapun prinsip dialektika menyatakan bahwa realitas alam atau material senantiasa mengalami perubahan karena adanya pertentangan-pertentangan di dalamnya sehingga mendorong perubahan tersebut terus terjadi. Selain itu, juga menegaskan bahwa metode empiris adalah satu-satunya neraca penentu kebenaran ilmiah. Seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx, tentu akan berpegang pada prinsip-prinsip sentral tersebut, karena jika tidak demikian maka akan mustahil mempertahankan bangunan pemikiran Marxisme.

Marxisme mereduksi realitas alam hanya menjadi sebatas realitas inderawi atau material semata, membatasi pengetahuan ilmiah hanya pada metode empiris sebagai neraca kebenarannya sehingga menolak nilai-nilai ketuhanan atau agama serta mengandung kontradiksi. Klaim ilmiah pemikiran Marx telah gugur ketika pada kenyataannya pengalaman inderawi terbukti tidak bebas dari kesalahan dan pernyataan bahwa “sains empiris adalah satu-satunya neraca kebenaran ilmiah” bukan merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan secara empiris. Kemudian, penegasan Marx akan berakhirnya keadaan masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas sekaligus menafikan akan berhentinya keadaan masyarakat tersebut dari mengalami perubahan adalah kontradiktif, sama dengan menegaskan bahwa sesuatu itu ada sekaligus tidak ada secara bersamaan. Oleh karena itu, ajaran Marxisme khususnya mengenai masalah keterasingan manusia mengacu pada konsktruksi pemikiran yang bersifat reduksionistik, ateistik, dan mengandung kontradiksi yang tidak dapat dibenarkan oleh akal sehat. Dengan demikian, Marxisme tidak relevan dijadikan sebagai solusi bagi permasalahan kemanusiaan, khususnya permasalahan di dalam umat Islam.

Seorang Muslim mestinya seksama memahami dan meyakini bahwa cara penyelesaian yang terbaik, bukanlah dengan bersandar pada Marxisme mulai dari konsep-konsep sampai ke bentuk-bentuk praktisnya yang terjauh, seperti revolusi misalnya, melainkan dengan pemahaman dan peng­­amalan ajaran Islam secara menyeluruh dan konsisten. Adapun jika didapati beberapa kesamaan antara pandangan Islam dan sains Barat modern mengenai penggunaan metode rasional dan empiris untuk memperoleh ilmu pengetahuan, kesamaan tersebut tidak sampai menghapuskan perbedaan di antara keduanya karena timbul dari beberapa perbedaan penting yang mendasar, salah satunya adalah mengenai aspek ketuhanan. Dengan keyakinan dan kesadaran bahwa hakikat kebenaran datang dari Allah Swt, seorang Muslim akan memandang realita secara integral dalam kerangka tauhid, artinya tidak sekular dan tidak pula dikotomis atau tidak terputus dari nilai-nilai ketuhanan dan tidak memisahkan dua hal yang saling berhubungan seperti objektif-subjektif, historis-normatif, dan sebagainya, sehingga menimbulkan paham-paham ekstrim seperti empirisme-rasionalisme, materialisme-idealisme dan sebagainya.

 

untuk makalah secara lengkapnya bisa di download di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.