Muhammad Maulidin Baharsyah/Peserta PKU Angkatan 16

Imajinasi merupakan salah satu indera internal yang dimiliki oleh manusia.[1] Akan tetapi di Barat kedudukan akan peranannya sering kali diwarnai dengan pemaknaan pejorative (bermakna negative).[2] Hal ini tampaknya selaras dengan pernyatan oleh Noel Carrol yang memandang imajinasi sebagai “the junkyard of the mind” atau imajinasi merupakan suatu tempat rongsokan dimana segala sesuatu di dalamnya dapat dibuang.[3] Penggunan term negatif terkait imajinasi juga dapat ditinjau dari segi historisnya. Bahkan semenjak zaman Helenis terdapat anggapan bahwa imajinasi merupakan daya yang hanya dimiliki oleh Tuhan, karena secara bawaan imajinasi memiliki makna sebagai daya cipta atau reka (creation). Dimana manusia seolah-olah telah mereduksi keberwujudan Tuhan yang diwakilkan kepada idolatry. Hal ini yang kemudian memunculkan tanggapan yang memalukan akan imajinasi, karena menurut mereka pada dasarnya kemampuan Tuhan secara tidak sah diambil oleh manusia.[4]

Peristiwa akan pemaknaan yang demikian ini nyatanya juga terjadi di dalam tradisi intelektual Islam. Hal ini lantaran disebabkan kurangnya sumber pengkajian akan pembahasan mengenai imajinasi dalam tradisi Islam. Sehingga tidak heran umat Islam kini menganggap bahwa segala hal yang bersumber pada imajinasi atau khayal sebagai suatu yang tidak benar. Hal ini mungkin disebabkan adanya pemahaman Barat terkait konsepsi imaginary atau fancy yang sebenarnya bersumber dari fantasi.[5] Dimana secara konsepsi pembahasan akan hal ini cukup berbeda dengan pembahasan yang akan dikaji dalam perbincangan ini.

Meskipun munculnya berbagai pertentangan akan diskursus ini, tetapi faktanya, dalam tradisi intelektual Islam pembahasan demikian memiliki segi-segi positif. Hal inilah, disatu sisi yang juga mendorong pengkaji Barat di dalam memahami konsep imajinasi dalam Islam. Seperti halnya Henry Corbin, William C. Chittick, Deborah L. Black, dan sebagainya. Dimana sebenarnya jauh sebelum mereka banyak diantara ilmuwan muslim juga memperbincangkannya, seperti Al-Ghazali, Al-Baghdadi, Al-Razi, dan Ibn Sina yang dapat ditemui dalam karya-karnyanya. Meski, di dalam tradisi Islam terdapat beberapa perbedaan pendapat atas kajian ini yang utamanya terkait penafian imajinasi meskipun mereka menyetujui keberwujudan akan daya imajinasi (khayal) dalam proses aqliyah.[6] Namun, pembahasan akan hal ini tetap bergulir hingga kini. Bahkan, tidak jarang yang mengkaitkan peranannya di dalam mencapai ilmu pengetahuan.

Baca Juga : Epistemologi Islam : Hubungan Antara Wahyu dan Akal Menurut Imam Al-Ghazali – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Letak Imajinasi dalam Epistemologi Islam

Secara istilah perbincangan akan imajinasi juga dapat kita temui dalam berbagai macam penggunaan bahasa. Misalnya dalam bahasa Yunani imajinasi dinamakan dengan phantasia dan eikasia, kemudian apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Latin yakni imaginatio, sementara dalam bahas German diartikan dengan istilah Einbildungskraft dan Phantasie, yang kemudian dalam diskursus Inggris dan Prancis disebut dengan imagination.[7] Lain halnya di dalam bahasa Arab seringkali disebut dengan al-quwwah al-khyaliyyah atau al-quwwah al-mutakhayyilah.[8] Dimana dalam hal ini imajinasi digambarkan sebagai suatu daya yang diwakilkan dengan istilah al-quwwah.

Adapun secara terminologis, menurut Ibn Sina yang dimaksudkan dengan daya khayal (al-quwwah al-khayāliyyah),[9] yaitu suatu daya yang memiliki kemampuan untuk menyimpan, serta mengingat segala sesuatu objek dari indera eksternal meski objek tersebut sudah tiada namun dalam hal ini dia tetap mampu untuk mengingat gambaran-gambaran dari objek inderawi (aṣ-ṣuwwar al-maḥsusah) yang sudah tiada wujudnya. Sehingga dalam pengertian ini cukup jelas bahwa imajinasi pada titik tertentu mampu untuk menangkap dan membentuk gambaran yang pada gilirannya akan membantu kinerja pada aqal dan pikiran.[10]

Namun, apabila kita sadari menurut Mohd Zaidi Ismail bahwa daya khayal ini memiliki dua segi, yakni segi yang menuruti serangkaian aturan tertentu (muntaẓam) dan segi yang bebas dari aturan-aturan tersebut (ghayr muntaẓam).[11] Dalam hal ini al-Attas, sepertinya juga memiliki terma yang sepadan yakni, orderly dan non-orderly fashion.[12] Hal demikian, nyatanya pun selaras dengan pandangan Syed Muhammad Nauqib al-Attas dalam karyanya Prolegomena terkait daya tersebut. Dalam hal ini al-Attas pun juga telah membagi dua bentuk imajinasi, yaitu sensitive imajinasi dan rasional imajinasi. Dimana jenis yang pertama ini hanya menerima dari data inderawi dan jenis kedua lebih kepada intelek atau alam batin yang tinggi.[13] Di samping itu al-Attas juga menegaskan bahwa dalam perolehannya terhadap ilmu perlu adanya bantuan atas daya imajinasi. Sebagaimana yang beliau tuliskan bahwa “Thought (al-fikr) is the soul’s movement towards meaning, and this needs imagination (al-khayal).[14]

Hal ini tampaknya juga selaras dengan pandangan Ibn Sina terkait peranan imajinasi seperti pernyataan berikut ini:

There [at arrival/wuṣūl], there are grades no fewer than the grades of what preceded, we have preferred to exclude them because speech does not make [one] understand them, interpretation does not explain them, and statements do not disclose [yakshifu] them, except the [faculty of] imagery [ḥayāl].

He who would like to uncover them, let him proceed gradually until he becomes one of those who have direct vision (ahl al-mushāhada) and not one of those who [learn about it through] talk, and one of those who arrive at the thing itself and not those who perceive its trace.[15]

Baca Juga : Konsep Manusia Dalam Perspektif Psikologi Barat dan Islam – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Dimana beliau juga menyebutkan istilah wuṣūl (arrival) yang merupakan tahapan tertinggi dari pengetahuan yakni, dalam segi tingkatan memperoleh intelek yang secara konstan dan tidak terganggu dengan intelek aktif, serta keseluruhan bentuknya dari sesuatu tersebut hadir dalam jiwa tanpa adanya penghalang.[16] Sehingga dalam hal ini terdapat keserupaan yang tampak dengan pandangan Al-Attas. Dimana dalam proses untuk mengetahui kedudukan akan imajinasi atau khayal tidak dapat dinafikan.

Imajinasi merupakan indera internal yang dimiliki oleh manusia. Kedudukannya seringkali dimaknai sebagai hal yang negatif tidak dapat dihindarkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai macam pendapat yang mempertanyakan akan kedudukannya. Namun, jikalau kita tinjau lebih lanjut dapat ditemukan bahwa imajinasi khususnya di dalam kajian Islam memiliki peranan yang amat signifikan. Dimana dalam hal ini imajinasi atau daya khayal dapat membantu proses dalam mencapai pengetahuan. Meski, di satu sisi tidak dapat dinafikan bahwa imajinasi atau daya khayal kadangkala memiliki keterbatasannya tersendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam penjelasan singkat di atas.

[1] Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam: A Study in Islamic Schools of Epistemology (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2019), 51; Mohd Zaidi Ismail, ed., Kreativiti & Imaginasi Dalam Psikologi Islami: Pengamatan al-Ghazzali, al-Baghdadi dan al-Razi, Cet. Ketiga (Kuala Lumpur, Malaysia: Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) Press, 2018), 7.

[2] Menurut Dr. Ugi, beliau menegaskan bahwa penggunaan istilah imajinasi dalam bahasa Indonesia sangatlah pejorative atau bermakna negatif. Namun, menurutnya bahwa khayal adalah salah satu daya atau kekuatan jiwa yang ada pada diri manusia, bahkan diantara jiwa manusia yang paling tinggi adalah al-mutakhayyilah (imagination faculty). Bahkan, kedudukan imajinasi lebih tinggi dibandingkan dengan rasio (intelek). Dengan imajinasi ini nantinya mampu akan mengantarkan manusia pada pengetahuan yang dalam hal ini nantinya termasuk dalam pembahasan terkait kognitif imajinasi. Sehingga dalam hal ini jelas bahwa pembahasan akan imajinasi bukanlah hal yang negatif dalam pandangan ulama Islam, bahkan justru seseorang dengan daya intelek yang tinggi maka daya khayalnya pun tinggi. Ugi Suharto, “Kajian Bedah Buku Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam,” Islam and The Philosophy of Science, 4 November 2020, https://drive.google.com/file/d/1YLu6crAsPXVBxijCtg96Aqx
Nf6lmBpV_/view?usp=sharing.

[3] Amy Kind, The Routledge Handbook of Philosophy of Imagination (New York: Routledge, 2016), 1.

[4] H. Tedjoworo, Imaji dan Imajinasi (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 32.

[5] Mohd Zaidi Ismail, Kreativiti & Imaginasi Dalam Psikologi Islami: Pengamatan al-Ghazzali, al-Baghdadi dan al-Razi, 5.

[6] Mohd Zaidi Ismail, 7.

[7] Richard Kearney, The Wake of Imagination (London: Routledge, 1988), 15.

[8] Mohd Zaidi Ismail, Islam & Higher-Order Thinking an Overview (Kuala Lumpur, Malaysia: Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) Press, 2018), 31.

[9] Ibn Sina, Avicenna’s De Anima (Arabic Text) Being The Psychological Part of Kitab al-Shifā’, ed. oleh F. Rahman (New York-Toronto: University of Durham Publications, 1959), 163.

[10] Mohd Zaidi Ismail, Aqal Dalam Islam: Satu Tinjauan Epistemologi, Cet. Ketiga (Kuala Lumpur, Malaysia: Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) Press, 2018), 37.

[11] Mohd Zaidi Ismail, Kreativiti & Imaginasi Dalam Psikologi Islami: Pengamatan al-Ghazzali, al-Baghdadi dan al-Razi, 14.

[12] Syed Muhammad Nauqib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur, Malaysia: ISTAC, 1995), 154.

[13] Mohd Zaidi Ismail, Kreativiti & Imaginasi Dalam Psikologi Islami: Pengamatan al-Ghazzali, al-Baghdadi dan al-Razi, 20–21.

[14] Syed Muhammad Nauqib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, 124.

[15] Ibn Sina, al-Ishārāt wa-t-Tanbihāt ma‘a Sharḥ Naṣirudin Aṭ-Ṭusi, ed. oleh Sulayman Dunya, vol. 4 (Kairo, Mesir: Dar al-Marif, 1999), 99–100.

[16] Dimitri Gutas, Intellect without Limits: The Absence of Mysticism in Avicenna, t.t., 366.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.