pku.unida.gontor.ac.id- Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) kembali melaksanakan rutinitasnya. Selasa, 17/09 2019 M dalam mempelajari berbagai persoalan pemikiran Islam. Kali ini, agenda yang diikuti kajian rutin bedah buku Prologomena of Metaphysics al-Attas yang bertempat di “teras peradaban” lantai dua, gedung asrama Ali bin Abi Thalib.

Acara rutin yang diselenggarakan oleh pasca sarjana Universitas Darussalam Gontor ini merupakan salah satu agenda khusus yang mengkaji salah satu magnum opus Syed Naquib al-Attas. Acara ini juga diisi secara langsung oleh murid al-Attas, Dr. Hamid Fahmi Zarksyi, Ph.D.

Selaku pemateri, ustadz Hamid menjelaskan beberapa konsep kunci yang ditulis oleh al-Attas pada halaman 58-60. Setelah salah satu peserta membacakan teks buku itu dalam bahasa Inggris, beliau langsung menjelaskan maksud dari kalimat-kalimat yang telah dibacakan tersebut.

Pertama-tama, beliau menjelaskan tentang konsep manusia sebagai mahluk yang memiliki otoritas, setidaknya untuk dirinya sendiri. Otortitas terhadap diri sendiri ini direpresentasikan sebagai ‘alam ash-shaghir. Jika, dunia ini merupakan ‘alam al-Kabir yang Allah SWT merupakan rajanya.

Ustadz Hamid menyatakan lebih lanjut bahwa sejatinya manusia adalah mahluk yang istimewa. Bahkan al-Attas menyematkan kata “god created man his own image” dalam bukunya, ketika menjelaskan konsep manusia sebagai miniatur dari kerajaan alam. Namun, -menurut beliau- sayangnya manusia itu “dzaluman jahula”, sehingga menodai keistimewaannya sendiri.

Selanjutnya pembahasan beralih pada dua unsur yang membentuk manusia; jiwa dan badan. Mengenai hal ini al-Attas menjelasakan tentang tingkatan jiwa manusia. Yang paling tinggi adalah sifat rasional manusia, nafs an-Natiqah. Sedangkan yang paling rendah adalah sifat kebinatangannya, nafs al-Hayawan.
Kedua unsur ini ada dalam jiwa manusia. “Sebaik-baiknya manusia yang bisa menundukan nafs al-hayawan dengan nafs an-natiqah-nya. Dalam hadits, tak mungkin seseorang dalam keadaan beriman ketika dia melakukan maksiat karena menuruti hawa nafsunya.” Tutur ustadz Hamid.

“Oleh karena itu, kebebasan dalam Islam adalah kebebasan untuk menghamba; artinya, seseorang bisa dikatakan bebas jika memaksimalkan karakternya sebagai manusia yang natiqah dan terlepas dari belenggu sifat hayawan-nya.” Lanjut beliau.

Akhirnya acara yang berlangsung dari pukul 5.00-06.30 berakhir dengan khidmat. Kajian mingguan yang membedah salah satu buku al-Attas tersebut memberikan banyak ma’lumat kepada para peserta yang hadir di sana. Namun sebelum mengakhiri kajiannya, ada sebuah quotes indah dari ustadz Hamid Fahmi.
“Lebih baik menghadirkan sebatang lilin daripada melontarkan ribuan kutukan dalam kegelapan. Anda yang menyebarkan kebaikan-kebaikan sama dengan menyalakan lilin-lilin tersebut” begitulah nasihat berharga dari ustadz Hamid kepada semua peserta yang hadir di teras peradaban subuh tadi.[]

Rep. Fachri Khoerudin
Ed. Admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.