Oleh: Ahmad Tauhid M

pku.unida.gontor.ac.id- Dilansir dari Kiblat.net, Jakarta 9 Muharram 1441 bertepatan dengan 9 September 2019 lalu bertempat di Gedung Tennis Indoor Gelora Bung Karno (GBK) kalangan Syi’ah telah mengadakan peringatan Asyura. Berbeda dengan Umat Islam lainnya yang sedang mengamalkan puasa Tasu’a, kalangan Syi’ah memanfaatkan momen ini untuk mengenang kematian Husain, putra Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan data dari Trans89.Com, perayaan Asyura atau yang juga dikenal dengan peringatan Karbala ini dihadiri sekitar 2000 peserta. Menurut pantauan Kiblat.net, 1700 personil polisi dari Kapolsek Tanah Abang juga turut mengawal prosesi acara yang dimulai pada pukul 12.30 hingga kurang lebih 17.00 WIB.

Selepas sambutan dari panitia, pembawa acara memberikan kesempatan untuk beberapa pembicara untuk menyampaikan pidato. Diantaranya seperti Miftah Rahmat, putra Jalaluddin Rahmat dan dilanjut pembicara kedua Dr. Umar Shahab, ketua Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia (ABI). Pada tengah-tengah pidatonya, Umar menyeru kepada peserta dengan bahasa Arab “Man Yansuruni,” kemudian serentak peserta menjawab “Labbaika yaa Husain.” “Seruan ini diteriakkan Husain saat perang di Padang Karbala, dan ketika semua anak-anak dan juga sahabatnya telah gugur.” Terang Umar dalam Kiblat.net, (9/9/2019).

Perayaan Asyura yang diadakan oleh Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan ABI beberapa hari lalu ini membuktikan kepada kita bahwa eksistensi Syi’ah di Indonesia kian menguat. Tidak lagi sembunyi-sembunyi, kendati keberadaannya sudah difatwakan sesat oleh MUI Jawa Timur dalam keputusan No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah. Oleh karenanya, sangat perlu sekali bagi kita memahami dengan baik apa itu peringatan Karbala dan perayaan Asyura. Agar bisa berwaspada dan mengantisipasi sehingga tidak ikut terjerembab dalam bujuk rayu kesesatan Syi’ah.

Baca Juga: Desakralisasi al-Qur’an

Tragedi Karbala
Karbala adalah nama sebuah daerah yang terletak 100 km di sebelah barat daya Baghdad. Sekilas daerah yang kini menjadi ibu kota provinsi al-Karbala di Irak ini tidak jauh beda dengan kota-kota lain pada umumnya. Namun, di balik itu semua tersimpan sejarah kelam bagi umat Islam tentang terbunuhnya sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. Tempat yang menjadi cikal bakal penamaan perayan Karbala ini menjadi saksi bisu pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku menjadi Syi’ah Ali (pengikut setia Ali bin Abi Thalib) terhadap cucu nabi beserta pengikutnya.

Lebih dari tiga belas abad yang lalu, tepatnya di bulan Muharram tahun 61 H, Husain bin Ali bin Abi Thalib beserta sanak keluarga dan pengikutnya terbunuh dalam pertempuran yang terjadi di Karbala. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah dan al-Kamil fi al-Tārikh oleh Ibnu Atsir, peristiwa ini (secara ringkas) bermula saat penduduk Kufah (Iraq) berulang kali mengirimkan surat dan utusannya kepada sahabat Husain. Dalam surat maupun utusan yang dikirim, mereka menyampaikan permintaan agar sahabat Husain bersedia datang ke Kufah untuk dibaiat menjadi khalifah. Mereka menyatakan bersedia menjadi pendukung setia sahabat Husain. Sebagaimana dahulu mereka juga berjanji demikian kepada ayahnya, Ali bin Abi Thalib, yang berujung dengan pengkhianatan.

Sebelum benar-benar berangkat menuju Kufah, sahabat Husain terlebih dahulu mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk memastikan kebenaran apa yang mereka sampaikan. Setelah mendapat kepastian dari sepupunya, sahabat Husain berangkat bersama keluarga dan pengikutnya menuju Kufah. Beberapa sahabat seperti Ibnu Abbas berusaha mencegah sahabat Husain untuk menuruti permintaan penduduk Kufah. Khawatir sahabat Husain mendapatkan pengkhiatan dari penduduk Kufah sebagaimana dahulu ayahnya, Ali bin Abi Thalib, pernah dikhianati. Beliau juga mengingatkan akan tabiat penduduk Kufah yang mudah berkhianat dan untuk tidak mudah percaya dengan janji-janji mereka. Namun, sahabat Husain teguh dengan pendiriannya untuk tetap berangkat ke Kufah bersama sanak keluarga dan pengikutnya.

Pada akhirnya, tepat di hari Jum’at hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriyah, sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib beserta mayoritas pengikutnya terbunuh di tanah Karbala oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Tidak ada satu pun dari penduduk Kufah yang semula memberikan dukungannya kepada beliau datang membantu. Bahkan Syamir bin Dzil Jausyan yang dahulu menjadi Syi’ah Ali (pengikut setia Ali bin Abi Thalib) justru menjadi komandan pasukan yang menumpahkan darah sahabat Husain dan pengikutnya tersebut. Syamir juga lah yang menghasut Ibnu Ziyad selaku gubernur Kufah untuk memberikan perintah membunuh sahabat Husain.

Pengkhianatan Syamir bin Dzil Jausyan terhadap sahabat Husain ini dibenarkan sendiri oleh kalangan Syi’ah. Salah satunya yang tertera dalam kitab Al-Amali karangan Ibnu Babawaih Ash-Shaduq. Disebutkan, “Maka sampailah berita kepada Ibnu Ziyad bahwasanya Umar bin Sa’d berbicara kepada Husain alaihissalam bahwa dia tidak ingin membunuh Husain. Maka Syamir bin Dzil Jausyan pergi memerangi Husain dengan membawa 4000 pasukan berkuda.” (Ash-Shaduq, Al-Amali, 220)

Tidak hanya Syamir, pengkhianatan yang dilakukan oleh penduduk Kufah yang dahulu menjadi Syi’ah Ali juga banyak disebutkan dan diakui kebenarannya oleh para ulama Syi’ah dalam buku-bukunya. Hal ini terlihat ketika sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib telah terbunuh oleh tangan mereka sendiri, selanjutnya mereka bersandiwara meratapi kematian sahabat Husain. Sandiwara ini kemudian tetap dipertahankan dan selalu diperingati tiap bulan tahunnya di bulan Muharram, yang dikenal dengan peringatan Karbala atau perayaan Asyura.

Sandiwara ini yang kemudian membuat Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib (Zainal Abidin) berkata, “Mereka menangis meratapi nasib kami, padahal siapa lagi yang membunuh kami kalau bukan mereka?” (Ath-Thabrasi, Al-Ihtijaj, 2/29) Ummu Kultsum ketika melihat orang-orang Syi’ah bersandiwara meratapi kematian sahabat Husain juga turut marah dan berkata, “Diamlah wahai penduduk Kufah. Suami-suami kalianlah yang telah membunuh kami. Tapi mengapa istri-istri kalian menangis meratapi kami?! Ketahuilah bahwa Hakim antara kami dan kalian pada hari kiamat kelak adalah Allah.” (Al-Majlisi, Biharul Anwar, 45/115)

Baca Juga: Konsep Islam dan Iman Muhammad Syahrur; (Studi Kritis)

Ritual Asyura
Kata Asyura sebenarnya mengacu pada hari kesepuluh bulan Muharram dalam kalender Hijriyah. Bulan Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan haram yang sangat dimuliakan. Pada bulan ini, umat Islam disunahkan memperbanyak amal shaleh dan meninggalkan kemaksiatan. Salah satu amal unggulan yang ada padanya adalah puasa Tasu’a dan Asyura. Yaitu puasa yang dilakukan pada hari kesembilan dan kesepuluh di bulan Muharram. Puasa Asyura inilah menjadi ritual tahunan yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Puasa Asyura mulai menjadi ritual rutin yang dirayakan umat Islam ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Kemudian beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa yang kalian puasai ini?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang sangat mulia, hari dimana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Oleh karena itu, Musa AS berpuasa pada hari tersebut sebagai rasa syukur kepada Allah, maka kami ikut berpuasa.” Kemudian Nabi bersabda, “Kami lebih berhak untuk mengikuti Nabi Musa AS daripada kalian.” Lalu Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. (HR. Bukhari & Muslim)

Berbeda dengan umat Islam, kalangan Syi’ah memanfaatkan momen ini untuk melakukan ritual yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ritual Asyura Syi’ah dilakukan dengan cara berziarah ke makam sahabat Husain, meratap, memukul-mukul dan melukai anggota badan dengan benda tajam atau semacamnya. Peringatan Karbala atau perayaan Asyura ini dilakukan untuk mengenang masa-masa sulit yang dahulu dihadapi sahabat Husain di Karbala. Dan juga sebagai bentuk rasa bersalah mereka karena tidak bisa membantu sahabat Husain menghadapi orang-orang yang mendzoliminya. Padahal, seperti yang telah kami paparkan di atas bahwa sebenarnya pembunuh sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang Syi’ah itu sendiri.

Salah satu cara mereka untuk melegetimasi ritual Asyura ini adalah dengan membuat hadits-hadits palsu. Diantaranya berbunyi, “Barang siapa menangis atau berusaha membuat dirinya menangis atas kematian Husain, maka Allah akan mengampuni segala dosanya, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan.” Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Barangsiapa menangis atau berusaha membuat dirinya menangis atas kematian Husain, wajib bagi dirinya mendapatkan surga.” (Al-Khurrul Amily, Wasāilu asy-Syi’ah)

Ritual memukul-mukul dan melukai diri sendiri dengan benda tajam akibat duka mendalam akan kehilangan seseorang adalah hal yang dilarang dalam Islam. Perbuatan ini disebut juga dengan niyahah yang tergolong ke dalam kategori dosa besar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Malik al-Asy’ari RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan; (1) membangga-banggakan kebesaran nasab, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah).” Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran ter (aspal), serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan perbuatan orang jahiliyah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Sampai sini jelas bahwa sebenarnya perayaan Asyura Syi’ah dengan berbagai ritualnya merupakan perbuatan yang tidak sesuai dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Apa yang mereka katakan mengenai ritual Asyura berupa manifestasi dari kesedihan dan penyesalan mereka karena tidak bisa membela sahabat Husain di tanah Karbala hanyalah sandiwara semata. Karena sejatinya mereka sendirilah yang berkhianat kepada sahabat Husain dan bahkan sampai dengan membunuhnya secara dzalim. Dan hal ini sudah diakui serta dibenarkan oleh ulama-ulama Syi’ah dalam literatur mereka. Maka tidak selayaknya umat Islam membenarkan ritual Asyura ini atau bahkan turut meramaikannya. Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XIII) Unida Gontor.
Ed. Admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.